Belasan pasang mata di pusat perbelanjaan sore itu menikam saya, ketika suara batuk tiba-tiba menyembur dari mulutku. Serupa pekik takbir di tengah kerumunan non-muslim, mereka menatap sinis dan mungkin berpikir saya harus segera dihindari.

Tentu saja pikiran-pikiran itu hanya imajinasi buruk saya. Namun sungguh tidak menyenangkan berada dalam kondisi demikian. Tapi ya mau bagaimana lagi, sulit menyangkal jika korona telah memberikan pengaruh buruk di segala bidang kehidupan, termasuk hubungan sosial kita.

Namun, terlepas dari semua itu, kita harus yakin jika setiap musibah yang mewarnai kehidupan, ada hikmah yang bisa kita petik, termasuk musibah korona. Nggak percaya? Saya akan jelaskan beberapa di antaranya.

Kesadaran pentingnya menjaga kebersihan 

Salah satu tindakan pencegahan terhadap virus korona ialah menjaga pola hidup bersih, minimal rajin cuci tangan. Selama ini, nyaris di antara kita masih sulit menerapkan budaya ini. Saya sendiri bahkan baru paham tentang tata cara mencuci tangan yang baik dan benar. Ternyata ribetnya bukan main.

Saya kira cuci tangan, ya hanya sekadar ngasi sabun, digosok sekenanya, lalu dibilas deh, atau minimal celupin aja ke kobokan. Eh, ternyata menuntut gerakan terstruktur layaknya senam poco-poco. Hmmm

Meskipun anjuran cuci tangan sudah digaungkan sejak zaman Teletubbies, tetapi praktiknya baru benar-benar kita budayakan saat virus korona melanda. Dikit-dikit cuci tangan, dikit-dikit cuci tangan. Ngupil aja harus cuci tangan dulu. Eh, lama-lama tangan, kan, bisa keriting?

Akan tetapi, kegiatan cuci tangan yang dilakukan sesering mungkin ada nilai positifnya juga loh, manteman. Hal yang selama ini kita anggap sepele itu bisa menjadi kebiasaan, yang jika nggak dilakuin, maka rasa-rasanya ada yang kurang dari hidup kita.

Seperti kawan saya, saat saya tawari biskuit roma sandwich yang dikasi bapak-bapak TNI sehabis donor darah beberapa hari lalu, ngomong, "Harus cuci tangan dulu, euyy, soalnya sudah terbiasa."

Nah, karena terlalu kerajinan, kawan saya ini cuci tangan bukan lagi karena menganggap tangannya penuh kuman atau virus, tapi spontan karena sudah kebiasaan.

Jadi, hadirnya korona telah menciptakan kebiasaan cuci tangan yang jika terinternalisasi secara terus-menerus, akan tertanam di alam bawah sadar dan menjadi habitus yang bernilai positif bahkan ketika pendemi ini berakhir.

Membuat hubungan suami-istri makin erat, dengan mengenal pekerjaan domestik pasangannya

Suami yang selama ini lebih sibuk nyari nafkah di luar rumah, tidak bisa memantau kegiatan domestik sang istri, membuat beberapa di antara mereka sulit mengadopsi pikiran, "tidak semudah itu menjadi Ibu rumah tangga, ferguso."

Nah, coba anda bayangkan, jika seorang istri ketika bangun pagi udah langsung bergumul dengan hiruk-pikuk rumah tangga; masak, bersihin rumah, nyapu, ngepel, nyuci piring dan pakaian, nyetrika, belum lagi ngurusin anak yang sedang dalam proses pertumbuhan pasti aktif banget, sehingga butuh ekstra pengawasan.

Dengan beban sebesar itu, pasti tidak mudah melakoni peran sebagai seorang ibu rumah tangga, apalagi teruntuk suami yang selama ini tidak mengenal pekerjaan domestik istrinya lantas seenak upilnya berkomentar, kamu gak bisa ngurusin penapilan-lah, tidak wangi-lah, tidak menarik-lah, dan lain-lain-lah.

Anjuran berada di #rumahaja sebagai upaya memutus rantai penularan virus korona, setidaknya membuat para suami bisa mengenal pekerjaan domestik istrinya sehingga mereka sadar jika melakoni pekerjaan ibu rumah tangga, tidak seenteng yang mereka pikirkan.

Memberi kesempatan bumi untuk bersantuy

Hadirnya korona mendorong manusia mengurangi aktivitas di luar rumah. Hal ini berdampak pada relatif berkurangnya mobilitas masyarakat global.

Kendaraan yang melaju berkurang drastis, serta berhentinya pabrik-pabrik industri yang menjadi penyumbang dominan emisi penyebab polusi udara, sehingga berimbas pada kualitas udara yang makin baik.

Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan di Columbia University, misalnya, menyebutkan, jika selama merebaknya virus korona, emisi karbon dioksida yang dihasilkan kendaraan turun sekitar 50 persen dalam beberapa hari saja.

Hal serupa juga disampaikan organisasi lingkungan International Greenpeace jika virus korona memberikan dampak negatif bagi perdagangan dan ekonomi, menyebabkan kegiatan industri tertahan, polusi industri berkurang, dan kualitas lingkungan hidup meningkat.

Nah, begini, kan, lebih nyaman? Daripada tiap hari nyium bau asap knalpot yang mengepul lewat buntut kendaraan, bisa bikin puyeng. Apalagi kondisi saat ini menuntut kita untuk tidak stres, agar sistem imun bisa bekerja semaksimal mungkin.

Ketersediaan udara yang segar tentu membuat pikiran lebih jernih, bumi santuy, kita pun feeling good.

Lebih memaknai pertemuan

Untuk memutus mata rantai penularan virus korona, pemerintah telah menerapkan kebijakan pembatasan ruang gerak, baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar.

Tujuan kebijakan ini ialah agar masyarakat berdiam diri #dirumahaja. Kebiasaan ngumpul bareng teman-sahabat harus ditiadakan sementara waktu. Bagi yang merantau jauh, ngumpul sama keluarga harus ditunda meskipun lagi kangen-kangennya, apalagi yang punya gebetan harus sedia celengan rindu.

Kondisi seperti ini akan membuat kalian rindu dengan momen saat ngumpul bareng, apalagi bagi mereka yang nyaris tak memiliki waktu yang dihabiskan bersama secara berkualitas.

Meskipun saling berdekatan, tetapi kenyataannya kita lebih sering menunduk sambil sibuk memainkan smartphone masing-masing; yang satu lebih sibuk ngepoin akun medsos seseorang dan satunya lebih sibuk bermain game; yang satu lebih sibuk nonton YouTube, dan satunya lagi lebih sibuk gibahin orang di WAG; lantas apa makna pertemuan?

Coba bayangkan berapa momen kebersamaan yang kalian lewatkan dan diambil alih oleh sebuah teknologi lengkap dengan segala bujuk kesenangannya.

Meskipun wabah korona bukanlah pertanda akhir dari kehidupan, bukan berarti terakhir kalinya kalian haha-hihi dengan teman-sahabat, bukan terakhir kalinya kalian ngumpul dengan orang terkasih ataupun keluarga, tapi paling tidak kalian bisa memahami jika waktu sangat berharga sehingga tidak bisa kita lewatkan begitu saja.

Mentalitas rekreasi bagi kaum pekerja lembur

Nah, yang terakhir, jika anda merasa suntuk bekerja, apalagi bagi kalian yang termasuk pekerja kantoran yang sering lembur, maka pada momen inilah mentalitas kerja anda memperoleh rekreasi.

Kalian yang selama ini cenderung berangkat kerja dari pagi dan pulang ketika malam suntuk, tentu tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga sehingga kurangnya waktu berkualitas yang bisa kalian nikmati.

Merebaknya virus korona membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan work from home (WFH) bagi pekerja kantoran, agar sementara waktu bekerja #dirumahaja. Tentu bagi mereka yang selama ini sibuk bekerja di kantor bisa menghabiskan masa kerja sambil rebahan atau melakukan kegiatan positif bersama keluarga di sela waktu kerja.

Jika suntuk dengan pekerjaan, bisa main kuda-kudaan dengan si buah hati. Nah, jika sudah bosan dengan si buah hati, kan bisa main kuda-kudaan dengan ibu si buah hati?