Beberapa bulan setelah membaca 21 Lessons for 21 Century (2018) karya Harari, saya tebersit untuk menulis opini ini. Harari dalam salah satu bab menulis tentang otoritarianisme digital. Kental dengan gaya khas futurologi. Poin utamanya bicara tentang pengelolaan (penguasaan) big data dan saluran informasi di tangan sekelompok orang yang berkuasa. 

Dengan pelan ia beranalogi, "Pada Maret 2018, saya lebih suka memberikan data saya kepada Mark Zuckerberg daripada Vladimir Putin." 

Harari ingin menggambarkan bagaimana pengaturan kepemilikan data menjadi sesuatu yang berharga di abad-21. Data-data pribadi itu sangat berguna bagi sejumlah bisnis, termasuk kekuasaan. Ia juga mencontohkan skandal Cambridge Analytica yang memanipulasi data pribadi publik.

Membaca Harari seyogianya tak bisa terlepas dari memahami Daniel Bell. Bell pada 1973 menulis tentang The Coming of Post-Industrial. Ia meramal tentang dua perubahan peradaban umat manusia. 

Menurutnya, pada masyarakat industri, peradaban manusia dibangun dengan orientasi materi, seperti uang, jasa, dan mesin produksi. Siapa yang memiliki mesin, maka dia bisa mengumpulkan uang dan mengendalikan aktivitas ekonomi. 

Sedangkan pada masyarakat post-industri, manusia kemudian bertarung dan memperebutkan perangkat-perangkat non-materi, seperti informasi dan pengetahuan. Siapa yang menguasai informasi dan pengatahuan, maka dia mengendalikan dunia. Termasuk mengendalikan mesin-mesin produksi dengan mudahnya. 

Untuk memperoleh uang? Itu mudah. Tentu dengan bekal pengetahuan dan informasi. Fenomena para Youtuber seperti Atta Halilintar dan Ria Ricis cukuplah menjadi contoh sederhana. 

Tentu, selain Bell, banyak futurolog yang turut memprediksi perubahan masyarakat digital. Sebut saja McLuchan, Alvin Toffler, John Naisbit, dan lainnya. Ramalan Bell baru terbukti setelah dia meninggal. Bahkan sekarang, ramalan-ramalan Bell itu ada di tengah-tengah kita.

Rasanya Yuah Noval Harari kemudian mem-break-down argument Bell tersebut. Ia menambah satu fase pra-industrial. Menurutnya, sebagai fase agraris, di sana terjadi perebutan hak materi juga seperti tanah. 

Hasil perebutannya menyisahkan pembelahan sosial berupa kaum bangsawan dan pemilik tanah. Fase industrial membelah dua pembedaan, pemilik mesin produksi (borjuasi) dan kelas karyawan (proletar). Fase pasca industri (informatif) terjadi pembelahan sekelompok kecil sapiens pengendali informasi, dan kelas bawah mayor yang tergantung pada informasi tersebut.

Dari semua ulasan tersebut, ruang informasi di era sekarang adalah ruang terbuka bebas, yang bisa memaksa siapa saja untuk datang mengelolanya. Asalkan ia punya perangkat informasi dan pengetahuan. 

Semua orang bahkan bisa didudukkan setara dalam ruang informasi tersebut. Anda mungkin tak perlu mengenal apakah seorang itu profesor atau bukan, namun Anda bisa berinteraksi dengannya di lini media sosial dengan status yang setara, meskipun Anda sama sekali tak punya keahlian itu. Itulah kondisi dunia informasi kita saat ini.

Tapi dalam ruang-ruang yang tanpa ruang itu, laju informasi selalu menyisakan sekelumit perdebatan. Tentu saja. 

Laju informasi menuntut sekaligus menyisakan sejumlah dampak. Laju informasi menuntut segalanya disesuaikan dan bisa dinikmati tanpa terbatasi sekat ruang dan waktu. Laju informasi masuk sampai ke sudut-sudut kamar manusia, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Hoaks, post-truth, truth-claim, disrupsi, bahkan prejudice (sikap saling curiga) hadir dari terlalu lajunya lalu lintas informasi. Seorang Amerika, Tom Nicols (dalam The Death of Expertise, 2018), mengingatkan petuahnya, “seorang merasa telah pandai berenang hanya karena basah kena air hujan.” 

Nichols seyogianya ingin menjelaskan sikap truth claim yang membunuh keahlian (expertise) seseorang. Semua orang merasa dirinya tahu, dan bahkan dengan bebasnya bisa melakukan klaim, menghina, mencibir, dan berbohong hanya karena perspektifnya. Argumen, keahlian, dan data-data rasanya tak diperlukan sebagai referensi. 

Ini akibat lain dari terbukanya akses ke saluran informasi seperti Google, Baidu, Chrome, Internet Explorer, dan mesin pencari lainnya. Syaratnya cukup punya smartphone dan mengetik sejumlah algoritme di mesin pencari. Anda kemudian diantar berselancar di lautan informasi, mulai dari hoaks sampai kebenaran; mulai dari klaim sampai keyakinan. Sakit berlimpah-ruahnya informasi, tak jarang disrupsi, kemarahan hingga cibiran pun turut dari belakang.

Ini adalah gambaran dari lajunya informasi. Sebuah perkembangan yang melejit jauh berbekal algoritme dan kemajuan Artificial Inteligence (AI). Hampir semua lini kehidupan manusia merasakan sensasinya. Tak terkecuali agama.

Digitalisasi Agama

Agama yang semula kental sebagai sudut asketis dan pengembaraan langit, mau tak mau, dipaksa keluar dan menimati pesta informasi. Dahsyat. Bahkan tak jarang lautan video ceramah agama kerap membanjiri YouTube dan media sosial. 

Mulai dari tutorial berhijab, cara beribadah, merayakan natal, mengeluarkan bantuan, hingga memuji Tuhan. Kumpulan doa, kidung rohani dan ketenangan jiwa bahkan dicari di sana. Agama mau tak mau harus "menjadi sekuler" untuk tetap hidup.

Tentu para konsumen tidak sendiri, di sana ada sejumlah pemuka agama yang stay tune menyetel ceramahnya 1 x 24 jam. Ada team audio-visual yang tau menyetel musik-musik rohani dan instrumen religi untuk memberi pertaubatan atau sekadar memengaruhi emosi seseorang dalam mengenal agama dan tata cara beribadah melalui video-video pendek hingga ceramah. 

Lewat buku Post-Realitas (2004), selain tubuh sebagai pusat kebudayaan abad-21, Prof. Yasraf Amir Piliang pun berpendapat: media elektronik seperti kotak kejiwaan.

Perubahan yang drastis itu mengharuskan agama harus berubah. Agama tak bisa mengakomodasi sisi asketis saja, melainkan juga sisi sekular. Agama dipaksa untuk meninggalkan jejaknya di gurun pasir nan tandus, ke ruang digital yang ramai

Semua orang kemudian bebas untuk mengakses dan berinteraksi dengan siapa saja tanpa sekat. Saking bebasnya, apa yang terlintas di benaknya secara otomatis ter-update di wall media sosialnya.

Kebebasan Akses dan Kecurigaan Sosial

Namun apakah kebebasan mengakses itu menjamin terhapusnya semua sekat-sekat sosial secara masif? Tidak. Sekat-sekat sosial di dunia maya hanya mendudukkan semua orang setara di wall media sosial, tetapi tetap menempatkan siapa yang menjadi pengendali informasi (rulling) dan siapa yang jadi target informasi (rulled)

Tak jarang mereka yang menjadi target inilah yang terpapar arus informasi, baik berupa hasutan dan ujaran kebencian. Semua pola informasi itu pun dikemudikan untuk mengusahakan kekerasan dan memancing kegaduhan terjadi di publik. Baik atas nama agama maupun etnis.

Kebebasan digital pun memunculkan “kelas-kelas” sosial baru yang mengasosiasikan seseorang ke dalam grup-grup facebook, whatsapp. Informasi pun dipilah tersebar berdasarkan bit-bit itu. 

Agama pun demikian. Aliran keberagaman dan model informasinya pun dipilah dan tersebar ke grup-grup whatsapp. Orang pun memilih setiap informasi untuk dipercaya berdasarkan afiliasi keagamaan dan juga grup whatsapp. 

Siklus ini menjadi rumit jika berkelindan dengan kontestasi politik. Setiap agama yang punya aliran tersendiri membentuk grup media sosialnya masing-masing, lalu membatasi arus informasi berdasarkan afiliasi politiknya sendiri-sendiri. 

Informasi dari si A, meskipun benar, ia tidak dilihat kebenarannya, melainkan disampaikan oleh afiliasi politik dan alirag keagamaan yang mana. Ia tidak saja membatasi sekat diskusinya dengan aliran yang berbeda dengannya di grup-grup daring tersebut, melainkan mengeklaim kebenaran dan pembedaan berdasarkan garis politik dan aliran agamanya.

Mereka, orang-orang yang berada dalam grup itu, sering kali berantam, lalu left meninggalkan grup, atau bahkan berujung pada konflik fisik.

Meskipun demikian, rasanya ada sesuatu yang menarik, orang-orang yang mengisi grup-grup itu tidak begitu mencurigai grup lain yang memiliki perspektif dan aliran agama yang berbeda dengan dirinya. Paling mungkin, konflik dan kecurigaan tersebut hanya terjadi di dunia sosial. Di sinilah pentingnya kehadiran teknlogi untuk menepis kecurigaan sosial di dunia nyata.

Teknologi adalah cara yang ditemukan untuk membantu tugas-tugas manusia. Teknologi memberi kebebasan akses serta memudahkan orang untuk berinteraksi. Ia bahkan berkontribusi untuk mempersempit jurang sosial diantara masyarakat akibat ekslusivitas dan sikap saling curiga.

Baik ritual agama maupun isi ceramah disampaikan dalam komunitas agama tertentu,
kadang menimbulkan sikap saling curiga dari agama lain yang tak sempat mendengarnya. Sebaliknya, sikap sinis dan penuh curiga pun muncul tatkala seseorang mendengar bahwa seseorang berbeda agama dengannya. 

Mulai dengan mencurigai makanannya, keringat hingga cara memegang tangan. Selalu saja ada apriori, jangan-jangan khotbah dan ceramahnya menjelek-jelekkan agama kita, jangan-jangan mereka mengharuskan perang, membuat bom, menyediakan makanan haram bagi kita, mensekulerkan kita, memurtadkan kita, membangun misinya. Rupa-rupa sikap saling curiga (prejudice) itu datang silih berganti.

Di sinilah sebenarnya pentingnya peran teknologi dalam agama. Teknologi harus datang dan menjawab sejumlah kecurigaan tersebut. Teknologi dapat membantu ceramah-ceramah rohani yang semula hanya berlangsung di internal komunitas agama saja agar bisa diakses juga oleh komunitas agama lain yang berbeda dengannya. 

Teknologi digital penting untuk menghubungkan komunitas-komunitas agama dalam menepis kecurigaan. Dengan begitu, komunitas agama lain yang semula menaruh curiga dengan sejumlah ceramah-ceramah internal tadi, menjadi sadar karena akses informasi yang diperolehnya secara langsung. Baik berkat video, audio record maupun audio-visual yang ia terima dari perangkat digitalnya.

Model beragama di era digital bisa mempertimbangkan kemajuan terknologi untuk menghapus jurang kecurigaan (prejudice) itu. 

Pesan-pesan kesejukan dari berbagai agama juga bisa dipertukarkan dengan leluasa dan nyaman via teknologi. Orang tak perlu lagi takut bahwa sisi keberagamaannya akan hilang jika ceramah agamanya didengar oleh orang lain. Sepanjang yang diceramahkan adalah sesuatu yang bermanfaat, berdampak baik, dan menyejukkan, kenapa mesti takut untuk diakses oleh orang yang berbeda?

Apalagi agama manapun kerap menghadirkan kesejukan-kesejukan itu. Yang membuatnya menjadi tak sejuk justru adalah tindakan penganut agamanya. Dengan demikian, tak salah juga jika sisi kesejukan masing-masing agama tersebut bisa disampaikan secara terbuka, dan bisa diakses oleh semua orang dengan memfungsikan perangkat teknologi. 

Khotbah-khotbah religi di masing-masing agama kiranya bisa mempertimbangkan alternatif ini. Sehingga khotbah tersebut juga bisa punya nilai sosial karena memiliki average yang luas. Ia tidak menjadi konsumsi internal saja. 

Meskipun tidak diyakini oleh komunitas agama lain, ia juga bisa menjadi pesan moral dan memperpendek jurang kecurigaan antar agama. Setidaknya penganut agama lain tahu saja bahwa tak ada kekerasan, penghinaan, dan kebencian dalam khotbah atau ceramahnya saja sudah sangat membantu mempersempit jurang kecurigaan itu.

Bagaimana ceramah-ceramah agama itu kemudian menjadi konsumsi publik, baik melalui live facebook, dokumentasi digital youtube, dan lainnya, sehingga tidak ada ruang curiga bagi masing-masing agama karena menumbuhkan ekslusivitas di internal agamanya saja.

Para pemuka agama tak perlu takut untuk menyampaikan ceramah agamanya untuk disiarkan langsung ke publik, sepanjang yang disampaikan baik, punya dasar yang kuat dan menyejukkan. 

Kita sudah bersepakat di atas bahwa hal mendasar agama mana pun selalu menekankan pada kesejukan. Tapi mengapa hubungan antaragama kini tak menjadi sejuk?

Itu persoalan lain dari menguatnya sikap saling curiga para penganutnya. Salah satunya, karena penganut agama yang satu tak pernah mengetahui isi ceramah agama yang lain. Yang terjadi justru, penganut agama yang satu menaruh curiga terhadap isi ceramah agama lain.

Kita tak bisa meremehkan sikap saling curiga. Dari sikap-sikap saling curiga itu, para penganut agama kemudian tergerak memutar turbin kebencian, penghinaan dan pencemaran di internal agamanya. Turbin itu diputar berulang-ulang dengan alibi untuk meningkatkan iman dan ketakwaan penganut agamanya. Atau dengan alasan hanya menjadi konsumsi ekslusif agamanya saja. 

Mengapa peningkatan keimanan dan ketakwaan mesti dilakukan dengan kebencian? Bukankah alangkah baiknya peningkatan iman dan takwa itu dilakukan dengan “memutar turbin” yang sejuk di internal agama masing-masing? Rasanya, untuk menjadi suci, para penganut agama sering kali bertindak hina dengan alibi-alibi seperti ini.

Padahal, tanpa sadar, putaran turbin-turbin itu kemudian menjadi semacam api mendekat ke sekam. Ia dipendam di ruang publik, tapi dinyalakan di ruang privat. 

Orang kemudian beragama dalam dualitas yang kurang jujur. Membenci kala di majelis dan jemaatnya, namun tampil manis di ruang publik menjadi sok toleran. Perdamaian pun dipraktikkan di permukaan tanpa penubuhan pada tindakan keseharian. Banyak sikap toleransi seremonial muncul di sini.

Rasanya kita perlu beragama dengan berlaku jujur sekaligus mengisi ruang kecurigaan ini. Teknologi digital untuk khutbah digital adalah langkah kecil yang perlu dirumuskan untuk menjembatani sikap-sikap saling curiga tersebut. 

Terlebih lagi untuk menjembatani jurang agama-agama itu. Semua pemuka agama kemudian datang ke mimbarnya masing-masing dan menyampaikan sejumlah ceramah agamanya dengan penuh sejuk untuk "dipertukarkan" dan "dinikmati" kapan saja secara daring oleh siapa saja.

Hans Kung pernah berujar, tak ada perdamaian agama-agama tanpa dialog antar agama-agama. 

Rasanya juga, teknologi yang menjembatani khotbah dan ceramah yang kelak dapat bertukar dengan sejuk antar para penganut agama itu adalah bentuk lain dari dialog antar agama-agama di era digital untuk menjembatani kecurigaan-kecurigaan itu. Mengakui bahwa kita adalah realitas yang plural saja tidak cukup. Kita semua butuh dialog-dialog untuk menepis mental saling curiga itu. 

Sekali lagi, sikap saling curiga (prejudice) adalah api. Apalagi jika kecurigaan itu dibangun dengan dalih kesucian. Saya perlu mengulanginya lagi dengan bahasa lain, sekam yang terbakar bermulai dari api yang disimpan rapat-rapat di dalamnya.