Ada yang bilang "Biarkan waktu menghapus segalanya", ternyata kalimat itu tidak bekerja dengan baik untuk diriku. Sebelas tahun sudah terlewati, rindu masih bersemayam dalam kalbu. Senyumnya masih tergambar jelas dalam benak, setiap detail lekuk garis raut mukanya masih tersimpan rapi dalam sudut ruang otak. 


Tidak ada yang tahu kehidupan akan mengantar kita ke mana, setelah puluhan tahun, hidup memberi kejutan kecil mempertemukanku dengan dirinya.

"Bagaimana kabarmu?" Suara Sekar masih terdengar lembut. 

Bahkan aku masih menghirup aroma parfum yang sama, mendengar intonasi suara yang sama, tetapi ada satu hal yang tidak lagi sama, rambutnya tidak terlihat. Kini ia menutupinya dengan kain, sesuatu yang pernah kuminta darinya dulu saat kita masih bersama. 


Butuh beberapa detik hingga aku mampu untuk menjawab "Kabar ku baik, kok kamu bisa di sini?" Aku seakan berada di tempat asing dan sepi, hingga tidak bisa mengontrol diri. 

"Bukannya ini tempat belanja umum ya? Pampers anakku habis, ini mini market terdekat dari rumahku." 


Astaga, sudah berapa ratus kali aku melintasi jalan ini? Baru sekarang waktu mempertemukan kami. 


Rasa damai masih terasa bersamaan dengan datangnya suara itu, tidak ada indikasi merasa terancam atau mengelak dari sesuatu. Kini wajahku yang tidak bisa ku gambarkan dengan jelas, antara senang atau salah tingkah, grogi atau kehilangan orientasi diri? 

Pertemuan itu bagai kilatan cahaya yang disertai petir di tengah mendung yang mendominasi birunya keagungan langit. Menyilaukan, mengagetkan, mencuri perhatian, tetapi juga sekaligus pertanda akan terjadi hujan yang deras dan menyita waktu yang panjang. 


Aku sengaja memberi jarak dengan sedikit waktu untuk mendeteksi dua hal, satu apakah dia akan tetap berada di depanku? Kedua aku ingin mengendalikan laju jalan pikiranku. Setelah mengetahui dia menahan diri, aku mulai mencoba berkomunikasi. 


"Anakmu sudah berapa bulan?"

"Baru 16 bulan." Jawabnya pendek

"Cowok apa cewek?" 

"Cowok" 

"Wah ganteng pasti." 

"Harus dong." Nada itu menyiratkan bahwa suaminya adalah kualitas terbaik, hingga menjadi jaminan anak turunannya juga yang terbaik. 

Aku memperhatikan setiap detail dari penampilannya. Kini ia terlihat lebih elegan dengan pilihan bajunya, polesan make up tipis yang berkelas, serta lebih luwes dalam tindakan. Itu menunjukkan satu hal, kini ia sudah berada di kelas yang berbeda. 


Beberapa menit di depannya menyadarkanku akan satu hal, apapun yang terjadi hari ini adalah yang terbaik untuk kami berdua. Dulu aku tersiksa ditinggalkan olehnya, tapi kini terasa berbeda. Aku mampu merasakan kebahagiaan, bahagia untuk kebahagiaannya. Senyum yang terlihat begitu tulus dan alami, menjelaskan banyak hal. Salah satunya adalah dia sangat bangga dan menyayangi keluarga kecilnya. 


Mengagumi raga dan sikapnya mungkin masih akan menjadi kegiatan rutin bagiku, tapi keinginan untuk memiliki aku singkirkan mulai hari ini. Karena aku yakin ini adalah yang terbaik untukku dan untuknya. Dulu aku pikir setiap bayangannya melintas dalam benakku, itu adalah gelora untuk memilikinya. Ternyata aku salah, sekarang aku mengerti bahwa perasaan itu hanyalah rindu.


"Sepertinya kamu mendapatkan pekerjaan yang baik." Dia menatap balik. Senyumnya terlihat jelas saat mengatakan kalimat itu, nada bicaranya terdengar terkesan. 

"Terima kasih." Aku menunduk dalam. "Aku masih memegang teguh saranmu." 

"Saran apa?" Ia mengangkat satu alisnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. 

"Memperbaiki diri setiap hari, dan selalu mengejar mimpi" Aku diam sejenak, untuk mengatur tempo pembicaraan, "Terima kasih, saranmu mengantarkan ku sampai pada titik ini." 

Senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya, ia berikan kepadaku sore itu. "Aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kesejahteraan mu. Senang bisa bertemu denganmu hari ini." Ia diam sejenak, kemudian melanjutkan "Ya, semoga semakin sukses ya. Titip salam buat keluarga." Dia menutup pembicaraan sore itu dengan senyum sempurna dengan bingkai wajah yang berbeda. Jilbab menutup rapat rapi rambutnya. 


"Oh iya." Dia berbalik setelah beberapa langkah, "Kalau ada apa-apa kabari ya. Putus dari sepasang kekasih bukan berarti putus dari menjadi manusia normal. Aku tetap butuh orang lain di dunia ini, aku yakin begitu juga kamu. Semoga kita masih bisa tetap menjadi saudara sesama umat manusia." Dia tersenyum geli setelah mengatakan itu, aku pun tersenyum mendengar penuturannya, bukan hanya terlihat damai tetapi juga terlihat lebih tulus dalam dia menyampaikan perasaannya. 

"Oh iya tentu, kita masih menjadi manusia. Mari menjadi manusia sewajarnya." Setelah menjawab aku berikan senyum terbaikku untuknya.


Pertemuan itu diakhiri dengan lambaian tangan darinya. Senyum yang aku lihat sekarang berbeda dengan senyum yang selalu aku ingat dalam ingatan. Dulu senyum itu mengusik tetapi sekarang senyum itu menenangkan. Rinduku sudah terbayar, begitu juga pertanyaanku. 


Ternyata aku sudah tidak ingin memilikinya, aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya.