Beberapa hari yang lalu saya melihat seorang netizen yang mengomel tentang betapa buruknya tayangan televisi di Indonesia. Menurutnya banyak tayangan tersebut yang tidak bermanfaat dan terlalu banyak sensor. Akhirnya dia pun lebih memilih menonton film atau serial televisi luar negeri. Ironisnya, dia yang mengomel tentang kebermanfaatan itu justru merugikan orang lain dengan menonton tayangan dari situs film bajakan.

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa televisi merupakan media yang masih menjadi pilihan utama rakyat Indonesia. Meskipun saat ini media sosial dianggap sebagai media yang terbaru dan media lama ditinggalkan, faktanya televisi masih menjadi juara. 

Berdasarkan data Katadata.id pada awal 2020, televisi masih menjadi media yang paling banyak dikonsumsi oleh milenial Indonesia. Jumlahnya bukan main-main, 89%.

Mungkin selama ini kita hanya menganggap milenial adalah anak muda enerjik yang hidup di perkotaan. Namun, milenial tidak dikategorikan dari kota atau desa, bukan dari akses internetnya, tapi dari segi usianya. Anggapan media lama ditinggalkan ini sepertinya datang dari kelompok yang memiliki gadget akses internet. Tapi, ingatlah bahwa bagi banyak orang, membeli makan lebih utama daripada mebeli kuota.

Salah satu momentum besar yang menyoroti bahwa televisi sudah ditinggalkan adalah viralnya konten “Youtube lebih dari TV” yang dibuat oleh kolaborasi beberapa Youtuber ternama. Maka, para netizen pun ramai-ramai merespons dengan mengutuk televisi dan mengagung-agungkan YouTube. Mereka seolah lupa bahwa akses internet dan Youtube itu hanya berlaku bagi mereka yang memiliki uang untuk membeli kuota.

Meskipun terdapat banyak definisi mengenai milenial, namun semuanya sepakat bahwa milenial merupakan generasi muda. Generasi muda ini oleh media massa maupun media online sering direpresentasikan sebagai generasi urban yang sangat dekat dengan media baru. Padahal, apabila dipandang secara lebih luas, tidak semua anak muda di negeri ini memiliki akses internet, apalagi sampai aktif bermain Tik-Tok misalnya.

Sebelumnya kita telah memahami bahwa faktanya televisi masih menjadi juara di persaingan media di Indonesia. Karena itu wajar apabila televisi masih digemari oleh pemasang iklan. Hal itu juga yang menyebabkan pihak televisi masih mementingkan rating dalam membuat program-programnya. Salah satu efeknya adalah munculnya berbagai tayangan yang dianggap tidak bermanfaat tersebut.

Terlepas dari apakah tayangan yang dituduh buruk itu benar atau tidak, masih banyak tayangan televisi yang bermanfaat. Hanya saja, orang yang mengkritik televisi ini justru lebih sering membuka YouTube daripada televisi itu sendiri, sehingga ia sama sekali tidak mengenal televisi. Gambaran mengenai televisi yang mereka tahu kebanyakan dari meme atau shitpost yang beredar. Tidak heran kalau yang mereka lihat hanya sisi negatifnya saja.

Selain itu, manfaat tidak bisa hanya dilihat dari kategori konten, misalnya hanya edukasi yang dianggap bermanfaat. Konten hiburan pun bisa bermanfaat bagi orang-orang yang penat dengan kesibukan sehari-hari. Bagi sebagian orang, acara televisi yang isinya komedi slapstick mungkin dianggap sampah, tapi bagi sebagian lain yang mencari hiburan yang sederhana, tayangan itu sudah sangat menghibur.

Tayangan anak di televisi nasional pun masih terbilang banyak dan beragam. Selain itu sekarang ini sudah banyak muncul film kartun dari Jepang (anime) yang kemudian disulih suara ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya adalah My Hero Academia yang tayang di RTV mulai 18 Juli kemarin. Hal ini menunjukkan bahwa televisi masih ada dan hadir di hadapan anak-anak Indonesia.

Serbuan kritik justru datang dari penggemar anime yang sudah menonton versi aslinya dengan bahasa jepang. Mereka menganggap anime yang ditayangkan di RTV tersebut tidak murni lagi. Mereka menuntut stasiun televisi menayangkan versi aslinya dengan bahasa Jepang dan tanpa sensor. Mereka lagi-lagi menambahkan kartun tersebut sebagai salah satu contoh keburukan tayangan televisi Indonesia.

Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata mereka yang mengaku fans berat anime tersebut kebanyakan hanya menonton anime di situs bajakan. Dalam dunia per-anime-an dikenal istilah fansub. Fansub adalah sebuah website yang menyediakan konten anime bajakan yang biasanya diambil langsung dari internet dengan cara ilegal. 

Mereka menayangkan anime dari Jepang yang aslinya berbayar secara gratis di fansub tersebut. Fansub ini pulalah yang membuat subtitel bahasa Indonesia pada anime bajakan tersebut.

Saya kemudian tertawa dalam hati, mereka ini merasa sebagai orang yang paling benar dengan mengatakan konten televisi itu sampah, sementara mereka sendiri mendapatkan konten yang menurut mereka bukan sampah tapi dengan cara sampah. Ini adalah potret yang terjadi di dunia media sosial saat ini. Banyak netizen yang mengkritik televisi, tapi mereka sendiri malah mendukung tayangan ilegal.

Fenomena ini merupakan salah satu bukti bahwa rakyat Indonesia belum siap menerima perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Kebebasan mengkritik serampangan di media online juga memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia seperti menerima kekuatan yang terlalu besar, namun dengan mental yang belum siap. Saya teringat kutipan paman Ben di film Spiderman, great power comes great responsibility.