Belakangan ini di berita saya menemukan beberapa artikel maupun video perseteruan antara sebuah perusahaan jasa proteksi dengan nasabahnya. Saya yang awalnya tidak acuh terhadap kasus kasus serupa, menjadi tertarik untuk mendalami, di samping ada dua orang rekan yang memang sedang mendekati saya dan mengajak untuk membeli produk dari perusahaan mereka.

Saya membacanya harus ekstra hati hati, mengingat begitu banyak kasus di media online sekarang yang jikalau tidak kita baca dengan seksama dan menggunakan nalar, maka bisa terjebak di dalam argumentasi maupun kesimpulan yang salah.

Asuransi, sebenarnya produk apa? Mari kita telaah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah Perjanjian antara dua pihak, pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

Berarti di mana salah satu pihak menitipkan resiko kepada pihak yang lainnya dengan membayarkan sejumlah iuran. Pada saat resiko tersebut terjadi, maka pihak yang dititipkan harus membayarkan sejumlah uang yang telah disepakati dari awal.

Resikonya apa saja? Macam-macam, mulai dari sakit atau ketidakmampuan untuk mencari nafkah, akibat kecelakaan maupun sakit keras sampai dengan resiko kehilangan nyawa.

Lalu mengapa terjadi sengketa? Jikalau di awal ada kesepakatan antara kedua pihak tersebut? Nah di sini letak permasalahannya. Saya bukan ahli asuransi dan mengerti secara dalam akan asuransi, tetapi menurut saya ada beberapa hal yang menyebabkan pertikaian tersebut.

Pertama, kurangnya edukasi mengenai asuransi itu sendiri. Apa sih sebetulnya fungsi asuransi? Buat apa seseorang membeli polis asuransi? Kapan dibutuhkan? Kapan harus dibeli? Dalam kondisi apa seseorang harus memiliki asuransi? Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya jarang di telaah atau dipahami terlebih dahulu.

Seringkali orang menutup diri terhadap produk asuransi karena ketidakpahaman akan hal-hal di atas. Jadi kalau ada agent asuransi menawarkan, wah biasanya langsung deh mind blok nya muncul. Ini juga terjadi pada saya dulu, sebab yang terpikirkan adalah ; “ ini orang pasti mau duit saya nih” hahahaha sebegitu antipatinya.

Tetapi perlahan berbagai pengalamanan hidup mengajarkan bahwa, bisa jadi memang orang yang menawarkan produk asuransi memang membutuhkan uang karena dia menjual produk jadi ya wajar saja. namanya juga jual beli. Hanya saja, produk yang kita beli akan memberikan manfaat pada saat dibutuhkan. Tidak pada saat kita membeli, tapi pada saat dibutuhkan yang hanya saja waktunya tidak bisa kita prediksikan maupun rencanakan.

Jadi, masa atau jangka waktu proteksi tersebut disepakati di awal, dan bila resiko terjadi di antara jangka waktu tersebut, maka pihak penjamin resiko wajib membayarkan sejumlah uang kepada penitip resiko.

Penyebab kedua, bisa jadi seseorang mengerti fungsi asuransi dan kemudian membeli produk tersebut, ada hal-hal yang tidak dijelaskan dengan baik oleh pihak penjual atau ada kesalahpahaman pada saat proses jual beli yang dilakukan sehingga tujuan penggunaan produk tidak bisa ter-realisasikan.  

Contoh, Bapak A membeli asuransi jiwa dengan tujuan untuk pendidikan anaknya kelak masuk SMA. Apa saja yang harus ditelaah dalam hal ini? Pertama, mengapa bapak A  membeli asuransi jiwa dengan tujuan untuk dana pendidikan anak? Apakah berharap pada tahun tertentu dana bisa diambil untuk membayar uang sekolah anak? Atau karena Bapak A ingin memastikan pendidikan anaknya terjamin bila beliau wafat? Apakah tujuannya sudah benar atau instrument dari tujuan tersebut yang belum tepat digunakan?

Ketiga, tidak membaca polis yang disajikan dengan baik. Umumnya begitu membeli dapat polis langsung merasa ada jaket pelindung bagaikan Captain America’s shield . Padahal bisa jadi ada klausul yang tidak sesuai dengan tujuan pada saat membeli produk.

Kemudian bagaimana dengan fungsi dari asuransi ini sebetulnya? Kata kuncinya adalah resiko. Secara ada resiko  yang harus ditanggulangi, maka artinya fungsinya adalah sebagai pelindung atau proteksi. Melindungi seseorang dari resiko yang mungkin timbul dari kecelakaan, sakit maupun kehilangan nyawa.

Secara garis besar kesadaran masyarakat Indonesia untuk melindungi diri mereka menggunakan produk asuransi sangatlah kecil. Berbanding dengan negara maju seperti Singapura, maupun Jepang, masyarakat Indonesia yang baru melek asuransi baru 7%. Itu pun belum tentu produk yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan masing masing.

Pengetahuan akan pentingnya proteksi terhadap diri sendiri dan tidak tergantung dengan fasilitas pemerintah; contoh BPJS masih harus terus digalakkan. Bahwasanya Asuransi adalah bentuk perlindungan bukan bertujuan untuk investasi.

Jikalau harapan awal pada saat membeli produk asuransi adalah mendapatkan imbal hasil dari uang yang dibayarkan sebagai premi maka bisa dibilang ini sudah salah alamat. Sudah pasti tidak akan sesuai dengan harapan awal.

Duh sepertinya ini bisa butuh 4 SKS tersendiri untuk membahas masalah ini, tapi setidaknya kesadaran diri dan jika memiliki pengetahuan dasar akan produk investasi maupun proteksi dimiliki atau bisa disebarluaskan maka sebetulnya bisa membantu pemerintah dari beban menanggung biaya kesehatan warganegaranya bisa berkurang sedikit.

Pada saat masyarakat yang cukup mampu, membeli proteksi bagi diri mereka sendiri, setidaknya produk kesehatan atau fasilitas rumah sakit yang anti inflasi, maka artinya mereka tidak perlu menggantungkan diri kepada fasilitas negara. Artinya pula, negara bisa fokus pada pelayanan masyarakat lapisan bawah yang lebih membutuhkan. Begitu gak sih kira kira? 

Jadi, dengan mengerti dengan jelas tujuan dari asuransi, pada saat membeli kita juga bisa mengamini fungsinya nanti.