Memang agak sedikit menyebalkan berdebat dan ribut soal cadar. Karena hemat saya, pembahasan soal cadar adalah pembahasan yang terlalu remeh, sia-sia, dan cenderung membuang-buang waktu dan pikiran. Masih banyak hal yang lebih penting, lebih esensial, dan lebih mendesak untuk dibahas daripada cadar.

Cadar adalah proyek perdebatan masa lalu. Artinya, ketika kita kembali menceburkan diri dalam pembahasan itu, orientasi berpikir kita bukan lagi ke depan, tapi malah ke belakang. Atau yang dalam bahasa Muhammadiyah, Islamnya bukan Islam berkemajuan, tapi Islam yang berkemunduran.

Namun itu kalau pembahasan cadar terlalu difokuskan pada arena perdebatan yuridis Islam (fikih). Seperti yang pernah saya lakukan dahulu. Adapun pembahasan cadar dalam tinjauan atau perspektif lain adalah pengecualian. Dalam artian, boleh saja. 

Karena saat ini persoalan cadar tidak lagi dilihat semata-mata dalam timbangan fikih, tapi juga mengaitkannya sebagai fenomena keagamaan yang tentu melibatkan analisis sosiologi, bagian dari Islam populis, hegemoni budaya, isu kebebasan, dan hak berekspresi. Sebagaimana yang akan saya uraikan di bawah ini.

Namun sebelum menguraikannya, izinkan saya terlebih dulu menceritakan sekilas gambaran besar tentang bagaimana saya membahas cadar beberapa tahun yang lalu. Ini mungkin penting sebagai maklumat perihal transformasi perspektif saya mengenai cadar.

Dulu ketika pelarangan cadar yang terjadi di UIN Yogyakarta sedang vital, saya juga turut memberi komentar. Meskipun hanya dengan tulisan pendek. Tapi sayangnya tulisan saya saat itu cenderung fikih. Di dalamnya saya mengulas pandangan Syekh Prof. Dr. Yusuf Qardhawi tentang cadar dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer.

Qardhawi di dalam bukunya itu dengan tegas mengatakan kalau kita melihat hadis-hadis tentang cadar dan melakukan verifikasi (pengecekan) pada kitab-kitab hadis yang mu’tabar (terkenal), seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kesemua hadisnya adalah lemah (dha’if).

Lebih lanjut, Qardhawi menjelaskan bahwa para Imam mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, sepakat bahwa cadar bukan sesuatu yang wajib. Paling banter adalah mubah, tidak sampai sunnah (dalam pengertian apabila dilakukan dapat pahala dan tidak mengapa jika tidak).

Adapun Imam Syafi’i yang sering disebut dan dijadikan dalih bahwa cadar wajib, dapat dipastikan bahwa penyebabnya ialah lahir dari pemahaman yang tidak utuh terhadap pemikiran Imam Syafi’i soal cadar.

Bagi mereka yang mendalami atau sedikit mengkaji tentang pemikiran Imam Syafi’i, tentu akan mengetahui bahwa secara pemikiran Imam Syafi’i mengalami periodisasi yang terbagi ke dalam dua, qaulul qadim (perkataan lama) dan qaulul jadi(perkataan baru).

Ada pemikiran yang sebelumnya dianggap benar oleh Syafi’i, namun kemudian diganti oleh pemikirannya baru. Terjadi rekonstruksi di sana. Seiring dengan perkembangan zaman dan makin luasnya wawasan seseorang.

Hal inilah yang terjadi pada pemikiran Imam Syafi’i soal cadar. Sebelumnya ketika di Madinah ia menganggap bahwa cadar adalah wajib. Sedangkan ketika sampai di Mesir, ia mengubah pandangannya tersebut. Ia mengatakan bahwa cadar adalah mubah (boleh), tidak sampai ke tahap wajib.

Dan setelah memaparkan hal di atas, saya kemudian mengatakan, adapun yang mewajibkan cadar dari kalangan ulama-ulama kontemporer, kebanyakan hanyalah dari Arab Saudi, yang notabenenya adalah Salafi-Wahabi seperti Syekh Abdullah bin Baz dan Syekh Shalih bin Utsaimin. Selain dari mereka, hampir tidak ada.

Begitulah kira-kira dulu saya menjelaskan cadar. Sangat fiqh oriented. 

Dengan penjelasan di atas, kepada pembaca saya seakan ingin mengatakan, “Ngapain sih terlalu kekeh menggunakan cadar? Kan, tidak wajib? Buka aja kali!”. Orang dengan kemampuan semiotik (kemampuan membaca tanda pada teks) akan menangkap kesan itu.

Dan sekarang saya keberatan atas pemahaman tersebut. Karena menganggapnya sebagai diskriminasi atas wanita bercadar. Pemikiran saya berubah. Kini saya mengatakan go ahead (silakan) kenapa mereka yang bercadar. Sebab bercadar adalah bagian dari hak dan kebebasan orang untuk berkspresi. Melarangnya adalah suatu pelanggaran.

Kebebasan seseorang harus dilindungi, bukan dilarang apalagi berbuntut dicurigai. Atas dasar ini saya kemudian menolak jika ada pelarangan bercadar. Karena bertentangan dengan prinsip kebebasan. Bukankah aneh jika saya yang selalu menggaungkan kebebasan berekspresi dan berpikir, malah melarang dan menghalau-halau kebebasan orang lain?

Kini di beberapa tempat sedang marak terjadi pelarangan cadar. Dan mirisnya lagi, sekaligus menjadi hal yang membingungkan dan mengherankan, pihak yang melanggar dan menghalangi kebebasan bercadar tersebut adalah mereka yang selalu menggaungkan tentang kebebasan dan kemerdekaan berpikir.

Terhadap dirinya dan kelompoknya, mereka mengatakan bahwa kita harus menghargai kebebasan seseorang dalam berkspresim. Adapun dengan di luar mereka, mereka justru reaktif. Mereka seakan-akan tampil sebagai pihak yang berhak menentukan apa yang patut dan tak patut.

Umumnya motif atau dalih yang sering mereka gunakan untuk melarang cadar adalah demi mencegah tersebarnya paham Islam garis keras dan ekslusif. Ini tentu sangat mengada-ada dan dibuat-buat. 

Sejak kapan kita dibolehkan melakukan generalisasi bahwa semua wanita bercadar itu menganut Islam garis keras, hanya karena menemukan satu orang wanita yang berpaham Islam garis keras. Sungguh cacat nalar.

Tidak cukup sampai di situ, bentuk diskriminasi lain juga masih ada di sana. Wanita bercadar di Indonesia didiskreditkan karena dianggap ke-arab-arab-an. Tidak menghargai budaya lokal dan budaya Indonesia. Cara berpakaian ala Indonesia, katanya, itu biasa-biasa saja. Tidak berlebihan. Bercadar dianggap berlebihan. 

Saya sebenarnya sah-sah saja. Asal upaya menjaga budaya berpakaian ala Indonesia dilakukan secara fair dan adil. Bukan berat sebelah. Terhadap yang ke-barat-barat-an kita lunak dan lembut, sedangkan kepada yang ke-arab-arab-an kita keras dan diskriminatif. Itu kritik saya.

Jadi, kalau kita adalah bangsa yang menghargai kebebasan orang untuk berekspresi, maka biarkanlah para wanita itu bercadar. Jangan diejek dan dicurigai. Itu hak mereka dan mohon hargai. Ketika mendapati wanita bercadar yang tertutup dan enggan bersosialisasi, sesungguhnya bukan cadar itu yang kita suruh buka, melainkan sikapnya yang harus diubah.

Adapun jika kita ingin meneguhkan budaya lokal dalam berpakaian, maka bukan saja kepada mereka yang kearab-arab-an kita keras, namun juga kepada segala bentuk style yang bukan ala Indonesia. Entah itu ke-china-china-an, ke-india-india-an, ke-barat-barat-an dan yang semacamnya.