Membicarakan sebuah konspirasi memang tidak akan ada habisnya. Mulai simbol mata satu pada uang Dolar Amerika, UFO dan Area 51, sampai apakah Dewa 19 adalah agen Yahudi, isu konspirasi selalu berhasil menarik perhatian. Gurih dan renyah layaknya kacang goreng. Lebih cepat viral ketimbang album musisi Indie.

Di musim pandemi pun teori konspirasi tak luput ketinggalan. Setelah warga +62 dilanda kecemasan karena wabah, ekonomi merosot, serta PSBB yang entah kapan berakhir, konspirasi bahwa virus ini sebenarnya sengaja dibikin untuk tujuan New World Order di bawah keluarga Rothschild, Soros, dan Bill Gates muncul bak gelombang air bah.

Makin ramai karena bukan hanya nerd penonton Man In Black saja yang mem-blow up, tetapi juga jagat selebritis. Untuk yang disebut terakhir, bahkan Jerinx punggawa band SID sampai turun gunung mengajak duel kesaktian dengan Aiman Witjaksono dan Dhani Ahmad live di IG (nggak perlu email nomor WA lagi, Sat!).

Banyak yang menghujat orang semodelan Bli Jerinx dengan label halu atau ngelantur. Omongannya tidak berdasar fakta. Tidak ilmiah. Sumber datanya dari video YouTube yang bisa jadi subscriber-nya saja beli. Dan banyak lagi tuduhan lainnya.

Tapi apa benar demikian? Apakah teori konspirasi memang sehina itu di mata mertua masyarakat Nusantara? Mari kita cari tahu.

Rata-rata penggemar konspirasi menolak narasi mainstream dari media massa. Mereka memilih narasi alternatif sebagai gagasan penyeimbang.

Lho, bukannya ini bagus? Sebagai warga yang baik, kita harus bisa menerima informasi dari sisi mana saja, kan?

Dengan begitu, kita terpacu mencari fakta, data, dan bukti yang valid. Kalau penggemar teori konspirasi mengatakan bumi ini datar, ya terima saja dulu. Nanti kalau kita jadi migrasi ke Mars, toh akhirnya kita tahu bentuknya seperti apa.

Atau bisa juga nanti Kementerian Pariwisata membuka peluang bisnis jasa wisata tur travel ke stasiun luar angkasa. Nah, di sana kita bisa selfie dengan background bentuk bumi. Selain menambah devisa, langkah ini juga mendukung gerakan membumikan sains di industri 4.0 yang istilahnya rumit dan ndakik-ndakik tu.

Di balik segala misterinya, teori konspirasi sebenarnya mengajarkan orang untuk bersikap waspada dan peduli sesama. Kita nggak mungkin memahami semua informasi dari seluruh belahan dunia ini, kan? (wong kadang PIN ATM saja lupa). Dari bauran informasi serba-kompleks dan tanpa henti itu kalau kita tak siap bisa celaka.

Misalnya pemahaman soal kesejahteraan. Konon di Nusantara kekayaannya hanya dimiliki oleh 0,1% penduduk saja. Di tingkat global bisa jadi kondisinya serupa. Dengan asumsi sedang terjadi ketimpangan inilah orang harus waspada dan peduli lingkungan sekitar. Tumbuhkan kembali jiwa leninisme gotong royong menolong satu sama lain.

Karena konspirasi pulalah kita sebenarnya mendapat informasi soal misteri alien. Tahun ’80-an kita beranggapan UFO (Unidentified Flying Object) adalah karangan sineas film sains-fiksi Amerika. April 2020, Pentagon kemudian merilis video penampakan benda tidak dikenal melayang di langit Amerika.

Walau belum diketahui pasti apa benda misterius tersebut, fakta bahwa UFO yang dulu dianggap rumor akhirnya menemui titik terang. Seandainya (alm) Carl Sagan masih hidup, tentu ia akan merilis serial Cosmos terbaru.

Orang keburu ngece karena teori konspirasi dianggap nggak saintifik. Padahal ilmuwan sendiri lapang dada lho menerima segala kemungkinan bila ditemukan bukti baru yang mematahkan teori sebelumnya.

Ya siapa tahu, kan, ternyata alam semesta tidak terjadi karena teori Big Bang, tapi hasil racikan para Transformers?

Kita sadar memiliki keterbatasan mencerna sebuah fenomena karena tidak terlahir sebagai mesin yang mampu menghafal dan mengolah miliaran data lalu menyajikannya dalam waktu singkat.

Bagaimana kita bisa memastikan benar adanya benturan besar yang melahirkan semesta? Ah, jangan-jangan ini konspirasi saja biar teori batu semesta di serial Avengers bisa klop.

Baik penganut konspirasi atau bukan seharusnya bijak memahami hal tersebut. Keduanya sama-sama mencari kebenaran. Sama-sama skeptis. Hanya saja jalannya berbeda. Ada yang di jalan terang, ada yang di bawah tanah.

Penggemar konspirasi tak perlu berkecil hati. Adu saja argumen kalian dengan teori yang sudah ada. Toh nanti masyarakat yang menilai. Apakah bisa diambil sari patinya atau hanya sekadar hiburan.

Jika kebenaran hanya milik Tuhan, maka derajat saintis dan penggemar konspirasi sebenarnya sejajar. Eh, masyarakat +62 ini malah suka membanding-bandingkan. Yang ada malah ribut dan hilang visi investigasinya.

Sains itu seperti dokter, konspirasi itu ya dukunlah kira-kira. Sama-sama dibutuhkan di level dan jenis masyarakat tertentu. 

Sampai sekarang pun saya masih percaya konspirasi bahwa bubur tidak diaduk itu rasanya lebih enak dan estetis secara visual. Kalau ada yang berani beda pendapat, mari kita debat live di IG.