Konflik Israel-Palestina bergolak lagi. Serangan Israel atas tanah suci tiga agama Ibrahimik itu menggores luka tak hanya di tubuh rakyat Palestina, tapi juga perasaan seluruh masyarakat dunia.

Luka terasa lebih perih bagi kaum Muslim ketika Israel melancarkan serangan terhadap jamaah yang sedang salat. Setidaknya demikianlah berita yang mengudara, menambah rasa geram yang telah lama mendekam, mengusik rasa kemanusiaan, mengundang keprihatinan.

Sebagai seorang Muslim, saya tidak dapat memungkiri bila ada amarah yang muncul demi menyaksikan saudara-saudari saya disakiti. Tapi sebagai warga negara yang jauh dari Timur-Tengah, saya juga tidak dapat berspekulasi apapun mengenai konflik berkepanjangan yang belum jua selesai itu.

Saya bisa saja menilainya secara sederhana, bahwa Israel-Palestina adalah konflik agama. Namun ada pertanyaan-pertanyaan yang cukup membingungkan bagi orang awam seperti saya: mengapa negara-negara Islam lain, khususnya di Timur-Tengah, nampak tidak dapat berbuat apa-apa?

Kemudian sampai sejauh mana perjuangan kelompok-kelompok Islam militan yang lantang meneriakkan perang jihad terhadap Israel? Bukankah kerasnya teriakan-teriakan jihad seharusnya sudah menghabisi gerakan Zionisme yang sendirian itu (atau tidak)?

Tentu sudah ada penjelasan ilmiah bagi pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun yang pasti, konflik yang tak kunjung selesai, setelah bertahun-tahun, setelah beratus kali negosiasi mencari resolusi, setelah berjuta kecaman atas kematian warga sipil, menunjukkan konflik Israel-Palestina jelas bukan persoalan sederhana.

Ini jelas merupakan masalah politik dan saya tidak paham ilmu politik atau hubungan internasional. Jadi, saya juga semestinya tidak menilainya dan berbicara tentangnya secara sederhana. Saya mestinya tidak berkomentar soal apa yang saya tidak benar-benar mengerti.

Satu hal yang sepertinya dapat dipahami. Beberapa ulasan menyebutkan bahwa Zionisme, gerakan nasionalisme Yahudi yang mengokupasi Palestina, muncul sebagai respon terhadap antisemitisme yang marak di Eropa. Jadi serangan Zionis terhadap Palestina mengandung dendam masa lalu.

Tidak sedikit peristiwa dan perubahan dalam sejarah peradaban manusia yang dimotori oleh dendam semacam itu. Modernisme positivistik lahir atas dasar dendam terhadap dominasi institusi agama dalam ilmu pengetahuan. Revolusi industri lahir dalam dendam terhadap pemerintahan feodal nan otoriter. Islamisme lahir karena dendam terhadap serangan kebudayaan Barat Modern.

Kini serangan-serangan Zionis atas Palestina membuahkan dendam masyarakat Muslim. Ketika Hamas sebagai representasi Muslim menyerang balik, Israel akan mendendam dan menyerang lagi. Begitu seterusnya hingga entah kapan rantai dendam itu putus.

Boleh jadi sejarah kehidupan di atas planet bumi memang sejarah dendam. Dalam pengalaman sehari-hari kita kadang merasakan hal itu tatkala melihat kejadian di sekitar kita. Terselip dendam terselubung atas masa lalu dalam perilaku individu yang mengincar kehormatan, dalam pergantian kepemimpinan, dalam kritik-mengkritik dan perdebatan-perdebatan.

Terlepas daripada itu, penderitaan yang dialami rakyat Palestina, militer maupun sipilnya, lelaki dan perempuannya, dewasa dan anak-anaknya, mengundang keprihatinan dan belas kasih seluruh dunia. Terjadi demonstrasi di mana-mana demi mengecam Israel dan membela Palestina. Uluran tangan begitu terbuka untuk memberi bantuan sumbangan materiil bagi mereka yang nestapa.

Di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, solidaritas terhadap rakyat Palestina juga mengemuka. Selain demonstrasi dan sumbangan dana (serta tenaga perang jihad), orang Indonesia mendukung Palestina lewat ungkapan kata, mulai dari obrolan sehari-hari hingga postingan di media-media sosial. Semuanya satu irama: membela Palestina.

Meski demikian, wacana-wacana yang mereka ungkapkan itu tak lepas dari makna tersembunyi, merepresentasikan warna-warni Muslim Indonesia. Sejauh yang saya perhatikan di lini masa media sosial saya, setidaknya ada dua kandungan makna berbeda dalam ungkapan solidaritas Palestina: kemanusiaan dan keislaman.

Yang pertama menyatakan bahwa tindakan zionisme Israel yang mencoba merebut tanah negeri Palestina merupakan kejahatan kemanusiaan. Bagaimanapun, penjajahan dan kekerasan di atas dunia, apapun motifnya, harus dihapuskan. Hak hidup setiap manusia di muka bumi harus dibela habis-habisan.

Sembari itu, pewacana mencoba menepis narasi adanya motif agama (yakni Yahudi) di balik gerakan Zionisme yang sekuler itu. Pihak kemanusiaan ini kemudian menggambarkan tidak adanya keterkaitan langsung antara Zionisme dengan agama Yahudi.

Narasi kemanusiaan sebenarnya berupaya menghadang narasi keislaman yang digemakan oleh kelompok-kelompok Islamis yang selama ini dianggap akan mengganggu kehidupan nasional yang toleran dan moderat berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, dukungan dan pembelaan terhadap rakyat Palestina harus dilihat hanya dalam kerangka kemanusiaan sahaja.

Sementara narasi keislaman menyatakan kejahatan Israel terhadap Palestina adalah kezaliman terhadap umat Islam (sekalipun tidak semua warga Palestina adalah Muslim). Perang yang terjadi di negeri masjid Bait al-Aqsha itu dilihat sebagai perang agama.

Seruan untuk berjihad di jalan Allah kemudian menggema. Pihak yang tidak mendukung seruan itu sama buruknya dengan Yahudi yang tak rela sebelum manusia mengikuti agama mereka.

Kekejaman Zionis Israel terhadap rakyat Palestina menjadi simbol betapa Barat Yahudi (mungkin ditambah dengan komunis di lain kesempatan) ingin menghancurkan Islam. Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu di bawah panji yang sama. Sebagian kelompok Islamis menggambarkan panji Islam itu adalah yang berkibar di atas tanah Negara Islam, atau khilafah. Jadi ungkapan membela Palestina menjadi premis lain menuju cita-cita utopia tersebut.

Dengan demikian, kaum Muslim di Indonesia, bisa dibilang semuanya, membela palestina tapi berbeda sandaran ideologisnya. Yang satu kemanusiaan, yang lain keislaman. Misi sama, tapi visi berbeda. Di media sosial atau di ruang-ruang publik lain wacana-wacana ini saling bertarung, memperebutkan pikiran masyarakat. Pada saat yang sama, rakyat Palestina terus dibombardir senjata.[]