Beberapa waktu yang lalu Cania menuliskan kegeramannya terhadap sebuah gagasan tidak lumrah dari seorang menteri berinisial K.H.O.F.I.F.A.H. Menteri yang kerap kali berbusana tabrak warna itu mengusulkan untuk tidak memberi daun pintu di kamar-kamar kos mahasiswa.

Gagasan ini tentu bukan lantaran ia ingin mahasiswa kedinginan dan masuk angin agar punya alasan bagus untuk tidak masuk kuliah. Menurutnya, ini semua agar mahasiswa terhindar dari seks bebas.

Cania, saya, penjual gorengan sebelah rumah dan banyak orang lainnya tentu tidak mengerti esensi dan urgensi gagasan ini. Ibu lupa? Di antara mahasiswa yang ngekos itu ada banyak kaum tuna asmara yang tidak akan bisa bercinta, dengan atau tanpa daun pintu!

Sebagaimana diutarakan Cania, kesalahan utama dari lahirnya gagasan ini adalah kelancangan untuk menggunakan ranah privasi-–hubungan seksual—sebagai acuan untuk moralitas mahasiswa, baik yang berpasangan maupun yang masih asik batangan. Aktivitas seksual tentu tidak bisa digunakan sebagai tolak ukur moral, karena apa yang terjadi di antara dua selangkangan bukanlah representasi kenyataan di lapangan.

Ingat, orang yang tampak begitu sopan dan relijies di masyarakat bukan jaminan untuk sosok yang lembut dan menawan di atas ranjang.

Hubungan seksual memiliki kompleksitas dan dimensinya sendiri yang tidak akan bisa digunakan sebagai patokan untuk menentukan baik tidaknya moralitas suatu masyarakat. Terlebih, standar untuk baik dan tidak baik selalu berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman.

Karenanya, seksualitas harus dikembalikan ke domain aslinya, yakni ke ranah privasi yang harus dilindungi hak-haknya, bukan malah dilacurkan untuk kepentingan politis yang menggelikan seperti ini.

Karenanya, alih-alih menunjukkan kegemilangan wawasan, gagasan tentang kamar kos tanpa pintu ini hanya akan lewat begitu saja sebagai sebuah lelucon garing tanpa kemanfaatan. Jikapun ibu menteri serius meyakini bahwa penghilangan daun pintu akan berperan signifikan dalam perbaikan moral, maka-–sebagaimana diusulkan Cania—kebijakan ini harus terlebih dahulu diberlakukan untuk pejabat.

“Saya usulkan agar gedung itu tidak usah pakai dinding sekalian, cukup lantai dan atap saja. Hal ini dilakukan untuk mengatasi tingkat korupsi yang tinggi. Di ruang-ruang itu, mungkin dilakukan berbagai negosiasi yang culas, juga berbagai skandal yang panas. Bukan hanya mahasiswa yang doyan seks bebas, anggota parlemen juga, kok. Kita sudah menyaksikan beberapa rekaman yang bocor, kan?” begitu tulis Cania.

Saya pun setuju belaka dengan kritik dan usulan Cania. Hingga kemudian muncul kritik atas kritikan Cania yang dimuncratkan terlalu cepat oleh Didik Fitrianto, yang saya duga masih belum pernah seks bebas meski ada banyak pintu di kamarnya. Dugaan ini tentu bukan tanpa dasar, ia sendiri mengaku betapa ia harus berimajinasi sedang bercinta ketika menulis kritiknya. Hal mana semakin menunjukkan bahwa kritikannya ditulis bukan berdasarkan pengalaman.

Dalam kritiknya ia menyebut Cania membuat kesalahan karena terlalu menggebu dan terlalu serius dalam menanggapi masalah ini. “Padahal membicarakan soal seks itu perlu suasana santai, jangan buru-buru karena anda tidak akan bisa menikmatinya,” begitu tulisnya. Well, inilah kesalahan utama Didik, pembahasan tentang seks haruslah dilakukan dengan menggebu dan serius, terutama dalam konteks pelacuran seksualtis yang ditujukan hanya untuk kepentingan kalangan atas.

Pemerintah tidak sepatutnya masuk ke ranah privat masyarakat, apalagi untuk urusan seksualitas. Biarkan masyarakat berkelamin dengan caranya sendiri, selama tidak mengganggu hak orang lain, pemerintah sebaiknya fokus pada ‘kelaminnya’ sendiri. Karenanya, ketika ada pejabat atau representasi pemerintah yang berani bermain api dengan mencampuri urusan ranjang, masyarakat patut untuk segera tidak santai dan tegang.

Berbeda halnya dengan aktifitas seksual, yang tentu saja-–meski tidak harus—akan lebih asik jika dilakukan dengan santai, tidak terburu dan penuh dengan kemesraan. Robert Sternberg dalam “Triangulating Love” (2007) misalnya, sejak jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa cinta harus melibatkan setidaknya tiga elemen-–yang kemudian ia dikenal sebagai “triangular theory of love”—yakni: keintiman (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment).

Lebih jauh ia menjelaskan, perbedaan komposisi untuk kombinasi dari tiga elemen di atas dapat menghasilkan jenis cinta yang berbeda. Kombinasi antara keintiman dan komitmen akan menghasilkan cinta yang penuh dengan kasih sayang (compassionate love), sementara cinta yang berisikan kombinasi antara gairah dan keintiman disebutnya akan menghasilan cinta yang penuh gairah (passionate love).

Untuk mencapai jenis cinta yang sempurna (consummate love), Strenberg menyarankan agar tiga elemen di atas digunakan seluruhnya.

Untuk ini tentu tidak akan ada perdebatan, karena yang dibahas Strenberg adalah soal cinta. Beda dengan minteri kita, gagasan yang dikeluarkan oleh Ibu Menteri di atas bukanlah tentang cinta atau hubungan percintaan, tetapi tentang pembodohan yang dimaksudkan hanya demi keluarnya sebuah produk kebijakan. Ini tentu tidak bisa ditanggapi secara santai.

Ingat pula kekhawatiran Foucault yang melihat seksualitas-–dalam kaitannya dengan kekuasaan---hanya digunakan sebagai pengalihan pemahaman tentang kekuasaan. Karenanya, pengguliran wacana terkait seksualitas oleh pemerintah adalah murni ungkapan dari kekuasaan, yang tentu saja tidak akan memberikan kebaikan kepada banyak orang.

Melalui berbagai macam cara, kekuasaan selalu digunakan untuk menyeret seksualitas keluar dari ranah privat menuju ranah publik; yang tentu saja justru membuat seksualitas tidak begitu asik. Untuk apa? tentu saja agar penguasa dapat merogoh kekuasaan dari hal yang bahkan paling mendasar dari tiap individu, yakni seks!

Jika pemerintah sudah bisa mengatur bagaimana cara kita berkelamin, lalu apalagi yang bisa kita lakukan selain ketik “like” dan “amin”? Pemerintah sudah terlalu lama offside dalam mencampuri urusan-urusan personal kita, termasuk tentang bagaimana kita harus beragama dan dengan siapa kita boleh bercinta. Jika keadaannya sudah begini, yakin masih mau santai dan tidak terlalu serius? Aku sih emoh!  

Sumber Bacaan:

Foucault, M. Seks dan Kekuasaan. Terj.  S. H. Rahayu. Jakarta: Gramedia, 2000.

Robert J. Sternberg, “Triangulating Love”, dalam. T. J. Oord ed. The Altruism Reader (2007)