1 tahun lalu · 351 view · 7 min baca · Filsafat 61522_64876.jpg

Membedakan Mutawathi dengan Musyakkik

Ngaji Mantik Bag. 16

Setiap lafaz kulliy, seperti yang sudah penulis jelaskan pada tulisan yang lalu, pasti memiliki individu, baik individu tersebut hanya ada satu, lebih dari satu, atau tidak memiliki individu sama sekali di alam inderawi, tapi dia ada di alam imajinasi.

Sampai pada titik ini kita perlu mengetahui adanya satu syarat bahwa lafaz kulliy itu harus bisa diberlakukan untuk setiap individu yang berada di bawahnya. Dengan kata lain, masing-masing dari individu yang tercakup oleh lafaz kulliy itu harus menyandang sifat atau makna dasar yang terkandung oleh lafaz kulliy. Jika tidak, maka dia tidak bisa menjadi afrad atau individu dari lafaz kulliy tersebut.

Sebagai contoh, misalnya, kata manusia (insan). Kata tersebut disebut kulliy karena ia berlaku bagi banyak individu. Di bawahnya ada Sule, Andre, Bolot, Malih, Vincent, Desta dan manusia-manusia lainnya.

Mereka adalah afrad atau individu yang tercakup oleh kata manusia. Dan masing-masing dari mereka bisa dikatakan sebagai manusia karena mereka semua adalah hewan berpikir yang merupakan mafhum dari kata manusia. Vincent manusia, Desta manusia, Andre manusia, dan orang-orang lainnya juga disebut sebagai manusia.

Artinya, kata manusia yang bersifat kulliy itu bisa disandangkan dan diberlakukan kepada mereka. Karena kata tersebut bisa disandangkan kepada mereka, maka mereka bisa dikatakan sebagai afrad dari kata manusia. Mereka adalah juziyy dari kata manusia, sedangkan kata manusia itu sendiri—yang berlaku bagi mereka—adalah kulliy.

Tapi bagaimana, misalnya, dengan kata Arsenal? Bisakah Anda menyatakan bahwa kata Arsenal itu kulliy dan orang-orang seperti Mesut Ozil, Bellerin, Monreal, Welbeck, Giroud, Sanchez dan pemain Arsenal lainnya itu merupakan afrad dari kata Arsenal? Jawabannya tentu tidak bisa.

Mengapa? Karena masing-masing dari pemain arsenal tersebut tidak menyandang nama Arsenal. Ozil adalah bagian dari klub Arsenal, tapi dia bukan bagian dari individu tercakup oleh kata Arsenal.

Karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa kata Arsenal itu kulliy, kemudian afradnya adalah para pemain Arsenal. Mengapa? Karena, sekali lagi, setiap pemain Arsenal tidak menyandang mafhum dari kata Arsenal, meskipun mereka semua adalah pemain Arsenal.  

Singkatnya, setiap lafaz kulliy harus bisa diberlakukan bagi setiap afrad atau individu yang berada di bawahnya. Dan masing-masing dari individu yang berada di bawahnya harus menyandang mafhum atau makna dasar yang dimiliki oleh lafaz kulliy.

Nah, dalam konteks itu, adakalanya mafhum lafaz kulliy itu berlaku bagi setiap individunya secara setara. Dan adakalanya juga mafhum lafaz kulliy itu berlaku bagi setiap individunya dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Dari sinilah kita akan mengenal istilah mutawathi dan musyakkik. Apa itu mutawathi? Dan apa itu musyakkik? Tulisan ini akan menjelaskan dua istilah tersebut beserta contoh-contohnya.

Mutawathi

Secara bahasa kata mutawathi adalah bentuk ism fail dari kata kerja tawathaa-yatawathau, yang artinya sepakat, selaras, atau setara. Dari makna kebahasaan ini, kita bisa mengartikan kulliy mutawathi sebagai “mafhum dari suatu lafaz universal yang diberlakukan untuk individu-individu di bawahnya secara sama dan setara.”

Dengan pengertian lain, kulliy mutawathi adalah lafaz kulliy yang masing-masing individu di bawahnya menyandang mafhum lafaz tersebut secara selaras dan setara sehingga yang satu tidak bisa dikatakan lebih dari yang lainnya.

Contohnya seperti kata Insan (manusia). Afrad atau individu dari kata insan adalah siapa saja yang dikatakan sebagai manusia. Terlepas dari perbedaan warna kulit, berat badan, ketampanan, suku, agama, profesi, dan lain sebagainya.

Di antara afrad dari kata manusia itu, misalnya, kita ambil tiga nama, yaitu Sule, Andre, dan Aziz. Ketiganya adalah individu yang tercakup oleh kata manusia. Dan ketiganya menyandang mafhum dari kata manusia secara selaras dan setara.

Dengan kata lain, Anda tidak bisa mengatakan bahwa yang satu “lebih manusia” ketimbang yang lainnya. Atau manusia yang satu lebih utama dalam status kemanusiaannya ketimbang manusia yang lainnya.  

Anda tidak bisa mengatakan bahwa Aziz lebih manusia ketimbang Sule, dan Sule lebih manusia ketimbang Andre, kemudian Andre lebih manusia ketimbang manusia-manusia lainnya. Mengapa? Karena mereka semua sama dan setara dalam status kemanusiaannya.

Contoh lain kata meja. Meja adalah lafaz yang universal. Di bawahnya ada meja makan, meja belajar, meja tenis, dan meja-meja lainnya. Masing-masing dari individu yang tercakup oleh kata meja tersebut bisa disebut sebagai meja. Dengan kata lain, kata meja bisa diberlakukan untuk setiap individu yang berada di bawahnya. Dan keberlakuan tersebut bersifat sama dan setara.  

Anda tidak bisa mengatakan bahwa meja makan lebih “bermeja” dari meja tenis, atau meja tenis lebih bermeja ketimbang meja belajar. Dan meja belajar lebih bermeja ketimbang meja-meja lainnya. Mengapa? Karena mereka menyandang nama meja secara sama dan setara. Karena mereka setara, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa yang satu lebih bermeja dari yang lainnya.

Kesimpulannya, kulliy mutawathi ialah lafaz umum yang masing-masing invidunya menyandang mafhum dari lafaz tersebut secara sama, selaras dan setara sehingga yang satu tidak melebihi yang lainnya.

Musyakkik

Secara bahasa musyakkik adalah bentuk ism fail dari kata kerja syakkaka-yusyakkiku, yang bemakna meragukan. Dari makna kebahasaan ini, kita bisa mengartikan kulliy musyakkik sebagai “mafhum dari suatu lafaz universal yang diberlakukan untuk masing-masing individunya dengan tingkatan yang berbeda-beda”. 

Dengan pengertian lain, kulliy musyakkik adalah lafaz kulliy yang masing-masing individu di bawahnya menyandang mafhum dari lafaz tersebut dengan tingkatan yang berbeda-beda. 

Contohnya seperti kata cahaya. Kata cahaya itu bersifat universal, karena ia mencakup segala macam cahaya. Dari mulai cahaya lampu, cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya bintang, cahaya cinta, cahaya ilmu, dan cahaya-cahaya lainnya. Dan tingkatan cahaya yang satu tentu berbeda dengan tingkatan cahaya yang lainnya.

Anda bisa saja mengatakan bahwa cahaya bulan itu lebih bercahaya ketimbang cahaya lampu. Atau cahaya matahari lebih bercahaya ketimbang cahaya bulan. Mengapa? Karena cahaya yang dimiliki oleh masing-masing cahaya itu memiliki tingkatan yang berbeda.

Ini berbeda dengan lafaz kulliy yang pertama yang masing-masing individunya menyandang lafaz kulliy di atasnya secara sama dan setara.

Contoh lain, kata wujud. Kata ini juga merupakan kata yang universal karena ia mencakup wujud yang mumkin (mumkinul wujud), yakni makhluk, dan wujud yang wajib (wajibul wujud), yaitu Tuhan.

Namun, meski keduanya sama-sama dikatakan sebagai wujud, tapi wujud yang satu memiliki tingkatan yang berbeda dengan wujud yang lainnya. Dengan kata lain, wujud yang satu lebih utama dan ada terlebih dahulu ketimbang wujud yang lainnya. Karena individu yang tercakup oleh kata wujud tersebut berbeda tingkatannya, maka ia dinamai kulliy musyakkik, atau musyakkak.

Contoh lain: kata putih. Kata tersebut bersifat universal karena berlaku untuk apa saja yang berwarna putih. Tapi, meski semuanya bisa dikatakan putih, Anda bisa mengatakan bahwa barang putih yang satu “lebih putih” ketimbang barang putih yang lain. Dengan kata lain, masing-masing individu yang tercakup oleh kata tersebut memiliki tingkatan berbeda dalam soal putih. Karena ia berbeda, maka dinamai kulliy musyakkik.

Sampai di sini mungkin akan muncul pertanyaan: Kalau ketentuannya adalah berbeda, bukankah afrad dari kulliy mutawathi juga berbeda? Vincent, Desta, Andre, Sule, dan manusia-manusia lainnya memang sama-sama manusia. Tapi bukankah sifat mereka berbeda-beda? Bukankah karakter mereka berbeda-beda? Bukankah ketampanan mereka berbeda-beda? Dan bukankah pemikiran mereka juga berbeda-beda? 

Nah, karena dimensi perbedaan itu cakupannya luas, maka dari sini para ahli ilmu mantik membatasi perbedaan tersebut dalam empat hal, yaitu awwaliyyah, ulawiyyah, asyaddiyyah, dan ziyadah wa Nuqshan. Apa perbedaan keempatnya? Mari kita simak uraiannya sebagai berikut:

[1] Awwaliyyah

Perbedaan dalam soal urutan. Maksudnya perbedaan tersebut didasarkan atas fakta bahwa yang satu lebih awal dari yang lain. Contohnya seperti kata wujud yang mencakup mumkinul wujud dan wajibul wujud tadi.

Keduanya-duanya dikatakan sebagai wujud. Tapi, kita semua meyakini bahwa wujud yang pertama, yakni wujud Tuhan sebagai wajibul wujud, itu lebih awal dari keberadaan wujud kedua, yakni makhluk yang disebut sebagai mumkinul wujud.

[2] Ulawiyyah

Perbedaan dalam soal keutamaan. Maksudnya perbedaan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa yang satu lebih utama ketimbang yang lainnya. Contohnya seperti kata ilmu. Kata tersebut termasuk kata universal karena ia mencakup ilmu Tuhan dan juga ilmu makhluk.

Namun, meski keduanya dinamai ilmu, tapi ilmu yang satu lebih utama ketimbang ilmu yang lain. Ilmu Tuhan tidak didahului oleh ketidaktahuan, sementara ilmu makhluk didahului oleh ketidaktahuan. Karena itu, ilmu yang pertama lebih utama ketimbang ilmu yang kedua.

[3] Asyaddiyyah

Perbedaan dalam kekuatan. Maksudnya perbedaan tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa yang satu lebih kuat dan lebih besar dampaknya ketimbang yang lain. Contohnya seperti cahaya. Kata tersebut bersifat universal karena ia mencakup cahaya matahari dan cahaya lampu. Tapi, meski keduanya disebut cahaya, cahaya matahari jelas lebih kuat ketimbang cahaya lampu.

Atau kata api. Kata tersebut mencakup api dunia, juga mencakup api neraka. Tapi, api yang kedua lebih kuat (asyadd) panasnya dari api yang pertama. Dengan demikian, kata api dan cahaya masuk dalam kategori kulliy musyakkik.

[4] Ziyadah wa Nuqshan.

Perbedaan ini didasarkan pada kelebihan dan kekurangan. Maksudnya, individu yang satu bisa dikatakan lebih banyak atau lebih sedikit ketimbang individu yang lain.

Contohnya seperti kata bilangan (al-‘Adad). Kata bilangan itu universal karena ia mencakup satu, dua, tiga, empat dan bilangan-bilangan lainnya. Namun, meski semuanya dikatakan sebagai bilangan, kita bisa mengatakan bahwa bilangan yang satu lebih besar dari bilangan yang lain. Dan bilangan yang lain lebih kecil ketimbang bilangan yang lain. Satu lebih kecil dari empat. Empat lebih besar dari dua. Dua lebih kecil dari tiga, dan begitu seterusnya. 

Kesimpulannya, jika lafaz kulliy itu berlaku bagi setiap individunya secara setara, maka ia disebut mutawathi. Tapi jika berbeda, maka ia dinamai musyakkik. Perbedaan tersebut dibatasi dalam empat hal: Pertama awwaliyyah (urutan). Kedua, ulawiyyah (keutamaan), asyaddiyyah (kekuatan), dan ziyadah wa nuqshan (kelebihan dan kekurangan). 

Artikel Terkait