6 bulan lalu · 401 view · 3 menit baca · Filsafat 14933_49688.jpg
www.youtube.com

Membedakan Mahiyyah, Huwiyyah, dan Haqiqah

Dalam tradisi filsafat Islam, dan juga buku-buku teologi Islam klasik, ada tiga istilah penting yang sering diulang-ulang dalam memahami dan mengkonseptualisasi wujud. Tiga istilah yang dimaksud ialah mahiyyah, huwiyyah, dan haqiqah.  

Segala sesuatu yang berwujud, pastilah kepadanya berlaku tiga istilah tersebut. Yang jadi pertanyaan: Bagaimana kita membedakan tiga istilah ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan ambil contoh sederhana dan paling mudah sebagai berikut:

Tataplah wajah cantik Nisa Sabyan dengan seksama, lalu ajukan sebuah pertanyaan eksistensial yang satu ini: Bagaimana orang yang bernama Nisa Sabyan itu bisa menjadi Nisa Sabyan seperti yang kita kenal? Atau, dengan pertanyaan yang lebih singkat, bagaimana Nisa Sabyan itu bisa menjadi dirinya sendiri? Jika Anda mampu memahami inti pertanyaan ini dengan baik, maka jawaban yang bisa dikemukakan untuk menjawab pertanyaan di atas hanya ada tiga:

Pertama, wanita cantik bernama Nissa Sabyan itu bisa menjadi dirinya sendiri ketika ia tergolong sebagai manusia. Karena tanpa adanya aspek kemanusiaan dalam dirinya, Sabyan tidak akan mungkin menjadi Sabyan. Dengan demikian, kemanusiaan itu membentuk esensi seorang Sabyan, yang kalau saja dia itu hilang, maka Sabyan tidak akan menjadi dirinya seperti yang kita kenal.  

Kedua, selain sebagai manusia, Sabyan juga bisa menjadi Sabyan karena dia memiliki identitas atau ciri khas yang membedakan dia dengan manusia-manusia yang lainnya. Tanpa adanya identitas tersebut, Sabyan bukanlah Sabyan. Andai kata seluruh identitas yang dimiliki oleh Sabyan itu melebur tak tersisa, maka ketika itu kita tidak akan mengenal lagi manusia yang bernama Sabyan.

Baca Juga: Apa Itu Dalalah?

Ketiga, Sabyan bisa menjadi Sabyan karena ada wujud eksternalnya, yakni eksistensinya di alam nyata. Andai kata eksistensi Sabyan itu tak pernah terwujud, dunia ini pasti tidak akan pernah mengenal manusia yang bernama Sabyan itu.

Saya yakin, sampai titik ini pasti ada orang yang bertanya: Kata siapa dunia tak akan mengenal manusia yang bernama Sabyan jika tidak ada eksistensinya? Bukankah di dunia ini banyak manusia yang bernama Sabyan, selain Sabyan yang kita kenal?

Pertanyaan Anda itu sah, tapi boleh jadi itu menunjukan bahwa Anda sejujurnya belum memahami apa yang saya maksud. Bahwa di dunia ini ada banyak manusia yang bernama Sabyan, iya. Tak mungkin saya tolak Tapi, mafhum Sabyan yang satu sudah pasti berbeda dengan mafhum Sabyan yang lain.  

Yang sedang kita bicarakan sekarang adalah Sabyan yang satu ini, bukan Sabyan-sabyan yang lain. Saya tidak punya urusan dengan Sabyan yang lain. Sabyan yang kita maksud hanyalah Sabyan yang memiliki suara aduhai itu. Titik. Tidak ada Sabyan-sabyan yang lain.

Jadi, sekali lagi, Sabyan itu bisa menjadi dirinya sendiri dengan tiga aspek yang saya sebutkan tadi: Pertama, aspek kemanusiaan, yang menjelaskan esensinya. Kedua, aspek identitas, yang membedakan dia dengan manusia-manusia lainnya. Ketiga, aspek realisasi wujudnya, atau eksistensinya di alam nyata.

Nah, dalam terminologi filsafat Islam, ketiga aspek yang menjadikan Sabyan sebagai dirinya sendiiri itu dijelaskan dengan satu definisi yang sama, yaitu “ma bihi al-Syai huwa huwa” (sesuatu yang dengannya sesuatu yang lain itu menjadi dirinya sendiri).

Jika ia dilihat dari aspek identitasnya, maka ia dinamai huwiyyah (identity). Apabila ia ditilik dari aspek realisasi wujudnya, maka ketika itu ia dinamai haqiqah (existence/realisation). Tapi apabila ia dilepaskan dari dua aspek tersebut, yakni identitas dan wujud nyatanya, maka ketika itu ia dinamai mahiyyah (essence).

Dengan demikian, mahiyyah, huwiyyah, dan haqiqah itu sejujurnya merujuk pada satu arti yang sama, yakni sesuatu yang dengannya sesuatu yang lain itu menjadi dirinya sendiri. Hanya saja, ketiga istilah tersebut ditilik dari aspek yang berbeda-beda, seperti yang saya sebutkan tadi.

Bisakah saya mengenal Sabyan tanpa adanya aspek kemanusiaan? Tidak bisa. Karena Sabyan justru dikatakan sebagai Sabyan ketika kita mengenalnya sebagai manusia. Artinya, kemanusiaan itu merupakan esensi utuh dari seorang Nisa Sabyan, yang jika dia tidak ada, maka Sabyan tidak akan menjadi dirinya sendiri.

Bisakah saya mengenal dan memahami Sabyan tanpa adanya keseluruhan identitas yang dimilikinya, yang membedakan dia dengan manusia-manusia yang lain? Tidak bisa. Karena saya bisa mengenal Sabyan justru karena saya tahu bahwa dia itu memiliki perbedaan dengan Raisa, Isyana, Sheryl, Via Vallen, dan manusia-manusia lainnya. Tanpa adanya identitas, Sabyan tidak akan menjadi dirinya sendiri.

Pertanyaan terakhir: Bisakah saya mengenal Sabyan tanpa melihat realisasi wujudnya di alam nyata? Dengan tegas jawabannya tidak bisa. Karena pemahaman saya tentang Sabyan justru diperoleh dari wujud nyatanya itu. Kalau wujud nyatanya itu tidak pernah ada, dari mana saya bisa mengenal Sabyan? Dengan demikian, tanpa adanya wujud Sabyan di alam nyata, Sabyan juga tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Itulah yang dimaksud dengan mahiyyah (essence), huwiyyah (identity), dan haqiqah (existence/realisation). Ketiga istilah tersebut, sekali lagi, merujuk pada satu definisi yang sama, yaitu “ma bihi al-Syai huwa huwa” (sesuatu yang dengannya sesuatu yang lain itu menjadi dirinya sendiri).

Dari tiga istilah ini kemudian muncullah satu perdebatan penting dalam dunia filsafat: Mana yang lebih dulu, wujud (existence) atau esensi (essence)? Saya tak sanggup untuk menjawab itu. Karena itu lebih baik saya sudahi. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.