Dalam tiga tulisan sebelumnya kita sudah membahas tiga pembagian lafaz kulliyPertama, pembagian berdasarkan ada dan ketiadaan individunya di alam fisik. Kedua, pembagian berdasarkan keberlakukan lafaz kulliy dengan individu di bawahnya. Dan terakhir ialah pembagian lafaz kulliy berdasarkan hubungan atau keterkaitannya dengan esensi.

Pada tulisan ini kita akan membahas pembagian terakhir dari lafaz kulliy. Dalam pembagian terakhir ini kita akan diperkenalkan dengan tiga istilah: Pertama, kulliy thabi’iy. Kedua, kulliy manthiqiy. Dan ketiga ialah kulliy ‘aqliy. Apa itu kulliy thabi’iy? Apa itu kulliy manthiqiy? Dan apa itu kulliy ‘aqliy? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Untuk lebih memperjelas perbedaan ketiganya, kita ambil satu contoh sederhana sebagai berikut:

الإنسان كلي

Artinya: “Manusia itu kulliy”.

Jika kita perhatikan, kalimat di atas memuat tiga unsur. Pertama kata al-Insan, kedua kata kulliy, dan yang ketiga ialah penyifatan insan dengan kulliy. Dengan kata lain, dalam kalimat tersebut kita menemukan ada yang disifati (maushuf), kemudian ada sifat (shifat), dan terakhir ialah gabungan antara sifat dengan yang disifati.

Kalau akal kita hanya memerhatikan kata insan saja, sebagai hewan yang berpikir, misalnya, dan dia berlaku bagi banyak individu, terlepas apakah dia disifati sebagai kulliy atau tidak, maka ketika itu ia dinamai kulliy thabi’iy. Ia dinamai kulliy thabi’iy karena lafaz kulliy tersebut memiliki individu yang nyata di alam fisik (‘alam al-Thabi’ah), atau alam inderawi.

Tapi jika akal kita hanya memerhatikan kata kulliy saja, sebagai mafhum yang berlaku bagi banyak individu, dalam istilah ilmu mantik, terlepas apakah yang disebut kulliy itu manusia, hewan, batu, dan lain sebagainya, maka ketika itu ia dinamai kulliy manthiqiy. Ia dinamai kulliy manthiqiy karena istilah kulliy tersebut merupakan istilah tertentu yang dibakukan untuk makna tertentu dalam ilmu mantik.

Lalu apa bedanya dengan yang pertama? Bedanya, jika yang pertama individunya ada di alam nyata, maka yang kedua ini wujudnya hanya ada dalam nalar belaka. Buktinya kita tidak pernah melihat makhluk hidup berjenis kulliy. Tapi kalau manusia tentu kita jumpai setiap hari.

Karena itu, kata manusia disebut kulliy thabi’iy, karena wujud individunya ada di alam fisik, sedangkan kata kulliy itu sendiri disebut kulliy manthiqiy, karena ia merupakan salah satu istilah khusus yang dibakukan dalam ilmu mantik, dan wujudnya tidak ada di alam fisik.  

Namun, jika akal kita memerhatikan penyifatan insan dengan kulliy, dalam arti menggabungkan keduanya, seperti dalam contoh di atas, sehingga terangkailah kalimat “manusia yang kulliy”, atau “manusia yang universal”, maka ketika itu kata insan tidak menjadi kulliy thabiiy lagi, tetapi sudah menjadi kulliy ‘aqliyy.

Ia dinamai kulliy ‘aqliy karena wujudnya hanya ada dalam akal. Memang, pada mulanya, kata insan, jika berdiri sendiri, adalah kulliy thabiiy. Tapi ketika ia disifati dengan sesuatu yang hanya ada dalam akal, yakni mafhum kulliy, maka ketika itu ia berubah menjadi kulliy ‘aqliy.

Mengapa? Karena, sekali lagi, mafhum “manusia universal” itu hanya ada dalam akal. Yang kita lihat di alam fisik itu ialah individu dari manusia, bukan keuniversalan manusia, atau manusia yang universal. Pemahaman kita bahwa manusia itu bersifat universal hanya ada dalam akal, tidak ada di alam nyata. Karena itu ia dinamai kulliy ‘aqliy.

Contoh lain:

الأسد كلي

Artinya: Singa itu kulliy

Kata asad, jika berdiri sendiri, disebut kulliy thabi’iy, karena individu dari kata tersebut bisa kita temukan di alam fisik. Kata kulliy, jika berdiri sendiri, disebut kulliy manthiqiy, karena ia termasuk istilah khusus yang kita kenal dalam ilmu mantik. Sedangkan gabungan dari kata asad dan kulliy disebut kulliy ‘aqliy, karena pemahaman kita bahwa kata asad itu bersifat universal hanya ada dalam akal.

Tiga istilah di tersebut juga berlaku untuk kulliyat al-Khamsah. Ada jins thabi’iy, jins manthiqiy, dan jins ‘aqliy. Ada nau’ thabi’iy, nau’ manthiqiy, dan na’u ‘aqliy. Ada Fashl thabi’iy, fashl manthiqiy, dan fashl ‘aqliy. Dan begitu seterusnya.

Contohnya seperti kalimat:

الحيوان جنس

Artinya: Hewan itu jins.

Kata hewan, jika berdiri sendiri, disebut jinsun thabi’iy, karena wujudnya ada di alam fisik. Kata jins, jika berdiri sendiri, disebut jinsun manthiqiy, karena dia sudah menjadi istilah khusus yang dibakukan dalam ilmu mantik. Sedangkan gabungan dari kata hewan dan jins, yakni ketika kita mengatakan bahwa hewan itu adalah jins, maka ia disebut jinsun ‘aqliy.

Contoh lain:

الإنسان نوع

Artinya: Insan itu nau’.

Kata insan, jika berdiri sendiri, tanpa disifati dengan nau’, adalah nau’ thabi’iy. Kata na’u, jika berdiri sendiri, disebut na’u manthiqiy, sedangkan gabungan antara kata insan dengan nau’, yang melahirkan pemahaman bahwa insan itu adalah nau’, disebut nau’ ‘aqliy.

Tiga istilah ini sengaja dibedakan karena masing-masing kata yang terangkai dalam beberapa contoh di atas memilik mafhum yang berbeda-beda. Artinya, ketika kita mengatakan bahwa hewan itu adalah jins, maka tentu mafhum hewan berbeda dengan mafhum jins.

Begitu juga ketika kita mengatakan bahwa insan itu adalah kulliy, maka mafhum insan tentunya berbeda dengan mafhum kulliy. Yang pertama disebut kulliy thabi’iy, yang kedua disebut kulliy manthiqiy, dan yang ketiga—yakni gabungan antara keduanya—disebut kulliy ‘aqliy.

Kesimpulannya, kulliy thabi’iy adalah lafaz kulliy yang wujud individunya ada di alam fisik. Kulliy manthiqiy adalah lafaz kulliy yang sudah menjadi istilah khusus dalam ilmu mantik. Sedangkan kulliy ‘aqliy adalah gabungan dari kulliy thabi’iy dengan kulliy manthiqiy, yang wujudnya hanya ada dalam akal.