9 bulan lalu · 353 view · 7 menit baca · Filsafat 81825_73457.jpg

Membedakan Ilmu Hushuliy dengan Ilmu Hudhuriy

Ngaji Mantik Bag. 22

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan ragam informasi dan pengetahuan yang datang dari berbagai macam jalan. Entah itu dari buku, internet, koran, majalah, ataupun dari seorang guru, teman, kiai, dosen, pacar dan lain sebagainya. Pengetahuan yang kita peroleh dari dunia luar itu bisa mendarat di kepala kita dengan adanya sebuah perantara, tidak datang begitu saja. Perantara tersebut bisa berupa akal, panca indra, atau informasi yang kita terima dari orang terpercaya.

Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke Mesir, misalnya, tentu Anda tidak akan tahu menahu tentang apa itu tha’miyyah, ‘isy, ful, kusyari, thaghin, ruz billaban, dan lain sebagainya. Tapi, ketika Anda berkunjung ke sini, barulah Anda akan tahu bahwa apa yang saya sebutkan di atas itu ialah beberapa jenis makanan tradisional yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Mesir. 

Artinya, pengetahun Anda tentang beberapa jenis makanan tersebut dihasilkan melalui sebuah perantara tertentu, yang kalau saja perantara itu tidak ada, niscaya Anda tidak akan tahu apa-apa. Ini jenis pengetahuan yang pertama.

Di sisi yang berbeda, ada jenis pengetahuan lain yang datang dan mendarat dalam diri kita tanpa melalui sebuah perantara dan peranan panca indra, seperti halnya jenis pengetahuan yang pertama. Pengetahun model kedua ini pada umumnya berkaitan dengan rasa dan sisi dalam manusia. Dan, yang penting dicatat, tingkat keyakinan kita akan jenis pengetahuan yang kedua lebih kuat ketimbang yang pertama. Karena pengetahuan kedua ini datang dan hadir tanpa memerlukan upaya apa-apa dari diri kita.

Misalnya suatu ketika perut Anda kosong dan karenanya kemudian Anda dikungkung oleh rasa lapar. Pertanyaannya, dari mana rasa lapar itu datang? Akal, panca indra, atau informasi dari orang terpercaya? Nalar kita pasti akan menafikan semuanya. Rasa lapar itu “hadir” begitu saja, tanpa membutuhkan perantara apa-apa. Dan ketika Anda lapar, tidak akan ada seorang manusia pun di dunia ini yang dapat meragukan—apalagi membantah—adanya rasa lapar yang meronta-ronta di balik kubangan perut Anda.  

Singkatnya, dari dua contoh di atas, kita mengetahui adanya dua jenis pengetahuan, yang satu membutuhkan perantara, yang satu lagi tiba dan hadir begitu saja. Bertitik tolak dari perbedaan inilah para ahli ilmu logika (manathiqah) mengkonseptualisasi dua jenis ilmu pengetahuan. Pertama apa yang disebut sebagai ilmu hushuliy, dan kedua ialah apa yang disebut dengan istilah ilmu hudhuriy. Apa itu ilmu hushuliy, dan apa itu ilmu hudhuriy? Apa saja perbedaan mendasar antara keduanya? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut beserta contoh-contohnya.

Ilmu Hushuliy

Secara kebahasaan, kata hushul merupakan bentuk mashdar dari kata hashala— yahshulu, yang bermakna menghasilkan. Penambahan ya nisbah di akhir kata tersebut adalah bentuk penyifatan. Dengan demikian, dari makna harfiah ini kita bisa mengartikan ilmu hushuliy sebagai “ilmu yang dihasilkan”. Atau, lebih jelasnya, ilmu hushuliy ialah ilmu yang dihasilkan oleh seseorang melalui perantara tertentu. Contohnya sangat banyak, salah satunya ialah seperti yang penulis sebutkan di atas.


Seluruh pengetahuan yang kita peroleh dari dunia luar, entah itu yang datang melalui panca indra, akal, maupun informasi yang kita terima dari orang terpercaya, masuk dalam kategori ilmu ini. Ketika hidup di kampung, misalnya, saya tidak pernah mengenal yang namanya mall. Lalu, ketika beranjak hidup di kota, saya diajak jalan-jalan oleh ibu saya, untuk melihat, mengetahui dan mencermati seperti apa itu makhluk yang bernama mall.

Sekiranya tidak ada orang yang memberi tahu saya tentang keberadaan sebuah mall, dan sekiranya panca indra saya tidak pernah mengakses dan mengamati keberadaan sebuah mall, pastilah sampai sekarang saya tidak akan tahu menahu tentang suatu bangunan yang menjadi salah satu pusat perbelanjaan kekinian itu. Artinya, pengetahuan saya tentang mall diperoleh melalui sebuah perantara, yang dalam hal ini adalah panca indera.

Pengetahuan saya tentang mall dihasilkan dari dunia luar. Dan karena ia berasal dari dunia luar, maka sudah pasti ia membutuhkan perantara. Nah, pengetahuan yang dihasilkan melalui perantara tersebut, dalam terminologi ilmu mantik, disebut sebagai ilmu hushuliy. Atau biasa juga diistilahkan dengan ilmu kasbiy. Dari kata kasab, yang berarti perolehan. Karena ilmu ini diperoleh melalui sebuah proses dan perantaraan. 

Ilmu Hudhuriy    

Berbeda halnya dengan corak pengetahuan pertama yang membutuhkan perantara dan peranan panca indra, model pengetahuan yang kedua ini tidak memerlukan perantara ataupun orang tertentu yang mengajari kita. Dengan kata lain, pengetahuan model kedua ini hadir dengan sendirinya, tanpa ada perantara apa-apa. Kata hudhur sendiri, secara kebahasaan, bermakna hadir. Penambahan ya nisbah dalam kata tersebut juga berfungsi sebagai penyifatan. Bertitik tumpu pada makna harfiah ini, kita bisa mengartikan ilmu hudhuriy sebagai ilmu yang hadir dalam diri seseorang tanpa melalui perantara.

Misalnya suatu ketika Anda ditikung oleh seorang teman yang mencuri dan berselingkuh dengan pacar Anda secara diam-diam. Kemudian Anda tahu. Setelah Anda tahu, kira-kira apa yang Anda rasakan ketika itu? Saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa sekujur tubuh dan pikiran Anda akan menjerit kesakitan dengan peristiwa penikungan tersebut. Tapi, kalau Anda ditanya, apa perantara di balik munculnya rasa sakit hati tersebut? Anda sendiri tak akan mampu jawab. Yang mungkin bisa Anda kemukakan ialah sebab di balik munculnya rasa itu. Sementara rasa sakitnya itu sendiri, datang tanpa perantara alias hadir begitu saja.

Nah, pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui sebuah perantara dan hadir begitu saja kedalam diri kita itu, dalam terminologi ilmu logika, disebut dengan istilah ilmu hudhuriy, ilmu yang hadir, karena memang ilmu atau pengetahuan tersebut hadir dengan sendirinya dalam diri kita tanpa melalui sebuah perantara dan peranan panca indra, seperti halnya jenis pengetahuan yang pertama.

Pertanyaan selanjutnya ialah: Adakah tolak ukur lain untuk membedakan kedua jenis pengetahuan ini? Seorang ahli ilmu logika kenamaan Syiah, Muhammad Ridha al-Muzhaffar, merangkum perbedaan-perbedaan antara dua jenis pengetahuan tersebut kedalam poin-poin sebagai berikut:

Pertama, ilmu hushuliy ditandai dengan hadirnya gambaran pengetahuan (shurat al-Ma’lum) dalam diri seseorang. Sedangkan ilmu hudhuriy ditandai dengan hadirnya pengetahuan itu sendiri dalam diri yang bersangkutan. Dengan ungkapan lain, ilmu hushuliy menghasilkan gambaran tentang sesuatu yang diketahui, sementara ilmu hudhuriy menghadirkan sesuatu yang diketahui itu sendiri.

Misalnya suatu ketika Anda melihat kobaran api di atas tumpukan jerami. Sekarang coba Anda perhatikan, ketika Anda memeroleh pengetahuan tentang api, apakah yang mendarat di kepala Anda itu gambaran tentang api, atau api itu sendiri? Kalau saja yang tertangkap oleh kepada Anda itu adalah api, maka kepala Anda sudah pasti terbakar. Dengan demikian, yang mendarat di kepala Anda adalah gambaran tentang api (shurat al-Nar), bukan api itu sendiri (nafs al-Nar).

Pengetahuan Anda tentang gambaran api itu masuk dalam kategori ilmu hushuliy, karena ia dihasilkan melalui sebuah perantara, yang dalam hal ini adalah bentuk dari api itu sendiri, yang kemudian melahirkan gambaran tentang api. Tapi coba bedakan dengan pengetahuan Anda tentang rasa haus dan lapar. Ketika Anda dihimpit oleh rasa lapar, yang hadir di kepala Anda bukan gambaran tentang rasa lapar, melainkan rasa lapar itu sendiri. Karena itu, pengetahuan Anda tentang rasa lapar masuk dalam kategori ilmu hudhuriy.

Kedua, wujud pengetahuan yang diketahui dengan ilmu hushuliy berbeda dengan wujud aslinya. Sedangkan wujud pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu hudhuriy sama dengan wujud aslinya. Misalnya pengetahuan Anda tentang pulpen. Wujud pengetahuan Anda tentang pulpen, yang mendarat di kepala Anda, sudah tentu berbeda dengan wujud aslinya di dunia nyata. Wujud asli pulpen bisa digunakan untuk menulis, juga bisa dijual, diambil, dibeli, dilempar, dan lain sebagainya. Sedangkan wujud pulpen yang ada di kepala Anda tidak bisa digunakan untuk apa-apa. Karena itu, pengetahuan Anda tentang pulpen masuk dalam kategori ilmu hushuliy.


Tapi coba lihat perbedaannya dengan pengetahuan Anda tentang rasa galau, misalnya. Wujud dari rasa galau yang Anda bayangkan dengan yang Anda rasakan itu hanya ada satu. Seperti apa? Ya seperti yang Anda rasakan itu. Tidak ada dua wujud yang berbeda. Lain halnya dengan wujud pulpen tadi, yang wujud pengetahuannya berbeda dengan wujud aslinya. Karena itu, pengetahuan Anda tentang rasa galau, dan rasa-rasa sejenisnya, itu masuk dalam kategori ilmu hudhuriy.

Ketiga, berdasarkan dua perbedaan di atas, ilmu hushuliy tidak berkonsekuensi pada adanya dampak tertentu. Sedangkan ilmu hudhuriy dapat memberikan dampak. Pengetahuan Anda tentang rasa lapar sudah pasti memberikan dampak, yaitu rasa lapar itu sendiri, yang pada akhirnya akan mendorong Anda untuk makan. Sedangkan pengetahuan Anda tentang api, misalnya, tentu tidak akan membuat kepala Anda terbakar.

Keempat, ilmu hushuliy berpotensi salah, sedangkan ilmu hudhuriy tak berpotensi salah. Mengapa demikian? Karena ilmu yang pertama diperoleh melalui perantara, dan perantara tersebut tentu saja berpotensi salah. Apalagi panca indra kita memang pada dasarnya berpotensi menipu. Sedangkan ilmu yang kedua, yakni ilmu hudhuriy, tidak diperoleh melalui perantara.

Ketika Anda dirundung rasa galau, tidak akan ada satu manusia pun di dunia ini yang bisa meragukan dan menyalahkan perasaan Anda. Mengapa? Ya karena memang Anda sendiri yang merasakan. Orang lain bisa saja menyalahkan, tapi perasaan yang Anda rasakan tetap saja tidak bisa Anda dustakan.  

Kelima, ilmu hushuliy terbagi kedalam dua bagian, yakni tashawwur dan tashdiq, seperti yang sudah penulis jelaskan dalam tulisan yang lalu. Sedangkan ilmu hudhuriy tak terbagi kedalam bagian tertentu. Karena kapanpun dan di manapun ia akan senantiasa disertai oleh sebuah penghukuman. Sedangkan ilmu hushuliy adakalanya berupa gambaran (tashawwur), dan adakalanya gambaran tersebut disertai penghukuman (tashdiq).

Bahasan mengenai dua konsep pengetahuan di atas sering disertakan di awal pembahasan ilmu mantik, untuk menegaskan bahwa ilmu mantik hanya bersinggungan dengan ilmu hushuliy, karena ilmu tersebut bisa diuji kebenaran dan kesalahannya, bukan ilmu hudhuriy, karena ilmu yang kedua ini tak berpotensi salah sehingga tak memerlukan adanya verifikasi dan uji kebenaran. Demikian, Allahu ‘alam bi al-Shawab.

Catatan: Bahasan mengenai ilmu hudhuriy dan ilmu hushuliy ini seharusnya diletakkan sebelum uraian mengenai konsep tashawwur dan tashdiq. Namun, karena alasan tertentu, penulis tidak sempat mencantumkan pembahasan ini di awal pengajian. Pada tulisan selanjutnya penulis akan menguraikan konsep jins (genus), sebagai lanjutan dari pembahasan mengenai kulliyyat khamsah, yang sudah diuraikan pada tulisan sebelumnya.


Artikel Terkait