Wiraswasta
3 minggu lalu · 1198 view · 6 menit baca · Politik 24429_88515.jpg
monitorday.com

Membedah Mimpi Prabowo Presiden

Bisa dibilang sudah empat kali mencoba mencalonkan diri sebagai presiden, empat kali pula dirinya harus menelan pil pahit. Jangan ditanya soal materiil, secara moril Prabowo terbilang tangguh menghadapi popularitasnya harus terlibas dengan lawan-lawannya. Jika ia orang lemah, sudah lunglai menerima kenyataannya. 

Prabowo adalah orang luar biasa yang ada di Indonesia, karena kekalahannya yang disaksikan dan tidak dikehendaki banyak orang, justru memunculkan banyak benih simpati atas kegigihannya mengejar keinginannya.

Usaha Prabowo menjadi presiden sudah dimulai sejak 2004 melalui Partai Golkar. Tetapi dirinya dikalahkan pada konvensi Golkar yang memenangkan Wiranto dan Salahuddin Wahid menjadi capres Partai Golkar. Pilpres 2004 dimenangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Usaha keduanya, dilakukan tahun 2009. Kali itu Prabowo telah memiliki kendaraannya sendiri, Partai Gerindra. Ia berpasangan dengan Sutrisno Bachir dari PAN. Sayang, keburu layu sebelum berkembang karena persyaratan kursi dukungannya saat itu tak terpenuhi. Hingga Prabowo bermanuver dengan PDI-P menggandeng Megawati Soekarnoputri sebagai capresnya dan dirinya menjadi cawapres. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono akhirnya membendung harapannya itu.

Usaha ketiganya, tahun 2014. Partai Gerindra sudah menjadi besar dan kuat, memiliki 73 kursi di DPR. Untuk menambahnya ia menggandeng PAN dengan menjadikan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya. Dukungan dari partai lain pun menambah kekuatannya, seperti Partai Golkar, PKS, dan PPP ikut mengusungnya. Harapannya ternyata kandas dikalahkan pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla.

Usaha keempat, tahun 2019. Berdasarkan pengumuman KPU 21 Mei 2019 kemarin, memenangkan Joko Widodo - Mar’uf Amin. Pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menelan perolehan suara lebih kecil dari Paslon 01. Gugatan ke KPU lewat MK sedang diajukan untuk mengusahakan Prabowo mendapatkan harapannya. Jika kalah lagi, maka ini adalah kekalahan keempat.  


Apakah di 2024 ia akan mencalonkan diri lagi?  

Politik itu cair, Prabowo harus berurusan dengan usianya, logistik, dan kekuatan politiknya. Sama halnya ketika Prabowo Subianto didapuk menjadi tamu di Kick Andy tahun 2006. Kemunculannya di situ untuk memberikan kesaksian atas cerita di dalam buku buatan Presiden RI Ke-3 Ir. Ing. B.J. Habibie berjudul Detik-Detik Yang Menentukan. 

Buku setebal 549 halaman itu mengungkapkan saat-saat yang menentukan dalam peralihan kekuasaan dari Soeharto kepada Habibie pada tahun 1998.

Pada kesaksiannya, Kick Andy bertanya pada Prabowo tentang keikutsertaannya kembali di pilpres. Jawabannya, ia tidak berminat mencalonkan diri sebagai presiden R.I. karena usia. 

***

Sutan Sjahrir tidak berniat merebut jabatan presiden dari tangan Soekarno. Tetapi Tan Malaka mencobanya. Ia mengaku menyesal tidak ikut serta dalam mengurus proklamasi kemerdekaan RI.

Sesudah Jepang kalah, Tan Malaka meninggalkan persembunyiannya di Banten menuju Jakarta. Tan Malaka yang waktu itu memakai nama samaran Abdulradjak bertemu dengan Soekarno atas bantuan Mr. Soebardjo dan membuka samarannya.

Soekarno terpesona dengan senioritas Tan Malaka yang telah ia kenal sejak masih duduk di bangku sekolah. Kedatangan Tan Malaka mendengungkan tentang revolusi internasional dan membuat Soekarno terkesima dengan pemikirannya.

Maka tercetus kata-kata Soekarno kepada Tan Malaka. "Andaikata saya tidak lagi bebas bertindak, maka kepemimpinan revolusi ini saya serahkan kepada Anda."

Mr. Soebardjo, ayah angkat Tan Malaka dan calon menteri luar negeri kabinet presidensiil itu membisiki Tan Malaka untuk membuat tawaran Soekarno shohih hitam di atas putih. Soekarno yang mabuk visi Tan Malaka dengan mudah membuatkannya. Tetapi hal itu terganjal oleh Mohammad Hatta yang tidak sepakat membuat “surat wasiat politik” tersebut. Sukarno dilematis, karena sulit begitu saja menarik mandatnya sebagai janji atas seniornya itu.


Hatta membuat jalan keluar, untuk melibatkan empat orang ahli waris di dalam surat wasiat politik tersebut. Mereka adalah: Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Iwa Koesoemasoemantri, dan Wongsonegoro.

Meski ada tiga orang lainnya, surat wasiat itu menjadi perangsang Tan Malaka untuk mencari jalan sendiri. Sjahrir diajak berkonspirasi dengannya untuk mengambilalih kekuasaan Soekarno. Tan Malaka akan menjadi presiden dan Sjahrir tetap menjadi perdana menteri.

Sjahrir menolak halus dengan meminta Tan Malaka harus mendapatkan popularitas 10%-nya Soekarno. Jika ia mendapatkannya maka Sjahrir akan bergabung. Cara Sjahrir itu bukan tanpa perhitungan, sebab ia melihat meskipun Tan Malaka bagian dari tokoh perjuangan merebut kemerdekaan, tetapi kehidupannya banyak dihabiskan dengan menyamar. Tak banyak yang mengenalnya.

Tan Malaka juga tak kalah akal. Surat wasiat politik itu dibawa-bawa selama perjalanan kelilingnya mencari dukungan rakyat dan pemimpin daerah. Liciknya, tiga nama yang tertera, dihapusnya. Ditambahkan lagi mengkondisikan hal terburuk dengan memberi kesan seolah-olah Soekarno dan Hatta telah menjadi tawanan Inggris di Jakarta dan tak bebas bertindak lagi.

Soekarno tahu akal-akalan Tan Malaka. Namun ia tidak ingin menyakiti hati seniornya itu dengan sanksi tegas. Kesan buruk yang dilahirkan Tan Malaka itu dijawab Soekarno dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia meski kondisi negara tengah rawan pada akhir 1945 dan Soekarno adalah target utama Belanda untuk diringkus.

Soekarno membuktikan masih bebas bergerak dan tetap diminati dan dielu-elukan rakyat Indonesia.

***

Harapan Prabowo menjadi presiden memang bukan mimpi. Yang melahirkan jadi impiannya adalah orang-orang yang berada di sekitarnya dengan mendukung Prabowo menang pilpres. Berbagai upaya meraih kemenangan dilakukan. Bahkan banyak yang menyangka akibat kontestasi pilpres 2019, Indonesia terpecah belah. Itu salah besar. Yang benar adalah rakyat punya harapan Prabowo Subianto menjadi presiden.

Di dalam buku The Intepretation of Dream buatan Sigmund Freud ada hal yang menarik terkait pilpres kali ini. Buku itu pula yang membuat asistennya Carl Gustav Jung mengundurkan diri. Perdebatan awalnya adalah ketika Freud dan Jung punya penafsiran impian masing-masing yang diperkuat dengan teori. Jung melakukan konfirmasi penafsiran Freud tetapi dijawab tegas oleh Freud ia tak bisa mempertaruhkan otoritasnya.

Perbedaan pendapat itu berkisar tentang pendapat Freud bahwa manusia itu mirip mesin yang bisa digerakkan dengan memicu psikisnya. Jung menyanggahnya dengan tegas bahwa manusia tidak sama dengan mesin.


Jika kita melihat apa yang terjadi di media sosial dan lingkungan sosial selama kampanye pilpres 2019, apa yang disampaikan Freud mengacu pada kasus sindir menyindir cebong kampret. Dua istilah tersebut tujuannya untuk menyudutkan pihak yang tak sama dengan pilihannya. Cebong mencerca kampret dan kampret memaki cebong. Stigma ini dibangun melalui mesin politik yang mempengaruhi opini publik.

Jung berpendapat mimpi yang menjadi kenyataan terbentuk secara alamiah, bukan menjadikan manusia menjadi mesin psikologi. Tetapi fenomena ini benar-benar terjadi. Manusia menjadi mesin perang ketika apa yang diharapkan dan diimpikannya diserang. Amunisinya mulai dari memutus persahabatan, bersekongkol dengan yang sepaham, serta meneriakkan kata yang tak harus dimengerti alasannya.

Ideologi sama halnya dengan opini, kumpulan gagasan dan ide yang abstrak kemudian diterapkan menjadi sistem. Yang menerimanya bisa tulus menerima dengan hati suka atau terpaksa menerima dengan hati tak suka. Dengan cara diasup terus-menerus, maka ideologi menemukan inti. Seperti titik terang di dalam gelap untuk memandu jalan keluar.

Hakiki adalah perasaan yang ditangkap wujudnya oleh panca indera. Sedangkan hakikat adalah puncak atau sumber dari segala sesuatu.

Berharap Prabowo presiden adalah hakiki. Ketika mendapati Prabowo tidak presiden itu adalah hakikat. 

Mimpi lahir dari alam bawah sadar yang bisa muncul tanpa alasan hadirnya atau bahkan alam sadar yang terbawa ke dalam alam bawah sadar hingga kehadirannya seperti kenyataan.

Harapan atau asa merupakan dasar dari kepercayaan tentang sesuatu yang diinginkan, tetapi untuk mewujudkannya adalah dengan cara meyakininya. Jika Prabowo presiden, itu harapan yang menjadi kenyataan. Tetapi jika Prabowo tak presiden, itu harapan tak menjadi kenyataan.

Hashtag #GantiPresiden merupakan senjata ampuh yang tekniknya semirip dengan psikoanalisis ala Freud. Sebab dalam hashtag tersebut sudah terdapat indikator mempengaruhi pikiran, menggerakkan perilaku manusia, dan membangkitkan penyakit psikologis dan emosional. 

Ketika hashtag tersebut dianulir oleh pembuatnya (baca: diharamkan) Mardani Ali Sera, buyarlah mimpi-mimpi indah yang direkayasa.

Memang, untuk urusan politik, jangan mainkan perasaan. Cukup logika saja. 

Artikel Terkait