“Dunia adalah organ batang. Tuhan memutar rodanya. Dan kita semua menari atas musik-Nya.” Ungkapan itu adalah penggalan kalimat terakhir yang terbata diucapkan oleh Heydrich dalam sebuah adegan film bertitel ‘HHhH’.

Tak menampilkan sosok Fuhrer, tapi flim ini berhasil menceritakan bagaimana Nazi tumbuh berkembang menjadi partai penguasa yang Rasis di Jerman. Ia beruntung telah merekrut Reinhard Heydrich, yang dianugerahi gelar Heyprotector (sang pelindung), adalah jenderal Schutzstaffel (SS), organisasi paramiliter utama di bawah kontrol Nazi.

Heydrich adalah sosok di balik skenario pembersihan ras non-Arya, dan berhasil menaklukkan hampir separuh Eropa.  

Nazi tercatat sebagai partai paling beringas yang secara sistematis melegitimasi kekerasan untuk kekuasaan, bahkan untuk alasan hanya sebuah nama. Orang-orang dikumpul lalu ditembaki karena tak tahu dan tak punya informasi tentang keberadaan pemberontak. Atau deretan orang yang dieksekusi karena mereka memiliki nama Kralova Mucha, Gross Velesy, Jan Guzira, Jan Mikalas dan siapapun yang bisa diidentikkan sebagai Yahudi.

Film ini bersetting perang dunia, yang selama dekade 1930 hingga 1940an, kebenaran lebih banyak ditentukan oleh pemilik senjata. Ada dikotomi antara pejuang dan pemberontak. Juga ditemukan mereka yang berkhianat, salah satunya karena takut peluru. Yang bertahan, hanya mereka yang punya sedikit keberanian.

Jan Kubis dan Josef Gabcik mungkin sedang menjalankan misi pertamanya, karenanya mereka begitu gugup saat menyusun rencana melenyapkan Heydrich. Merek tahu, menyerang Heydprotector adalah bunuh diri. Bahkan misi itu diyakini tidak akan menyudahi kekejaman Nazi, sebaliknya pembantaian atas tuduhan ‘pemberontak’ makin brutal dan massif.

“Pembunuhan Heydrich lebih dari kekalahan perang…”, kata Himmler, seorang petinggi Nazi, kepada Hitler, gambaran betapa Heydrich adalah sosok yang amat berpengaruh dalam tubuh Nazi. Berhasil menendang partai Komunis adalah prestasinya yang amat penting bagi kebesaran partai juga arti penting bagi upaya penguasaan dunia.  

Heydrich akan ditugaskan di Paris seperti yang pernah dijanjikannya ke sang istri. Namun, ia keburu mati oleh rencana sempurna dari dua orang Amerika dan Inggris, disokong beberapa pemuda pejuang Ceko yang tak pernah respek dengan tentara Jerman. Ia mati di Praha, kota tempatnya mempertontonkan kekejaman perang.

“Rawatlah anak kita, menjadi bangsa Arya yang baik,” kata Richard kepada istrinya, di ujung ajalnya. Namun definisi baik tak dijelaskannya, ataukah karena memang ‘baik’ tak pernah terdefinisikan dalam perang.

Heydrich hanya melanjutkan tentang pentingnya ‘nilai’, ia ingin anaknya memiliki nama yang ‘bernilai’. Bahkan di ujung ajalnya, Heydrich masih berusaha menanamkan jiwa rasialis kepada keturunannya.      

Pembunuhan Rychard mungkin menjadi titik penting yang tidak hanya menguatkan sentiment anti-Yahudi berganti menjadi pembersihan ras ‘non-Jerman’. Tapi, “Final Solution atas Permasalahan Yahudi” adalah karya ilmiah si ‘hati besi’ Heydrich yang dititipkannya untuk Hitler mungkin adalah blue print untuk perang yang akan terus berlangsung.

Propaganda dan rencana besar itu disusun dalam sebuah dokumen yang dilengkapi dengan petunjuk-teknis hingga penjelas absurd tentang mengapa harus bertindak Rasis, demi mengembalikan kejayaan Jerman. Sepertinya, dokumen itu adalah berkas rujukan mengurai rencana dan strategi, yang selanjutnya digunakan oleh Hitler melanjutkan kisah genosida paling mengerikan sepanjang perang dunia.

Sebagian besar penguasa melihat perang sebagai alat satu-satunya untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Untuk menyempurnakan niatnya, mereka membungkusnya dengan embel-embel anti-ras, yang dianggap paling efektif untuk menyulut amarah, sekaligus paling muskil untuk dihindari.   

Ada banyak pertanyaan muncul setelah menonton film ini. Salah satunya, apa maksud sutradara Cedric Jimenez menggunakan ‘HHhH’ sebagai judul film? Mungkin jawaban dari pertanyaan itu tak lebih absurd dari pertanyaan: perang dunia sudah usai, tapi mengapa sentimen rasis masih digunakan hingga kini?     

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus menggema, bahkan hingga kini. Kita menyaksikan bagaimana orang-orang mengidentifikasi diri secara eksklusif sebagai bagian dari satu kelompok, sambil membuat garis pembeda terhadap kelompok lainnya.

Garis eksklusif itu kerap muncul atas nama bangsa, kelompok organisasi, bahkan agama. Garis eksklusif itu lalu melahirkan serangan-serangan rasis yang mematikan. Di Amerika, kelompok Klu Klux Klan (KKK) adalah kisah nyata yang kerap melakukan propaganda keji dan serangan rasis mematikan.

KKK

Klu Klux Klan, sebuah organisasi rahasia penganut supremasi kulit putih di Amerika. KKK telah melakukan banyak pembunuhan kepada sejumlah pasangan sex beda ras, mereka menunjukkan sikap anti-kulit hitam yang demonstratif, bahkan tak segan pula menghabisi kulit putih yang pro kepada kulit warna.

Untuk menguatkan eksistensinya, mereka secara parsial mendukung dan mengkampanyekan calon senator yang kelak akan menjadi kawan mereka dalam kursi parlemen Amerika.

Berbeda dengan HHhH, kisah tentang KKK memang belum (atau sementara digarap) jadi film. Namun keduanya benar-benar nyata dan telah menunjukkan sisi buruk perilaku bengis umat manusia, atas nama warna kulit, atas nama kebanggaan, dan prasangka-prasangka.  

Kebanggaan menjadi bagian dari kelompok, untuk takdir warna kulit atau agama yang dipeluknya? Betatapun semua terdengar begitu emosionil, alih-alih merawatnya menjadi bagian dari peradaban.

Seorang tak mungkin dihukum karena warna kulit atau jenis rambut. Seorang anak lahir, sama sekali tak dilibatkan dalam proses pertemuan pertama kali kedua calon orangtuanya. Dan seseorang tak pernah diberi kewenangan untuk menunjuk di belahan benua apa ia ingin dilahirkan.

Begitu juga aspek spiritual, pilihan keyakinan terhadap sebuah agama, sangat individualis. Karenanya, menghukum orang lain karena warna kulit dan agama, jelas ini adalah wilayah prasangka, dan prasangka tak mungkin digunakan untuk menegakkan keadilan.  

Lalu, Bagaimana Negara Menyikapinya?

Pertengahan Juli 2017 lalu, Pemerintah mengeluarkan Perppu yang mengatur Ormas agar tidak liar dan menjadi radikal. Hizbut Tahrir Indonesia (HT) selanjutnya ditetapkan sebagai organisasi terlarang, menyusul negara-negara Timur Tengah, Bangladesh, Mesir,Kazakhstan, Suriah, Turki, Libya, Yordania, Arab Saudi, Tunisia, Pakistan, Tajikistan, Kirgistan.

Negara lainnya, seperti Malaysia, Denmark, Perancis, Spanyol, Jerman telah sepakat melarang keberadaan HT. Di Rusia, sejak 1999, juga China, menganggap Hizbut Tahrir sebagai organisasi " kriminal " dan " teroris ". Sementara, di Jerman, 2006, melarangnya karena dianggap anti semit.

Apakah Perppu berhasil meredam gerakan-gerakan radikal? Tentu masih butuh waktu untuk membuktikannya. Kenyataannya, prasangka-prasangka masih berpeluang tumbuh subur di tengah masyarakat. HT bisa saja bubar, tapi serangan-serangan rasis dan gerakan fundamentalis menentang negara bisa timbul kapan saja.

Negara perlu membuat langkah lanjutan, apalagi Perppu itu hanya terbatas pada mereka yang terafiliasi dengan sebuah kelompok yang terindikasi radikal. Sementara, benih-benih prasangka dapat muncul kapan saja di dalam benak individu, oleh provokasi, oleh hasutan, bahkan saat mendengar ceramah ustad di mimbar mesjid.   

Kultur Bersama   

Melawan ekstremisme kini, memang tidak semudah membedah ‘HHhH’ atau menentang proyek film ‘KKK’. Negara perlu mengembalikan semangat leluhur seperti apa yang digambarkan oleh Benedict Anderson sebagai ‘komunitas terbayang’. Komunitas terbayang, adalah mimpi, sesuatu yang terbayang, yang bisa diterima oleh semua kelompok.  

Indonesia adalah komunitas besar, sebuah bangsa yang diimpikan, yang dahulu hanya hidup di dalam benak para pejuang. Dan mimpi bersama itu harus dijaga bersama dengan sesuatu yang bisa diterima oleh semua. Sesuatu yang nilainya lebih tinggi di atas kepentingan kelompok-kelompok kecil, kultur bersama.

Menyebarkan kultur bersama, menurut Yuval Noah Harari (2017), adalah cara yang selama ini berhasil ditempuh oleh imperium-imperium sepanjang peradaban manusia. Turki Ustmani tumbuh kuat justru karena memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Persia, Byzantium dan Arab.

Sebelumnya, Romawi telah berdiri kokoh sebagai imperium yang menguasai Eropa hingga 500 abad lamanya. Romawi mencapai kestabilan politik  setelah menancapkan visi Pax Romana, era yang hidup dengan slogan perdamaian Romawi.

Kedua imperium itu akhirnya menemui ajalnya, setelah dikendalikan oleh diktator, juga oleh musuh dari dalam dan perilaku korupsi para pejabatnya. 

Kultur bersama bukan rekayasa. Negara hanya perlu memberi ruang bagi setiap entitas untuk tetap tumbuh dan berkembang, tanpa sekat, tanpa dikotomi besar-kecil, pribumi-asing, religius-kafir.