Awal tahun 2021 ditandai dengan berita tentang mogoknya produsen tempe dan tahu. Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) melalui surat edarannya menyatakan 90% produsen tempe tahu di Indonesia akan melakukan mogok. Penyebab utamanya: harga kedelai naik sampai 50%, sementara harga jual produk tidak dapat menyesuaikan.

Tempe dan tahu di Indonesia berbahan dasar kedelai, yang sebagian besar harus didatangkan dari negara lain. BPS mencatat pada tahun 2018 produksi kedelai di dalam negeri adalah 982.598 ton, dan untuk memenuhi kebutuhan domestik masih diperlukan impor sebanyak 2.585.809 ton. Itu berarti, lebih dari 72% kebutuhan kedelai Indonesia dipenuhi dari impor.

Sebagian besar impor kedelai di Indonesia adalah dari Amerika Serikat. Tahun 2019, impor kedelai dari negara tersebut adalah 2.513.311 ton, dari total impor sebesar 2.670.086 ton. Hampir 95% total impor kedelai Indonesia berasal dari AS.

Berdasarkan penggunaannya, 70% dari kedelai impor dipakai sebagai bahan baku tempe, 25% untuk membuat tahu, dan sisanya untuk keperluan lain (Made Astawan, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Ketua Forum Tempe Indonesia, seperti dikutip oleh kompas.com, 23 Agustus 2020).

Ada beberapa alasan mengapa produsen tempe lebih menyukai kedelai impor ketimbang kedelai lokal. Pertama, dari sisi produktivitas, kedelai impor lebih baik dibanding kedelai lokal. Sebagai gambaran, satu kilogram kedelai impor dapat menghasilkan 1,8 kilogram tempe; bandingkan dengan kedelai lokal, untuk berat yang sama hanya menghasilkan 1,4 kilogram tempe.

Proses produksi tempe dari kedelai impor juga lebih mudah. Konon, ukuran kedelai lokal tidak seragam dan kurang bersih, proses pengelupasan kulit ketika pencucian juga lebih sulit, dan proses peragian memerlukan waktu yang lebih lama.

Alasan lain adalah aspek finansial. Harga kedelai impor lebih murah dibandingkan harga kedelai lokal. Dalam situasi ‘normal’, harga kedelai impor adalah Rp. 6.500,- - Rp.7.000,- per kilogram., sedangkan kedelai lokal Rp.8.000,- per kilogram. Saat ini ketika harga melonjak, per kilogram kedelai impor mencapai Rp.9.500,- - Rp.10.000,-.

Ketergantungan yang tinggi pada kedelai impor riskan terhadap perubahan, antara lain nilai tukar mata uang, kondisi negara pengekspor, dan (kali ini, konon) adanya kenaikan impor kedelai oleh China dari Amerika Serikat. Dalam jangka panjang Indonesia harus mengurangi impor kedelai, dan akan lebih baik jika akhirnya dapat mencapai swasembada kedelai.

Ada dua cara mengurangi impor kedelai. Pertama, meningkatkan produksi kedelai lokal, baik dengan langkah ekstensifikasi (menambah luas lahan panen), maupun intensifikasi (meningkatkan produktivitas lahan). Menambah luas lahan kedelai seperti mengubah haluan 180 derajat, karena pada tahun-tahun terakhir ini yang terjadi adalah makin menurunnya lahan tanaman kedelai. Petani yang semula menanam kedelai beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Sementara itu, meningkatkan produktivitas lahan menjadi hal yang sangat menantang sebab produktivitas lahan kedelai di Indonesia adalah 1,5 sampai 2 ton per hektar. Angka ini setengah dari produktivitas lahan kedelai di Amerika Serikat. Di AS per hektar bisa menghasilkan 4 ton kedelai (Made Astawan, seperti dikutip kompas.com, 3 Januari 2021).

Bukan berarti tantangan meningkatkan produksi kedelai tidak dapat dicapai, sebab Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada tahun 1992. Saat itu, hasil panen kedelai di dalam negeri mencapai 1,8 juta ton.

Cara lain untuk mengurangi ketergantungan pada kedelai adalah mengganti kedelai dengan biji-bijian atau kacang-kacangan lain. Di Indonesia dikenal tempe dengan bahan baku non-kedelai.

Kalau kita ke Jawa Barat, masyarakat setempat memanfaatkan bungkil kacang yang dibuat tempe. Mereka menamakannya oncom. Kandungan gizi oncom cukup lengkap: protein, karbohidrat, natrium, kalium, dan zat besi. Tak cuma keripik oncom, kita juga mengenal comro (makanan dari parutan singkong berbetuk bulat yang diisi sambal oncom, kemudian digoreng), dan tumis oncom leunca sebagai lauk, teman makan nasi. Sampai saat ini oncom cukup mudah ditemukan di pasar.

Masyarakat yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah, dan Kulon Progo, Yogyakarta, mengenal tempe benguk, jenis tempe yang dibuat dari kacang koro benguk. Gizinya tak kalah dari tempe kedelai. Pun dengan rasanya. Untuk para penggemarnya, tempe benguk bahkan dinilai lebih enak dibanding tempe kedelai. Tempe benguk goreng tepung atau keripik tempe benguk biasanya menjadi camilan. Di Kulon Progo, tempe benguk dimasak dengan santan menjadi besengek, menemani geblek, makanan khas daerah itu.

Di Pacitan, Jawa Timur, dan Gunung Kidul, Yogyakarta, masyarakat mengenal tempe lamtoro atau tempe mlanding, terbuat dari petai cina atau lamtoro gung atau mlanding (dalam bahasa Jawa). Sayangnya, saat ini tempe jenis ini makin sulit ditemukan. Tempe mlanding biasanya dimasak menjadi sayur: botok atau sayur pedas bersantan.

Di wilayah Sumatera, ada pula yang mencoba membuat tempe dari biji karet. Limbah biji karet yang semula tidak dimanfaatkan, kini diolah menjadi pangan bergizi. Di tempat lain ada pula yang membuat tempe dari biji buah mangrove.

Oncom, tempe benguk, tempe lamtoro, dan tempe biji karet, berbahan-baku kacang-kacangan lokal. Jika mau menggali lebih dalam, akan banyak lagi ditemukan tempe berbahan baku biji-bijian atau kacang-kacangan lain dari wilayah lain di Indonesia.

Selain oncom, aneka tempe dengan bahan baku non-kedelai sayangnya kurang populer di tingkat nasional. Sehingga, memperkenalkan tempe berbahan non-kedelai memiliki tantangan tersendiri, yaitu mengubah selera konsumen.

Namun ketika sebagian besar kedelai untuk bahan baku tempe masih diimpor, maka sudah saatnya menggali bahan pangan unik dari setiap daerah di Nusantara, seperti tempe benguk, tempe lamtoro, atau tempe biji karet. Hal ini bukan hanya meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga sebagai upaya melepaskan tempe dari jerat kedelai impor.

Menjaga ketahanan pangan perlu dicapai dengan meningkatkan kandungan lokal produk pangan, antara lain bahan baku untuk tempe. Menjadi bangsa tempe (berbahan dasar lokal) memang tidak mudah, sebuah tantangan besar yang perlu perjuangan serius.