“Laki-laki, baik dalam segi kapasitas biologisnya sebagai laki-laki atau dalam kapasitas sosialnya sebagai ayah, suami, atau penafsir kitab suci, lebih mampu dari pada perempuan dalam mencapai tingkat ketakwaan atau melaksanakan ajaran agama”.

Membangun sebuah prinsip egalitarianisme dan anti patriarkalisme dalam alquran. Barlas menggunakan dua argumen penting, yaitu argumen sejarah dan hermeneutik. Argumentasi sejarah berarti penggunaan karakter politik tekstual dan seksual yang berkembang di kalangan masyarakat Islam, terutama proses yang telah menghasilkan tafsir-tafsir di dalam Islam yang memiliki kecenderungan patriarki.

Secara garis besar, Barlas ingin menekankan dua hal, pertama yaitu menentang pembacaan alquran yang menindas perempuan, dan kedua menawarkan pembacaan yang mendukung bahwa perempuan dapat berjuang untuk kesetaraan dalam kerangka ajaran Islam. Ia juga menolak klaim yang dibuat oleh kaum konservatif ataupun feminis yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang memihak patriarkhi.

Menurut Barlas, teks alquran mempunyai sifat polisemik, yang berarti mempunyai berbagai kemungkinan pembacaan atau penafsiran. Barlas juga menolak relativisme penafsiran, menurutnya semua model pembacaan pada dasarnya benar. Dan yang terakhir dia mengungkapkan pentingnya penggunaan hermeneutik, terutama dalam karakter ontologi penafsiran makna tentang diri tuhan.

Sebagai seorang muslim, dia tetap pada prinsip bahwa alquran adalah wacana suci yang tidak dapat ditiru, diganggu dan diperdebatkan, akan tetapi pemahaman terhadap alquran itu sendiri bisa diperdebatkan.

Patriarkalisme

Barlas menolak patriarkhisme dalam alquran yang berarti aturan kebapakan atau politik pengistimewaan laki-laki. Dia membaca patriarkhi yang ada pada penafsiran konservatif terdahulu adalah karena mereka menafsirkan teks secara parsial dan terpotong-potong, bukan dengan cara melihat alquran sebagai sebuah totalitas hermeneutik yang kompleks maupun sebagai teks yang memiliki latar belakang historis dan memiliki perpaduan tematis dan struktural.

Dalam mendefinisikan patriarkhi, Asma Barlas membedakan antara makna spesifik dan universal. Secara spesifik, patriarki berarti kekuasaan spesifik yang secara historis dipegang oleh para ayah, yang kemudian di analogikan pandangan tentang tuhan sebagai ayah/laki-laki yang kemudian berlanjut pada klaim suami untuk mengatur istri dan anak-anaknya.

Sedangkan secara universal, patriarki berarti politik pembedaan jenis kelamin yang mengunggulkan laki-laki dengna cara mengalihkan jenis kelamin kedalam gender yang dipolitisasi, yang mengistimewakan laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai yang berbeda dan lebih rendah.

Kemudian dalam penggunaan hermeneutik untuk menafsirkan tentang arti diri tuhan yang cenderung diartikan sebagai maskulin dengan penggunaan kata huwa, Barlas menafsirkan dengan prinsip-prinsip pembacaan yang membebaskan, yaitu dengan prinsip keesaan (tauhid), keadilan dan keunikan Tuhan.

Prinsip keesaan Tuhan (tauhid)

Pemahaman terhadap konsep tauhid, tentu akan sangat berpengaruh secara luas terhadap cara kita memahami Tuhan dan firmanNya. Menurut Barlas prinsip keesaan tuhan berarti ketakterbagian kedaulatan Tuhan atau tidak ada perpanjangan dari kekuasaan tuhan yang bertolak belakang dengan doktrin tauhid.

Karena teori-teori tentang kekuasaan laki-laki atas perempuan bertolak belakang dengan tauhid, maka harus ditolak secara teologis. Meskipun jelas kita semua menolak membayangkan bapak sebagai perwakilan dari tuhan.

Namun banyak yang masih beranggapan tidak masalah melanjutkan pemaskulinan tuhan secara bahasa dan mempropagandakan supremasi laki-laki atas perempuan dengan menggunakan legitimasi bahwa laki-laki adalah wakil tuhan di muka bumi.

Menurut Barlas asal mula teologi patriarkis dalam Islam bisa dilacak dari ilmu kalam dan sufisme. Meskipun secara formal kaum teolog menolak penerapan kata bapak terhadap tuhan, namun ungkapan-ungkapan simbolis mereka mencerminkan supremasi kelaki-lakian. Dan menurutnya, ilmu kalan dan sufisme telah melakukan kesalahan mempresentasikan tuhan.

Prinsip Keadilan Tuhan

Prinsip ini berarti tuhan maha adil dan tidak pernah melakukan penzaliman terhadap siapapun. Keadilan tuhan membatasi diriNya pada penghormatan terhadap hak manusia. Karena tuhan tidak pernah melakukan kezaliman kepada siapapun, maka firman tuhan (alquran) juga tidak mungkin mengajarkan kedzaliman kepada siapapun. Sementara dalam budaya patriarkhis terkesan adanya superioritas laki-laki atas perempuan dan tentunya memiliki dampak penzaliman satu atas lain di beberapa hal.

Prinsip Keunikan Tuhan

Prinsip ini bermakna tuhan itu tidak tertandingi dan tidak terwakili. Terutama dalam istilah yang menyerupakan tuhan dengan ciptaanNya (antropomorfis), penolakan tuhan atas penjenis kelaminan. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa tuhan mempunyai kecenderungan terhadap jenis kelamin tertentu.

Seksualitas dan Gender

persamaan (samenesss), perbedaan (difference) dan kesetaraan (equality) antara laki-laki dan perempuan. Barlas mengakui bahwa alquran mengakui perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, namun perbedaan jasad tersebut tidak menyebabkan mereka berebda dalam tataran etika dan moral.

Laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan, bahkan persamaan pada tingkat ontologis, dimana laki-laki dan perempuan diciptakan dari nafs (single self) sehingga yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain. Persamaan antara laki-laki dan perempuan adalah bahwa keduanya memiliki kapasitas yang sama sebagai agen moral yang berati sam-sama memiliki tugas-tugas kemanusiaan yang sama.

Penafsiran ini tentu berbeda dengan kebanyakan tafsir klasik yang mengartikan kata nafs wahidah dengan arti dari jiwa yang satu, yaitu dari Nabi Adam. Penafsiran ini pun menimbulkan kesan ketidaksetaraan, bahwa perempuan hanya diciptakan dari bagian Adam. Berbeda dengan Asma Barlas yang mengartikan bahwa nafs wahidah berarti single self atau jiwa yang satu. Dalam arti diciptakan dari sesuatu yang sama.

Menurut Barlas, permasalahan yang dihadapi perempuan dalam hal ini adalah perbedaan antara konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender. Pemahaman kedua konsep tersebut dengan jelas sangat diperlukan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan ketidakadilan gender (gender inequality) dengan ketidakadilan sosial.

Sex atau jenis kelamin berarti pensifatan atau pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Seperti jenis kelamin laki-laki mempunyai penis dan memproduksi sperma. Sedangkan jenis kelamin perempuan memiliki rahim dan saluran untuk melahirkan.

Sedangkan gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang merupakan hasil dekonstruksi baik secara sosial maupun kultural. Misalnya perempuan yang identik dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, jantan dan perkasa.

Ciri dari sifat itu sendiri bisa dipertukarkan dan bergeser dari waktu dan tempat yang berbeda. Dimana ada laki-laki yang  bersifat emosional, lemah lembut dan  keibuan, sementara di pedesaan ada pula perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Melalui proses yang panjang, akhirnya sosialisasi gender dianggap sebagai ketentuan tuhan yang seolah-olah bersifat biologis dan tidak dapat dirubah lagi.

Perbedaan gender sebenarnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun pada kenyataannya, perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan.