Anak terlahir dengan membawa ciri khas yang berbeda. Anak kembar sekalipun, ia mempunyai keunikannya tersendiri.

Rasa penasarannya terhadap sesuatu juga kerap tak bisa ditahan. Perhatikan saja pada anak yang sedang senang-senangnya bereksplorasi. Bagaimana gerak-geriknya, senyumnya, nyengirnya. Sungguh menyenangkan dan menghibur, bukan?

Tetapi di balik proses tumbuh-kembang anak, terkadang memunculkan sebuah kekhawatiran oleh orang tua, termasuk kakek-nenek, saudara terdekat. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk saat bermain, tergelincir, terbentur benda keras, pertumbuhannya tidak baik, dan nasib masa depan. Perasaan seperti ini adalah hal yang umum dialami para orang tua.

Sebenarnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan kalau orang tua menyadari bahwa anak bereksplorasi dengan gayanya sendiri-baginya adalah naluri alamiah yang menyenangkan. Ia perlu didukung. Tugas orang tua adalah membersamainya dengan ceria. 

Soal berliku proses eksplorasi yang dijalani anak adalah bagian proses belajar menuju pembentukan mental. Misal anak menangis karena terbentur benda keras, atau terjatuh orang tua juga tak perlu menunjukan ekspresi panik. Bereaksi dengan ekspresi tenang sembari membisiki dengan suara lembut agar lebih berhati-hati adalah pilihan sikap yang dianjurkan.

Salah satu gambaran pola asuh anak sejak dini demikian akan menjadi cerminan yang baik bagi perkembangan mental anak dimasa mendatang. 

Kembali ke topik anak bereksplorasi. Sependek pengamatan saya, ada juga orang tua yang terlampau protektif. Memproteksi anak memang sebuah keharusan, tetapi sikap yang berlebihan akan membuat anak banyak kehilangan kesempatan belajar dan tugas-tugas perkembangan berikutnya bisa terhambat. 

Pun kelak kian bentambah usianya, risiko yang akan dialaminya akan sedikit punya keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Sebab situasi psikologisnya kerap dibayangi otoritas orang tua. Itulah mengapa sangat sedikit yang punya kesadaran bahwa yang melejitkan atau membenamkan kreativitas anak bukanlah siapa-siapa, melainkan orang-orang terdekat.

Marah

Dalam mengasuh anak, pernahkah orang tua atau orang terdekat memarahinya? Kita, terutama yang saat ini menjadi orang tua, tentu saja pernah menjadi anak sekaligus punya pengalaman dimarahi. 

Juga sering kita mendengar ungkapan bahwa memarahi anak adalah bentuk lain cara mencintai anak.

Menurut saya, ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Di mana-mana, ketika anak dimarahi, sekurang-kurangnya ada ekspresi rasa takut. Jika ketakutan yang diulang-ulang, pilihannya kelak anak akan menjadi penurut atau pembangkang bahkan mendendam.

Cinta

Mencintai anak adalah membebaskan dalam arti tidak kebablasan. Mencintai anak juga bukanlah mengikatnya dengan banyak keinginan orang tua.

Misalnya orang tua yang bercakap perihal mencintai anak, tetapi di lain kesempatan anak diminta untuk menurut apa kehendak orang tua. Seperti terkait dengan masa depan anak yang diproyeksikan orang tua. Dengan kalimat lain, atas nama cinta, masa depan anak dipilihkan dan ditentukan oleh orang tua.

Kalau sesuai dengan panggilan jiwa anak tidak ada masalah. Pertanyaannya adalah, apakah anak yang jalan hidupnya diproyeksikan orang tua bisa berprestasi? Bisa saja, tetapi tidak banyak yang bisa menikmati hidupnya. Alias ia kehilangan dirinya yang orisinal, diri yang unik. 

Mencintai anak memang banyak caranya. Tetapi cara yang demokratis salah satu pilihan yang rasional dalam membersamai anak. Di situ ada kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas hidupnya. Sudah begitu, anak akan memiliki banyak kesempatan untuk bereksplorasi dan berkreasi.

Berangkat dari pengalaman akan kekayaan rasa yang diperoleh dari lika-liku berekplorasi akan memunculkan kesadaran bahwa hidup itu sangatlah dinamis, ada kalanya susah-senang, tangis-tawa, gagal-berhasil adalah sesi-sesi kehidupan yang mesti dinikmati prosesnya.

Menumbuhkan kesadaran semacam ini tidaklah mudah. Orang tua perlu melonggarkan ego sembari membersamai anak dengan hangat supaya anak bisa menikmati dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Ceria dalam proses melejitkan potensi dan lihai membawa diri dalam segala situasi. Mampu memimpin dirinya sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Seperti Douglas MacArthur seorang jenderal tempur menulis sebuah puisi untuk kado ulang tahun putranya yang saat itu berusia empat belas tahun. Puisi ini ditulis saat dalam suasana perang, di tengah desingan peluru dan dentuman meriam. Puisi sangat mendebarkan.

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.

Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri,sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya, berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki. Pada sumber kearifan, kelemah-lembutan, dan kekuatan yang sempurna

Dan pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”