Selesai perkuliahan Sejarah Islam Timur Tengah, jam menunjukkan pukul 11 lewat, hampir jam 12 siang. Aku berlalu dari kelas menuju masjid kampus. Perkuliahan hari ini sungguh sangat membosankan, karena dosennya bukan membahas materi perkuliahan, tapi malah membahas gejolak politik saat ini. Biasalah, cebong dan kampret lagi panas-panasnya.

Dari awal dosen itu bicara, ia selalu membahas masa depan bangsa Indonesia ke depannya di tangan calon presiden yang akan terpilih nantinya. Dari kata yang ia keluarkan, tampak dengan jelas kalau dosenku yang satu ini pendukung 02: pasangan yang sudah ditaksir oleh beberapa ulama menjadi presiden terpilih—golongan kampret. Perkuliahan yang seharusnya membahas Islam Timur Tengah, akhirnya jatuh pada pembahasan perpolitikan Indonesia—bisa disebut dengan kampanye terselubung.

Aku sendiri begitu malas mendengar dosen itu bicara—bukan berarti aku cebong: pendukung 01—tapi karena bosan selalu mendengar masalah politik yang tak ada habis-habisnya. Setiap mau pemilihan presiden, selalu saja ribut begini, pada akhirnya semua orang akan terpecah menjadi dua golongan. Dan setiap kubu memiliki pendukung fanatiknya masing-masing.

Di dalam kelas, aku lebih memilih tidur daripada mendengar ceramah politik  2 sks.

Sesampainya di masjid, aku rebahkan badanku tepat di sebelah beduk. Kalau beduk itu dipukul, pertanda masuknya waktu salat zuhur, pasti aku akan terbangun,  pikirku. Angin semilir membelai kulitku, dan kantukku semakin menjadi-jadi.

Beberapa menit aku rebahan, nyawaku hampir hilang sepenuhnya. Dan sialnya, tiba-tiba seseorang duduk di sampingku. Aku langsung tersadar dan bangun gelagapan. Langsung kuhadapkan wajahku ke arahnya, ternyata yang duduk di sampingku seorang bapak-bapak dengan pakaian lusuh. Perawakannya tampak tak terurus.

"Mohon maaf mengganggu, Nak." Ia memulai pembicaraan.

Kantukku hilang entah ke mana.

"Iya, Pak, ada apa ya?"

"Sebelumnya mohon maaf, nggeh. Begini, Nak...." Ia membetulkan duduknya. "Bapak mau pulang ke Malang, tapi tidak ada uang."

Aku terdiam menatap wajah orang yang sedang berhadapan denganku. Jujur, ketika melihat perawakannya begini, hatiku langsung tersentuh. Aku memang orang yang mudah tersentuh dengan keadaan.

"Lantas, Pak?"

"Begini, Nak. Sebenarnya Bapak juga tidak enak mau bilangnya."

"Bilang saja, Pak, nggak apa-apa."

"Bapak butuh uang untuk ongkos pulang ke Malang."

"Berapa ongkos pulang ke Malang, Pak?"

"Lima puluh ribu, Nak."

Aku langsung merogoh saku celana depan, kutemukan uang enam puluh ribu. Sebentar kuamati wajahnya, wajahnya penuh harap. Sebentar aku terpikir, kalau aku kasih lima puluh ribu ini, besok aku harus makan apa? Lama aku terdiam. Tapi pikiranku langsung terpikir pada perkataan Kiayiku: "Kalau ibadah jangan pernah ragu."

Tanpa pikir panjang, kutarik dua lembar dua puluh ribu dan selembar uang sepuluh ribu. Langsung kuberikan uangnya ke Bapak itu. Wajahnya terlihat girang, seketika senyum terbit dari wajahnya. Dan yang tinggal di tanganku hanya  uang sepuluh ribu. Segera aku masukkan kembali ke saku.

Sedekah dalam keadaan banyak uang sudah biasa, yang sulit itu sedekah waktu lagi miskin, dan kalau dilakukan pastinya akan luar biasa, kataku dalam hati.

"Terima kasih banyak, Nak. Kalau sampean tidak ada, Bapak tidak tahu harus minta uang ke siapa lagi buat ongkos pulang." Berturut-turut ucapan terima kasih itu diucapkannya.

Setelah itu, ia berlalu dari hadapanku. Beduk pun dipukul.

***

Setelah memberikan uang tiga hari belakangan pada Bapak yang aku temukan di masjid, hidupku terlunta-lunta. Aku hanya makan sekali sehari. Untungnya beras masih ada di kos. Dan uang sisa sepuluh ribu itu aku belikan ote-ote (bakwan) untuk lauknya.

Di hari keempat, kiriman dari orang tuaku pun sampai. Syukur, hidup terlunta-lunta ini tak berjalan lama. Sebenarnya, aku bisa saja berhutang ke temanku, tapi ngutang ke orang lain bukanlah tabiatku. Kecuali kalau aku tak memegang uang sepeser pun. Seandainya itu terjadi, terpaksa aku harus ngutang.

Selesai perkuliahan, aku pun berlalu ke masjid untuk salat ashar. Selesai salat, aku sempatkan leyeh-leyeh di serambi untuk menghilangkan penat.

Tiba-tiba seseorang menghampiriku dan langsung duduk di sampingku. Aku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Aku kaget ketika menyadari orang itu adalah Bapak yang meminta uang kepadaku beberapa hari yang lalu.

"Maaf mengganggu, Nak." Ia memulai bicara, tak membaca kekagetan pada wajahku.

Aku tak menjawab.

Ia kembali bicara mengeluarkan jurus mautnya. Sama seperti yang dilakukannya beberapa hari yang lalu.

"Bapak mau pulang ke mana?" tanyaku meladeni pembicaraannya.

"Ke Blitar, Nak. Istri Bapak lagi sakit di kampung."

"Jancuk!" Dengan sendirinya mulutku langsung misuh-misuh karena tak sanggup menahan amarah.

Bapak itu kaget melihat aku memakinya. Untung saja tidak ada orang di sekitar kami, sehingga tak ada yang ganjil dari kejadian ini.

"Kemarin ke Malang, sekarang ke Blitar?" semburku tak tertahankan. "Besok ke mana lagi? Ke Arab? Libya?"

Wajahnya terlihat panik. Tampaknya ia mulai menyadari wajahku.

"Ya, saya yang kasih Bapak uang lima puluh beberapa hari yang lalu. Masih ingat?"

Ia tak menjawab.

Hatiku panas tak karuan. Sialan. Aku harus hidup terlunta-lunta tak punya uang gara-gara harus membayar akting orang sialan ini. Dia betul-betul aktor profesional, karena begitu mendalami perannya. Kalau saja dia artis, mungkin beberapa penghargaan sudah didapatinya.

Karena kesal, aku langsung bangun dan pergi dari hadapannya. Tak ada gunanya meminta ganti rugi. Pasti uang itu tak ada lagi. Sialan, di rumah ibadah masih ada yang menipu. Apa dia mau bermain-main dengan Tuhan?  Dan betapa dungunya aku, harus tertipu dengan orang seperti itu.

Baru beberapa langkah aku berjalan, seperti teringat sesuatu, aku langsung berbalik ke arahnya dan mendapatkannya masih terduduk di tempat itu.

"Sebaiknya Bapak jadi pendukung salah satu Capres saja, atau bahkan keduanya. Di sana jauh lebih banyak uang. Bapak bisa ambil uang dari kedua pasangan. Daripada harus menipu kami para mahasiswa yang tak punya uang." Ia hanya melongo mendengar saran dariku.

Setelah itu aku pulang dengan hati kesal dan mulut terus misuh-misuh.