“Some books leave us free and some books make us free.” – Ralph Waldo Emerson

Tanah Etam dan Selisih Harga Buku

Pada suatu hari di awal tahun 2018, saya menyempatkan diri berkunjung ke salah satu toko buku Gramedia di kota kelahiran. Letaknya tidak begitu jauh, hanya 10 menit dari rumah dengan mengendarai sepeda motor matic.

Melihat-lihat beberapa judul buku yang sudah saya miliki, lalu memeriksa harga di bagian belakang sampul. Demi alasan distribusi dan pajak, rata-rata harga satu buku lebih mahal 9 ribu sampai 11 ribu dibandingkan harga di Jabodetabek. Novel Cala Ibi cetakan terbaru misalnya, bulan lalu saya beli 80 ribu di Gramedia Bintaro Plaza, di sini, saya lihat harganya 91 ribu. Selisih 11 ribu.

Sampai di sini kita sepakat, kita bisa maklum dan mengerti.

Minat baca di Indonesia—lebih-lebih di kota ini, seperti yang kita tahu—tak seberapa besar. Berapa banyak anak-anak yang memilih buku bacaan, apa pun jenis dan genrenya, untuk mengisi waktu luang? Nyaris sulit. Satu banding sekian.

Anak-anak, belakangan ini, lebih memilih memenuhi bilik warnet atau bermain games online di gawai pintar mereka. Bagaimana mereka membaca atau setidaknya melirik judul-judul buku yang harganya membuat mereka mengeluh dalam hati? Entah.

Ada yang begitu gemar membaca, melahap nyaris apa saja semua buku. Namun sayang, masalah isi kantong—alasan klasik sejatinya—selalu jadi persoalan. Lapak buku loakan, saya kira, alternatif yang sangat membantu bagi siapa-siapa dengan isi kantong pas-pasan.

Di kota ini, sekali lagi, belum pernah sekali pun saya temui kios buku loakan. Membuka kios buku loak di kota ini, sama saja menanti kematian merenggut anggota keluarga mereka; istri dan anak-anak mereka satu per satu. Jangankan menguntungkan, untuk keperluan sehari-hari saja, dengan berjualan buku loak di kota ini, dirasa tidak memenuhi.

Orang-orang lebih memilih membeli baju daripada buku. Membeli gawai keluaran terbaru daripada buku. Membeli kendaraan model terbaru daripada buku. Yang penting gaya, walau isi kepala memprihatinkan.

Mahakaya Tuhan pemilik bumi dan langit. Betapa sulit menjadi pembaca yang baik dan pemurah di kota kelahiran sendiri, bagi seorang yang amat perhitungan dan suka membanding-bandingkan harga seperti saya.

Upaya GPMB Mewujudkan Kampung Literasi

Keresahan yang sama tidak datang dari saya pribadi. Beberapa pegiat dan para aktivis mengusulkan sebuah program untuk menjawab kekhawatiran itu. 

Taman Baca Masyarakat kian marak setidaknya di setiap kelurahan. Perpustakaan jalanan digelar oleh anak muda yang kebanyakan dari mahasiswa. Diskusi-diskusi tentang sastra dan kebudayaan dihidupkan, seperti kegiatan dwi-pekan yang rutin diselenggarakan Jaring Penulis Kaltim (JPK).

Sampai pada akhirnya, sebuah kabar yang cukup menggembirakan datang tahun lalu. Pemerintah akhirnya turut memberikan perhatian.

Mengutip edaran Diskominfo Kalimantan Timur tahun 2017 lalu, demi mengembangkan minat baca dan literasi, Bidang Pengembangan Budaya Baca Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kaltim, bekerja sama dengan pemerintah daerah, membentuk program Kampung literasi di Kecamatan Sambutan Pelita 7.

Di Kalimantan Timur, menurut Endang Sri Rumiyati, salah seorang pengurus GPMB, Kampung literasi sudah dibentuk Pemerintah di 3 wilayah. Samarinda, Balikpapan, dan Berau. Seluruhnya difasilitasi Pemerintah Pusat dengan pembelian buku, kemudian pemanfaatan buku-buku tersebut. 

Selain itu, GPMB bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun dan menghidupkan Taman Baca Masyarakat (TBM), baik di kota besar maupun di pelosok kampung terpencil.

Setahun perjalanan GPMB untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut patut diapresiasi dan terus diawasi. Beberapa program literasi dan kebudayaan dapat terus diselenggarakan. Penyediaan perpustakaan jalanan menunjang semua kalangan, terutama anak-anak, untuk memiliki perhatian terhadap buku.

Kita menaruh harapan, semoga GPMB tidak sekadar proyek yang bisa “dimatikan” kapan saja, melainkan ketulusan yang datang dari mereka yang sadar betapa kegiatan literasi harus terus dihidupkan dan dijaga di kota ini.