Rakyat Indonesia itu terkenal tangguh nan murah senyum. Buktinya, setiap tahun kita orang masih bisa hura-hura merayakan 'Agustusan' meski ekonomi terpuruk dan utang pemerintah kian menggunung. Derita seolah tak dirasa, yang penting semangat kemerdekaan harus tetap menggelora.

Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semenjak mencuatnya wabah Covid-19, saya jadi bertanya-tanya: Apakah Covid-19 akan meruntuhkan semangat merayakan kemerdekaan 1945?

Hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan edaran tentang karnaval Agustusan di tengah pandemi. Pun seandainya dilarang, saya ragu masyarakat akan menaatinya secara totalitas. Lihat saja, kurang tegas apa pemerintah menginstruksikan agar masyarakat menjaga jarak, pakai masker, rajin cuci tangan, dkk. Tapi nyatanya masyarakat justru hobi nimbrung, sampai muncul komunitas-komunitas baru semisal 'Gowes'. Paradoks.

Saya termasuk manusia yang akan sedih apabila karnaval Agustusan ditiadakan. Tentu saja karena saya batal pulang kerja lebih awal. Pastilah Pak Bos tidak akan memberikan dispensasi. Yang paling menyedihkan, saya gagal bersua dengan anak istri di bawah pohon, makan cilot, sambil tertawa riang melihat pocong berkeliaran siang hari.

Tapi saya optimis kemeriahan bulan Agustus akan tetap menggema, meski dengan cara yang berbeda. Apalagi kita sudah hidup di era 'New Normal'. Jadi tidak ada masalah asalkan protokol kesehatan dijalankan optimal.

Yang menjadi masalah, seandainya karnaval tetap diadakan, saya tak bisa membayangkan akan sesibuk apa aparat kepolisian. Bisa jadi mereka beralih profesi bak pimpinan pleton paskibraka, berpatroli meluruskan dan mengatur jarak para penonton agar tidak berdekatan. Akhirnya sorak sorai berubah keluh kesah akibat ulah aparat yang tidak asyik. Belum lagi pemberlakuan sanksi bagi penonton yang tidak mengenakan masker.

Priiitt.. Mas, Mbak, tolong jaga jarak dan gunakan maskernya!

Sebagai antisipasi, pedagang asongan yang biasanya berjualan manisan, kacang, dan aneka minuman, kini bisa mencari peruntungan dengan berjualan masker dan hand sanitizer. Jika biasanya pedagang asongan berteriak "cangcimen-cangcimen", saat mode new normal menjadi "cangkerhand-cangkerhand". "Masker satu, Bang" pekik petonton yang merasa dipelototi polisi.

Lain halnya dengan para figuran karnaval, masker hanya akan membuatnya tampak konyol dan menyebalkan. Bayangkan saja apabila para figuran karnaval yang berkostum setan mengenakan masker atau face shield, hilang sudah aura kengeriannya. Juga para model berkostum sayap merak yang biasanya memamerkan senyum merona, masker akan membuatnya seperti burung terkena flue.

Satu-satunya figuran yang diuntungkan dengan aturan wajib pakai masker ialah siswa-siswi sekolah yang berperan sebagai dokter. Akan lebih keren, saat pawai berhenti sejenak, para dokter figuran itu menggelar drama (jalanan). Adegannya, dokter figuran sedang bertarung melawan Covid-19 figuran—virus mulai menyerang namun tak membuahkan hasil karena dokter mengenakan masker—lalu dokter mengeluarkan senjata pamungkasnya, hand sanitizer, disemprotkanlah ke arah virus yang kemudian menumbangkannya.

Meski tidak seapik adegan Madara melawan Hasirama, itu tetap lebih baik daripada penampilan pocong, kuntilanak, dan kawan-kawan. Apa faedahnya menampilkan begituan saat pawai karnawal Agustusan. Memangnya hantu-hantu nusantara itu turut berjasa mengusir penjajah dari tanah air Indonesia?

Priiitt.. Mas, Mbak, tolong jangan berdekatan, tetap jarak dan gunakan maskernya!

Seandainya pemerintah merilis edaran larangan karnaval Agustusan digelar, saya yakin masyarakat tak akan kehabisan akal merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, dengan cara yang lebih aman. Mengadakan lomba menjahit masker, misalnya. Pemenangnya ialah peserta yang berhasil membuat masker yang lebih bersahabat dengan mereka yang berkacamata. Indikatornya, masker nyaman dipakai, tampilannya menarik, dan tidak menghasilkan embun pada kacamata.

Opsi perlombaan lain yang bisa digelar ialah lomba membuat hand sanitizer 3 in 1. Para peserta ditantang berinovasi agar hand sanitizer tak hanya mampu membunuh virus Corona, tetapi juga ampuh mengusir nyamuk, serta bisa digunakan sebagai cairan pembersih kacamata. Itu keren sekali. Namun akan bermasalah jika hadiahnya hanya piring cantik. Tak sepadan dengan biaya pembuatan hand sanitizer. Euh.

Priiitt.. Mas, Mbak, tolong jangan berdekatan, tetap jarak dan gunakan maskernya!

Terkadang merayakan kemerdekaan tak harus dengan lomba. Di kampungku, kami mengisi momentum kemerdekaan dengan kebersamaan, yang hanyut dalam renungan. Kami berkumpul di bawah langit malam, bernuansa damai. Lilin-lilin kecil di sekitar kami, memeluk damai.

Acaranya sederhana, kami menggelar doa, untuk para pahlawan yang gugur, juga untuk warga kampung. Sebelum doa, biasanya ada penampilan-penampilan dari kurcaci-kurcaci (bocah cilik), semisal menghaturkan puisi, tarian, atau sepetik lagu merdu.

Acara ditutup dengan makan-makan, agar lebih elegan, kami biasa menyebutnya tasyakuran. Itulah saat yang paling dinanti. Ya maklumlah, bagi kami warga kampung, makan bersama itu lebih asyik, bukan karena menunya yang mewah, tapi lebih kepada persatuan.

Apapun yang terjadi, momentum kemerdekaan harus senantiasa kita hayati. Bukan pada hura-hura, tetapi lebih kepada 'ruh' semangat untuk mencintai tanah air ini. Tak kalah penting bagaimana mencintai diri sendiri, serta mencintai orang lain.

Saya menulis ini dengan perasaan sendu. Perasaan penuh harap, semoga Covid-19 lekas berlalu.