Ada yang kangen dengan berjalan, berlari, lalu tiba-tiba terpeleset di pematang dan sekujur tubuh belepotan dengan lumpur? Saya, salah satunya. Kebetulan sekolah saya dulu sangat 'mewah' alias mepet sawah.

Pematang di samping dan belakang sekolah adalah akses termudah untuk menghindar dari kegiatan Pramuka yang membosankan, kecuali camping tiap akhir pekan. Tinggal lempar tas lewat jendela, lalu bergegas ke belakang gedung sekolah, mengambil tas, lantas bak serdadu berlari-lari kecil, melewati pematang. Tak terlalu cepat.

Rombongan pelarian yang tak sampai 10 orang ini harus menjaga jarak. Jika terlalu cepat, satu jatuh, ada kemungkinan yang lain jatuh. Tetapi juga tak boleh terlalu lamban, namanya juga pelarian, bukan sedang jalan sehat.

Di waktu lain, ketika jam belajar, saya juga ke pematang. Bukan sebagai pelarian, tetapi pembelajar. Sawah dan pematangnya adalah laboratorium untuk mengenal serangga, katak, bahkan tentang tanaman blewah atau padi. Berjam-jam pun, meski terik panas, belajar di luar ruangan  lebih baik daripada belajar di dalam kelas, yang bikin ngantuk dan membosankan.

Entah mengapa, pematang seperti mengajarkan banyak nilai. Pematang adalah pijakan yang mengarahkan mata melihat segalanya tanpa batas dinding. Pematang juga ruang tanpa riuh mesin, kebetulan petani saat itu, jika panen tiba, melibatkan manusia, bukan mesin.

Di pematang jika jalan beriringan, tetaplah satu barisan, tak ada yang mau mendahului, atau yang paling belakang merasa tertinggal. Bisa berjalan, berlari, atau duduk-duduk sambil memperhatikan kupu-kupu, capung atau belalang. Jika ada yang terjatuh, tak akan ditinggal, kecuali memang ada konspirasi untuk ngerjain . Tapi percayalah, itu semua hanya permainan, keasyikan berlama-lama di pematang memang tak terbantahkan.

Apalagi bila musim penghujan, terpeleset adalah kegembiraan, sekujur tubuh penuh lumpur, adalah tanda keceriaan. Jika ada yang serius dari pematang ada 2. Pertama, petani yang berteriak dari kejauhan memperingatkan supaya jangan merusak tanamam. Kedua, orang-orangan sawah. Hampir tiap 10 menit bergerak dan mengeluarkan bunyi gaduh mengusik burung-burung yang sedang mencicipi bulir padi. 

Cerita tentang pematang hanya ingatan masa lalu. Kini tak ada lagi sawah, berganti perumahan yang diportal. Dinding besar pembatas sekolah dan perumahan sudah kokoh. Siswa yang bersekolah pun memilih berkendaraan motor, lewat jalan kecil sampai jalan raya. Riuh. Pulang sekolah seperti buruh pulang pabrik, semua ingin cepat sampai rumah.

Tak ada jeda untuk bermain sepanjang jalan, sebab jalan aspal sudah terlalu ngeri bagi pejalan kaki. Tak ada lagi laboratorium alam, kalau mau tahu serangga, tinggal googling. Tak ada lagi aksi pelarian, tembok sekolah bertambah tinggi, lalu semua diarahkan pada satu pintu gerbang yang dijaga petugas keamanan sekolah.

Tidak, saya tak bicara tentang pendidikan kita, saya sekadar membayangkan bahwa keindonesiaan adalah pematang itu. Kita sebagai warga adalah sekumpulan orang yang sedang berjalan di pematang. Melihat indahnya negeri kita sendiri. Tanpa sekat dan batas apa pun.

Kita saling beriringan. Tak ada yang bergegas atau merasa ketinggalan, tetapi juga tak ada yang tega meninggalkan teman ketika lelah berjalan atau terperosok di lumpur sawah. Kita seperti barisan yang menikmati perjalanan. Jauh dari hiruk pikuk, orang yang paling belakang dalam barisan pun kalau berbicara, yang terdepan mendengar suaranya. 

Jujur, waktu begitu cepat. Perubahan tak terhindarkan. Nusantara di pematang berubah jadi aspal. Licin dan halus, semua berlomba-lomba jadi yang tercepat. Lalu mulai dipasang portal, jangankan pemulung, yang bukan penghuni pun tidak seenaknya bisa melintas. Tersekat oleh batas 'kau' bukan 'aku'. Kita hanyalah bayangan yang semu.

Nusantara di pematang sudah tak ada. Masyarakat lebih rindu jalur cepat beraspal, asal tiba cepat, meski itu bising, tak aman bagi orang lain. Segalanya seperti tersekat. Tak ada lagi iring-iringan kebersamaan, berjalan hanya karena kepentingan golongan sendiri.

Separah itukah nusantara? Tidak juga, optimisme masih ada. Meski pematang yang merekatkan kebersamaan sudah hampir tiada. Setidaknya, kita sebangsa, pernah beriringan bersama di pematang. Meski sekadar ingatan, tak salah mencoba lagi. 

Saya ingin mengutip larik Sajak dari Pematang Sawah (oleh: Yus R. Ismail)  tentang yang damai di masa lalu, dan deru rindu untuk mengulangnya:

Mengikuti langkah anak-anak di pematang sawah​​
berjilbab​ dan berkopiah menenteng Qur'an
ku​ terluka oleh waktu yang jadi hinis
dan menorehkan luka demi luka
Airmata diembunkan cuaca.
Dan pengakuan jadi hadast
Aku rindu, ya Tuhan, memandang bulan
yang tersenyum setiap nadoman diucapkan tergesa
oleh mulut-mulut kecil dari tajug
Tapi rindu tak cukup jadi air pancuran
untuk mengompres jiwa yang gerah dan lelah
Bersujud di sajadah tak menuntaskan
penyesalan yang memborok di sepanjang perjalanan.
anak-anak seperti belaian angin sawah
atau bening air kolam
hanya milik masa lalu, ya masa lalu.

Februari 1995, Rancakalong

Hinis = sembilu
Tajug = surau