2 tahun lalu · 189 view · 4 menit baca · Politik 8xpf4yios1.jpg
Sumber: Metrotvnews.com

Membantu Jokowi Menjaga Indonesia

Sebelum menulis opini ini, penulis ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ibu Megawati Soekarnoputri. Sehat selalu dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Pada Senin kemarin (23/01), untuk merayakan hari ulang tahunnya beliau menggelar acara Tripikala Kebangsaan yang dikomandoi oleh Butet Kartaredjasa dan Sudjiwo Tedjo.

Pagelaran tersebut sangat menarik dan lucu. Butet dalam penampilannya, menyindir mantan yang curhat di Twitter. Acara tersebut banyak dihadiri Pejabat publik dan tentunya Presiden Joko Widodo.

Di akhir acara ada momen yang menurut penulis dapat menjadi harapan bagi bangsa Indonesia. Relationship diantara mereka begitu hangat, harmonis dan penuh kesahajaan. Terutama ketika penulis melihat kembali Jokowi-Ahok bersanding setelah sekian lama tak bersua.

Ibu Mega memanggil orang-orang terdekatnya untuk menerima buku yang ditulis oleh para Wartawan senior yang banyak meliput perjuangan Ibu Mega bersama PDIP di masa Pemerintahan Orde baru. Orang-orang terdekat itu diantaranya Presiden Jokowi, Gubernur non--aktif Ahok, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Titiek Puspa dan tentunya kepala BIN Budi Gunawan.

Penulis terharu, melihat Jokowi, Ahok, Susi Pudjiastuti dan Bu Mega bersanding. Mereka berempat menurut penulis merupakan tokoh yang (mungkin) masih bisa dipercaya oleh rakyat Indonesia.

Terlepas dari segala kekurangan yang mereka miliki. Presiden Jokowi yang diberi kepercayaan rakyat Indonesia untuk menjadi pemimpin sejak tahun 2014 lalu banyak mendapatkan harapan maupun keraguan ketika itu.

Menunggu Langkah Jokowi dan Megawati

Seiring dengan berjalannya waktu, beliau mampu menunjukan kapasitasnya sebagai Presiden. Konsistensinya terhadap Pancasila dan NKRI sangat dijunjung tinggi olehnya melalui hal kecil ketika bersilahturahmi ke pesantren-pesantren dengan mengadakan tanya-jawab kepada santri, yang dihadiahi sepeda kepada santri.

Perjuangannya sangat berat, selain mengejar ketertinggalan Indonesia dari bangsa lain, Jokowi harus banyak meluangkan waktunya untuk perdebatan warganya yang masih mempermasalahkan perbedaan mayoritas-minoritas dan kebangkitan halusinasi PKI. Dan yang paling terutama Radikalisme, paham Radikalisme yang menguat di Indonesia bisa sangat berbahaya apabila tidak ditangani secara tepat.

Karena dogma Agama yang diserap secara emosional menyebabkan fanatisme yang melekat dalam alam pikir manusia sangat sulit untuk diubah. Di sini peran NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam moderat harus diperkuat, makan siangnya dengan Kiai Said Aqil dan Haidar Nashir sebuah kode keras dari Pakde Jokowi. 

Tentunya Jend. Tito Karnavian harus bekerja lebih keras menangani isu terorisme dan banyak berdialog dengan kelompok konservatif Agama. Peran Tito Karnavian sangat sentral, wibawa POLRI sangat dipertaruhkan. Penulis pikir tugas POLRI saat ini jauh lebih berat ketimbang KPK. Simpatisan ISIS di Indonesia ini sudah terang-terangan menunjukan kekagumannya terhadap ISIS.

Belum lagi Antasari Azhar dan keluarga Alm Nasrudin Zulkarnaen sudah mulai merengek terus untuk mengungkap siapa dalang pembunuhan yang sesungguhnya. Masyarakat Indonesia pun sangat menunggu kelanjutan kasus-kasus HAM di masa lalu, Pak Jokowi harus mulai bergerak, keluarga Alm Munir mungkin sudah tidak bisa menunggu lagi, mereka menginginkan keadilan.

Sebagai pendukung Pemerintah, konsistensi Megawati dan PDIP terhadap kebhinnekaan pun diamini oleh pendiri Charta Politika, Yunarto Wijaya. Sebagai penggerak PDIP, Megawati dianggap sebagai pelindung bagi minoritas di Indonesia.

Ahok sebagai role model kebhinnekaan masa kini mampu mengoyak doktrin orba yang selama ini melekat dalam pikiran masyarakat Indonesia. Dengan PDIP menggandeng Ahok pasca-Ahok keluar dari Gerindra menjadi konsistensi Megawati bahwa primordialisme seyogianya bisa menghambat kemajuan bangsa. Buang jauh-jauh melihat manusia dari bungkus, lihatlah karakternya, bukan tato atau agamanya.

Ini yang dibutuhkan Indonesia, substansi terhadap kinerja dan karakter seorang pejabat publik sedang dipertontonkan kepada lawan politik PDIP. Doktrin yang disebarkan oleh lawan politik Jokowi dan PDIP yang sepertinya tidak menerima seseorang yang berbeda iman dengan mereka dijawab dengan Indeks Pembangunan Manusia DKI Jakarta yang mencapai 78,99.

Selain pemakan hoax, doktrin Orde baru yang sepertinya masih tertanam dalam pikiran seorang Fahri Hamzah bahwa bertattoo adalah seorang preman, dijawab dengan kinerja Susi Pudjiastuti. Kinerja Susi ini bukan main, di bawah kepemimpinannya KKP menjadi kementerian paling memuaskan dibandingkan Kementerian lain (SMRC).

Walaupun tidak tamat SMA tetapi pengalaman bisnisnya di bidang perikanan dan kelautan menjadi bukti Indonesia memiliki harapan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Kapal asing itu dibakar oleh seorang yang bertato dan tidak tamat SMA! Hinaan terhadapnya bukan dengan galau di Twitter, tetapi dengan kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya. I love you, Bu Preman.

Bersandingnya mereka, ditambah Zulkifli Hasan, Risma, Ganjar dan Ridwan Kamil serta kehadiran Antasari Azhar diacara HUT Megawati sepertinya mereka telah mendapatkan dukungan untuk rencana mereka. Bahasa kode ini walaupun sulit diprediksi tapi asyik untuk didiskusikan.

Bukan urusan orang lain apabila opini saya salah, toh hanya memberikan opini. Sebagai penjaga ideologi Indonesia, Megawati akan mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya untuk melawan potensi-potensi yang mengancam Pancasila dan kebhinnekaan.

Kita semua tahu, darah dan nyawa pendiri bangsa kita tidak ingin terbuang sia-sia. Selagi terus memperkuat kekuatan untuk menjaga Kebhinnekaan, Jokowi terus mengasah kemampuan Memanahnya agar semakin tepat sasaran.

Dengan sangat terpaksa, Presiden harus meluangkan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting karena menganggu terus Pemerintahannya. Sudah dibuat pusing oleh proyek-proyek mangkrak, Jokowi perlu mengundang Antasari Azhar untuk makan siang di istana sekalian meminta tolong dibawakan obat pusing.

Biarkan masalah kedaulatan laut Indonesia yang terus diganggu Tiongkok dan antek-anteknya ditugaskan ke seorang yang tidak tamat SMA dan bertato. Biarkan Radikalisme dan Terorisme diberikan kepada Tito Karnavian. Jokowi tinggal menyusun puzzle yang belum terpasang. Begitulah, kami tidak sabar melihat kehebatan Memanah Pakde.

Polda Jabar sudah terang-terangan siap membantu Pakde. Antasari Azhar siap membantu Pakde. PDIP dan masyarakat siap menjaga Pancasila dan kebhinnekaan. Begitulah kalau saya berandai-andai, Pakde!