Mahasiswa
2 tahun lalu · 275 view · 4 menit baca · Hiburan 148306729871376_300x430.jpg
Poster "Istirahatlah Kata-Kata" (21cineplex.com)

Membangunkan Kata-Kata Wiji

Sebuah Catatan Mengenai Film “Istirahatlah Kata-Kata”

Pada pertengahan Januari lalu, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk menonton “Istirahatlah Kata-Kata”, sebuah film mengenai penyair pelo sekaligus aktivis yang bernama Wiji Thukul. Film ini sudah melanglang buana di berbagai festival film mancanegara, seperti Locamo International Film Festival dan Busan International Film Festival, dan berhasil masuk ke berbagai nominasi.

Ketika film ini dirilis di Indonesia, hanya beberapa bioskop yang ditunjuk yang bisa memutar film ini, beruntung kota asal saya sudah memiliki bioskop Blitz, sehingga film ini bisa saya nikmati tanpa harus pergi ke Jakarta.

Pada saat saya membeli tiket, saya menyadari bahwa ada lebih dari 20 orang yang sudah membeli tiket masuk, dan saya merasa terharu karena film serius dan bertema sejarah seperti “Istirahatlah Kata-Kata”, masih sangat sedikit sekali penontonnya. Saya jadi teringat bahwa saya menangis ketika menonton film keluaran tahun 1953, “Lewat Djam Malam”, sebuah film restorasi dan saat itu yang menonton hanya berjumlah 9 orang.

Sungguh menarik memang, kenapa harus Wiji Thukul? Kenapa tidak tokoh lain, yang lebih familiar di telinga masyarakat atau lebih “Heroik” misalnya?. Ide pembuatan film ini tentu saja untuk mengingatkan kita bahwa ada masalah 13 orang hilang di akhir sebuah rezim, yang hingga kini masih simpang siur kabar beritanya, bahkan belum ada penyelesaian yang dapat memuaskan keluarga yang ditinggalkan.

Film ini seolah mematahkan kritikan Bambang Purwanto dalam bukunya yang berjudul “Gagalnya Historigrafi Indonesiasentris?!!”. Beliau menuduh bahwa sejarah Indonesia adalah milik kelompok elitis. Pernyataan itu tentu saja akibat banyaknya ‘penyelewengan’ dalam penulisan sejarah bergaya Indonesiasentris, sehingga sejarah masyarakat dianggap tidak penting ditulis.

Film ini secara eksplisit menyatakan bahwa sejarah itu milik siapa saja, terutama bagi mereka -rakyat kecil- yang dipaksa menghilang dari catatan sejarah.

Di era globalisasi yang membuat generasi muda lebih dekat dengan informasi melalui gawan mereka masing-masing, mendapatkan informasi mengenai sejarah tentunya tidak sulit. Apalagi setelah dirilisnya film “The Act of Killing” (Jagal) dan “The Look of Silence” (Senyap) oleh Joshua Oppenheimer, membuat generasi muda lebih melek dengan adanya kesalahan di masa lalu terutama era Orde Baru, yaitu pembantaian dan pemenjaraan besar-besaran yang terjadi di awal era Orde Baru dan banyaknya kasus penghilangan paksa selama 32 tahun lamanya.

Efek domino dari kedua film itu adalah kini banyak film yang sejenis, seperti Pulau Buru: Tanah Air Beta, yang tidak takut untuk membahas hal-hal yang sangat sensitif di era Soeharto, meskipun masih banyak pihak yang membantah hal tersebut.

Bagi saya, nama Wiji Thukul tidaklah begitu asing, namun, sebagai anak generasi 90-an, saya mengakui kalau perkenalan saya dengan penyair itu tidak dalam; saya mengenal namanya ketika saya membaca berita tentang penculikan aktivis tahun 1997/1998.

Ketika saya duduk di bangku SMA, saya mendengar namanya kembali ketika disebutkan dalam lagu Pandji Pragiwaksono yang berjudul “Menolak Lupa”, sayangnya lagi-lagi, saya masih belum mengetahui lebih dalam mengenai Wiji Thukul, mungkin karena teman-teman saya banyak yang tidak menyukai puisi atau faktor lainnya adalah karena masih sedikitnya pemahaman sejarah, terutama sejarah Orde Baru, kebanyakan mereka mengaggap hal itu tidak penting atau tidak mau tahu.

Setelah saya kuliah, saya bertemu lebih banyak teman yang mau berbicara mengenai politik, sejarah, termasuk Orde Baru. Kontradiksi dari nama saya yang diambil dari nama penyair terkenal W.S. Rendra, saya tidak begitu menikmati puisi, sehingga saya pun tidak akrab dengan karya-karya Wiji Thukul.

Kembali ke topik, Wiji Thukul adalah segelintir orang nekat yang berani melawan pemerintah Orde Baru. Berdasarkan laman Wikipedia, Si Penyair Pelo itu adalah salah satu dari pendiri sebuah kelompok seni kerakyatan bernama Jakker (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat), setelah menganggap seni yang beredar di masyarakat adalah milik kaum elitis atau dalam kata lain dikontrol oleh pemerintah, sehingga eksklusif alias hanya milik atas saja.

Melalui komunitas ini, Wiji Thukul aktif melakukan aksi teater dan pementasan puisi. Puisi-puisi yang dibawakannya sederhana membuat dekat dengan rakyat kecil dan tajam mengkritik pemerintah Orde Baru. Tidak hanya pementasan seni saja, Wiji Thukul juga “terjun langsung” ke dalam kegiatan demonstrasi, hal ini menyebabkan dirinya dibenci oleh pemerintah jaman itu.

Film ini mengambil tema setelah Peristiwa 27 Juli 1996 terjadi, tepat pemerintah Orba dengan cepat menunjuk beberapa kelompok yang melakukan penyerangan itu, salah satunya adalah komunitas Jakker, akibatnya Wiji Thukul memilih bersembunyi. Dalam persembunyiannya di Pontianak, film 98 menit ini bisa menggambarkan situasi genting yang dihadapi oleh Wiji Thukul dan juga keluarganya.

Minimnya dialog dalam film ini menggambarkan perasaan terisolir di kehidupannya yang baru, kerinduan Wiji dengan keluarganya, serta ketakutan akan intel yang sewaktu-waktu bisa menangkap dirinya kapan saja. Percakapan yang muncul juga sangat sederhana, bahkan ada bagian dimana Wiji Thukul mengata-ngatai rezim Orba, menunjukkan betapa benci dirinya (dan temannya) dengan pemerintah Orba.

Kenyataannya, apabila intel sudah mengetahui persembunyiannya, kata-kata percakapannya bisa dijadikan alat untuk menahan dirinya. Saya juga mengetahui beberapa puisi Wiji Thukul karena puisi-puisi berani dan provokatif itu muncul di dalam film.  

Sayangnya, untuk film yang membangunkan kembali Wiji Thukul, film ini masih cukup kurang menurut saya, selain plotnya yang cukup datar, ada beberapa bagian yang saya masih bingung seperti masalah memar yang didapatkan Wiji, meski ada sedikit pembahasan di dalam film, namun tidak dijelaskan kapan dan dimana Wiji mendapatkan memar itu, sehingga bisa menimbulkan interpretasi tersendiri di benak penonton.

Selain itu tidak adanya rekaman asli Wiji Thukul, seperti foto atau pun rekaman video. Menurut saya, jika film memasukkan setidaknya satu saja, penonton jadi bisa mengetahui rupa asli dan gaya asli Wiji Thukul saat membacakan puisi. Dengan memasukkan satu sumber sejarah otentik akan menambah pengetahuan penonton.

Rezim Orde Baru sudah berlalu hampir dua puluh tahun yang lalu, film seperti ini membantu generasi muda untuk mempelajari bangsanya sendiri, baik mengenai sejarah yang baik dan sejarah yang gelap. Film sejenis perlu bekerja ekstra keras karena kurangnya pemahaman sejarah di Indonesia, belum lagi bangsa kita yang masih malas untuk membaca, sehingga masih banyak sejarah bangsa ini yang ”digelapkan” oleh pemerintah dan masih buta akan hal tersebut.

Padahal jika kita mau mempelajari sejarah Orde Baru, kita akan menyadari betapa gelapnya masa pemerintahan itu, dan yang lebih penting adalah sejarah bukan hanya milik elitis saja, semua manusia memiliki sejarahnya masing-masing dan pantas untuk didengar, termasuk orang-orang seperti Wiji Thukul. Karena bangsa kita masih membutuhkan kebenaran dari keberadaan Wiji dan 12 orang lainnya.

Artikel Terkait