92228_52370.jpg
http://www.muslimheritage.com/article.
Agama · 3 menit baca

Membangun Spirit Peradaban Islam di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah salah satu ritual yang disyariatkan Allah, dan pastinya semua yang disyariatkan pasti memiliki alasan tertentu, salah satunya yaitu agar orang-orang beriman bisa mencapai derajat taqwa. “laallakum tattaqun”. Taqwa itu tidak hanya mencerminkan pujncak keimanan, tapi juga refleksi manusia sempurna, sempurna di hadapan tuhan dan sempurna dalam bersosial.

Akan tetapi ada lagi aspek taqwa yang tidak kalah penting untuk saya paparkan dalam hal ini yaitu puasa itu berfungsi untuk menjadikan diri kita  selalu optimis, tidak pernah kehilangan harapan tentang kehidupan ini. Kita menahan diri seharian penuh untuk menahan haus dan dahaga, akan tetapi dalam mendirikan aktivitas, kita selalu ada harapan, saat beduk dan azan magrib dikumandangkan, kita berbuka untuk mengakhiri rasa penderitaan yang kita jalani selama seharian penuh.

Hari demi hari sepanjang 30 hari pada akhirnya kita akan menikmati satu situasi yang penuh kebahagiaan yaitu idulfitri (kembali kefitrah) merasakan kesucian dan hakikian kehidupan kita sebagai manusia. Dan inilah suatu hal yang sangat penting karena manusia di dunia ini terlebih lagi mereka yang hidup dengan situasi yang berubah sangat cepat akibat perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi. biasanya rawan sekali menderita kehilangan harapan terhadap masa depan atau bisa juga dikatakan dengan menderita kehilangan optisisme dalam hidup.

Bahkan di negara yang sudah majupun angka bunuh diri itu relatif cukup tinggi, kita ambil contoh negara Jepang yang saya pernah baca bahwa ada duapuluh dua ribu orang setiap tahunnya yang bunuh diri, padahal kita sudah tahu Jepang itu adalah salah satu negara yang sangat kaya, baik, rapi dan yang sangat teratur. Siapapun yang pernah berkunjung ke negeri ini pasti akan kagum terhadap kepemimpinan orang Jepang, keindahan kota-kotanya dan banyak lagi lainnya yang menakjubkan.

Baca Juga: Teater Ramadhan

Amerika Serikat negara yang kita kenal dengan neagara super power, konon setiap harinya ada 92 orang yang melakukan bunuh diri. Indonesia, menurut data yang pernah saya baca ada 82 orang setiap harinya yang melakukan bunuh diri. Jadi ada banyak sekali manusia-manusia yang stres, manusia-manusia yang kehilangan harapan tentang masadepan, manusia yang tidak memiliki lagi rasa optimisme dan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.

Puasa, from Zero to Hero

Menurut saya, selain nilai-nilai ibadah yang dijanjikan Tuhan, puasa sebagai refleksi dari proses transformatif, dari manusia yang terikat dengan perintah, hingga memperoleh kebahagiaan dan kemenangan secara utuh.

Dalam konteks lebih luas, momentum ramadhan adalah upaya umat dalam berbenah diri, muhasabah apa sebenarnya yang salah dengan peradaban umat ini yang sedang digoncang dengan kemunduran dan kejumudan. Islam abad ini tereliminasi dan tersubordinasi dari percaturan puncak pemegang otoritas dan keadaban (civilization).

Islam gambaran saya, adalah sebuah dogma terkandung didalamnya pedoman hidup sebagai entitas perorangan dan komunitas masyarakat. Konsepsi serba kengkap, tapi didalamnya terdapat kotak-kota yang terpisah satu sama lain. Di saat kehidupan modern menjadi arena pergumulan intelektuan dan spiritualitas. Tapi Islam dalam taraf ini, terkungkung pada ideologi dan paham mana paling benar dan paling otentik sesuai yang tertuang dalam kitab suci.

Saling menyalahkan, merasa pemahannya benar. Beginilah kondisi gambaran umat saat ini. saya mengamati, ada beberapa faktor kemunduran Islam era ini. pertama, umat Islam masih berfikir ekslusif, tertutup dan tidak mau membuka diri, masih terkungkung dalam belenggu bayang-bayang fanatisme. Kondisi keterpurukan ini yang saya maknai dengan “zero” merujuk pada kondisi ketiadaan. Selain faktor ekslusifitas, umat Islam juga belum mampu bersaing dalam taraf pengembangan ilmu pengetahuan alam.

Jika menggunakan terminologi blok Barat dan Timur maka, dominasi Barat atas segala hak intelektual tidak diragukan lagi, sementara jika bertanya dalam benak sindiri, apa produk umat Islam yang bisa dibanggakan? Tentu ada tapi secara kuantitas mungkin bisa dihitung dengan jari.

Lalu bagaimana kita mengembalikan spirit atau catatan peradaban umat Islam yang dibanggakan masa lampau bila dikaitkan dengan spirit ramadhan?

Saya menemukan satu hal menarik, Islam dibangun dalam ketauhidan yang kokoh. Alquran menjadi pedoman hidup. Indentifikasi Alquran dalam tiga dimensi tauhid, Tauhid uluhiyah (Keesaaan), Tauhid Rububiyah (Langit dan Bumi) dan asma sifat-Nya. Selain sebagai sumber keyakinan, yang harus diyakini dalam taraf transendental, nilai ketuhanan pesan agar kita sebagai manusia yang diberikan karunia berfikir kritis, menggunakan cakrawala pikiran kita  menggali dan menangkap tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Anda bisa bayangkan, dalam Alquran misalnya, mengandung perintah mengesakan Tuhan, (uluhiyyah) meyakini pada tingkat hati paling dalam. Untuk menguatkan keyakinan (ulihiyyah) sebagai seorang hamba harus merenungkan kebesaran ciptaan-Nya yang tidak akan pernah habis untuk digali. Inilah prinsip, kinerja spirit dasar ilmiah Islam dibangun atas pondasi nilai spiritual. Sehingga apabila elemen ketauhidan dicermati secara mendalam, maka akan lahir manusia cerdas dan sempurna baik taraf keimana dan intelektual.

Bukti kinerja ketauhidan dan pesan qurani, tertuang dalam lembaran-lembaran sejarah peradaban Islam. Siapa yang menyangkal bukti ini, Dinasi Abbasiyah, Umayyah hingga runtuhnya 1924, adalah potren peradaban dengan corak arah perkembangan ilmu pengetahuan sosial dan kealaman  maju.

Maka zaman “hero” akan kembali terulang.