Khauf adalah suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna suatu pengabdiannya, takut, khawatir kalau Allah tidak senang padanya dan akan menghukumnya karena apa yang telah ia lakukan. 

Menanamkan rasa takut kepada Allah akan mengantarkan seorang hamba untuk selalu beribadah kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan. Rasa takut kepada Allah juga bisa mendorong seorang hamba untuk takwa kepada Allah dan mencari ridha-Nya, mengikuti ajaran-Nya, meninggalkan larangan-Nya, dan melaksanakan perintah-Nya.

Rasa takut kepada Allah dipandang sebagai salah satu tiang penyangga iman kepada-Nya dan merupakan landasan penting dalam pembentukan kepribadian seorang muslim yang memiliki akhlak mulia. Kemudian, akhlak mulia yang mengikuti khauf adalah raja'.

Raja' adalah suatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-hambaNya yang shaleh. Raja' merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali mengharap hanya kepada Allah. 

Memalingkan kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar ataupun syirik kecil tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap.

Al-Hasan pernah ditanya, “Wahai Abu Sa‟id, bagaimana kami berbuat di majlis orang yang membuat kami takut hingga hati kami hampir terbang?” 

Al-Hasan menjawab, “Demi Allah, engkau bergaul dengan kaum yang membuatmu ketakutan sampai rasa aman mendatangimu, itu lebih baik bagimu daripada menemani kaum yang membuatmu merasa aman sampai ketakutan menjumpaimu.” 

Umar berkata, “Jika semua orang dipanggil untuk masuk neraka kecuali yang satu orang, tentu aku berharap yang seorang itu adalah aku. Dan jika semua orang dipanggil untuk masuk surga kecuali yang satu orang, aku pasti merasa takut akulah yang seorang itu.”

Ini adalah ibarat puncak khauf dan raja‟ serta keseimbangannya. Orang seperti Umar perlu menyeimbangkan antara khauf dan raja'nya.

1. Tingkatan Khauf

Tingkatan pertama, rasa takut yang minim. Ini adalah ketakutan yang mengalir seperti kehalusan perempuan, muncul dalam jiwa saat mendengar ayat-ayat al-Qur‟an, lalu menghasilkan tangisan dan mengalirkan air mata.

Demikian juga keadaannya saat menyaksikan hal-hal yang menakutkan. Namun, saat sebab yang menakutkan itu lenyap, hati kembali pada kelalaian dan pelarian. Ini adalah khauf yang minim, faedahnya sedikit dan pengaruhnya lemah, seperti tongkat yang lemah digunakan untuk memukul binatang ternak yang kuat, tidak membuatnya sakit dan tidak memengaruhinya.

Tingkatan kedua, rasa takut yang berlebihan, kebalikan yang pertama. Yaitu ketakutan yang amat kuat dan keluar dari batas normal hingga menghasilkan keputusasaan dan frustasi. Ketakutan semacam ini tercela, karena menghalangi amal.

Padahal yang diharapkan dari khauf adalah munculya amal. Jika diumpamakan dengan pukulan terhadap binatang ternak, ketakutan yang berlebihan ini seperti pukulan yang membuat salah satu anggota tubuh binatang itu rusak hingga tidak bisa bekerja. dan itu tentu akan menggagalkan tujuan yang diharapkan dari pukulan itu.

Tingkatan ketiga, rasa takut yang normal dan seimbang, yaitu rasa takut yang memunculkan amal dan apinya menyala di hati. Simpulannya, jika rasa takut itu tidak mendorong munculnya amal saleh, keberadaannya sama dengan tiada. Seperti pecut yang tidak bisa membuat binatang bergerak. 

Jika rasa takut itu berdampak memunculkan amal, itulah yang terpuji, yang normal dan seimbang. Jika rasa takut itu malah mencegah amal dan menghasilkan keputusasaan dan frustasi, itu berlebihan dan tercela. Inilah tingkatan-tingkatan khauf.

2.Cara Mengapai Raja'

Cara pertama, melalui ayat-ayat al-Qur‟an. Muhammad al-Baqir berkata, “Kalian penduduk Irak berkata, "Ayat yang paling memberikan harapan di dalam Kitab Allah 

Firman Allah: "Hai hamba-hambaa-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar [39]: 53).

Cara kedua, melalui khabar para nabi. Anas ibn Malik meriwayatkan dari Nabi bahwa, “Beliau meminta kepada Allah berkenaan dengan dosa-dosa umatnya. Beliau berkata, "Ya Rabb, jadikanlah hisab mereka padaku, agar tidak seorang pun selain aku melihat keburukan-keburukan mereka.‟ 

Maka Allah pun mewahyukan kepadanya, 'Mereka adalah umat mu, mereka juga adalah hamba-hamba-Ku, dan Aku mengasihi mereka lebih daripada rasa kasihmu kepada mereka. Jangan jadikan hisab mereka kepada selain Aku, agar tidak seorang pun melihat keburukan-keburukan mereka, tidak engkau dan tidak pula selainmu.

Cara ketiga, melalui perenungan (i'tibar). Yakni dengan merenungkan semua bagian nikmat yang telah diberikan Allah kepada makhluk, dengan menyandarkannya kepada diri mereka dan kepada semua ciptaan. Jika hamba telah mengetahui nikmat-nikmat Allah yang amat halus bagi hamba-hamba-Nya di dunia, mengetahui hikmat-Nya.

Oleh karena itu, khauf dapat mencegah orang berbuat dosa. Sedang raja' bisa menguatkan keinginan untuk melakukan ketaatan. Ingat mati dapat menjadikan orang bersikap zuhud dan tidak mengambil kelebihan harta duniawi yang tidak perlu. Kedua, agar tetap tenang dengan berbagai kesulitan hidupnya.

Wallahu a'lam bishawab