Sebagai kaum muda sekaligus insan pendidikan, konsep kebhinekaan kiranya tidak begitu sulit untuk dipahami. Artinya dalam tataran definisi, paham kebhinekaan dapat dijelaskan bahkan dalam konteks sebagai sebuah normatif. Namun permasalahannya, bagaimana paham kebhinekaan itu melekat dalam setiap pribadi. Atau dalam bahasa khas ketimuran, bagaimana rasa kebhinekaan merasuk dalam hati di mana tidak hanya dalam tataran konsep.

 Secara historis, setidaknya ada dua peristiwa besar yang dapat menjadi landasan bagi kebhinekaan itu yaitu Sumpah Palapa (Gajah Mada) dan Sumpah Pemuda (1928). Esensi dari keduanya adalah semangat persatuaan di mana hal itu ditegaskan lagi dalam Dasar Negara yaitu Pancasila. Pertanyaannya, apakah setiap kita dapat membangun rasa kebhinekaan itu dengan dua peristiwa historis ini?

Saya pikir tidak semudah itu. Pada dasarnya penerimaan akan keberagaman tidak cukup sebatas peristiwa historis yang mengakui keberagaman tetapi bagaimana hal itu dibangun melalui kebiasaan (latihan).

Tulisan ini kiranya mau menekankan bahwa kebiasaan merupakan salah-satu aspek penting di samping adanya aturan normatif tentang penerimaan akan kebhinekaan. Maka dari itu lingkup keluarga dan sekolah sangat penting bagi pengembangan rasa kebhinekaan. Di sisi lain negara mesti terus menegaskan untuk melindungi setiap warga negara tanpa memandang suku, etnis, agama, ataupun ras.

Membaca tanda-tanda atau sikap-sikap kontra-kbhinekaan

Keberagamaan secara potensial dapat menimbulkan konflik horisontal selain dapat memperkaya satu-sama lain. Kita juga mesti realistis dan menyadari kecenderungan manusiawi kita seperti kemarahan, kebencian, ataupun iri hati terutama terhadap kelompok yang berbeda dengan kita. Kecenderungan manusiawi itu muncul biasanya ketika kelompok tertentu merasa terancam atau disaingi baik secara kualitas ataupun kuantitas.

Di sebuah masyarakat majemuk, rasa curiga tidak dapat dihindari apalagi ketika ada aktor tertentu yang menggunakan “perbedaan” demi kepentingan politis tertentu semisalnya.

Kecurigaan semakin masif ketika kelompok-kelompok minoritas mulai mandiri seperti: mendirikan rumah ibadah, sekolah, ataupun rumah sakit. Misalnya, umat muslim Flores yang hidup ditengah masyarakat bermayoritas Katolik. Demikianpun ketika penganut Syiah melakukan hal serupa di tengah masyarakat penganut Suni. Persoalan tidak lagi dalam lingkup kelompok mayoritas-minoritas tetapi di antara kelompok mayoritas itu sendiri.

Kelompok mayoritas terbagi menjadi dua kubu yaitu antara kaum inklusif (tolerant) dan kaum eksklusif (radikal). Potensi perpecahanpun semakin besar dan jika tidak diselesaikan tentu akan mengancam kebhinekaan.

Selain itu, kecenderungan eksklusifitas (sikap intoleran) ada dalam setiap kelompok identitas baik itu agama, suku, etnis ataupun ras. Pandangan eksklusif tidak dapat dihindari khususnya dalam konteks hidup beragama. Pandangan ini ada dalam setiap agama tanpa terkecuali. Namun harus diakui bahwa tidak semua umat beragama mempraktekan sikap eksklusif itu dalam hidup berbangsa.

Artinya, sekalipun secara ideologis atau doktrinal tertentu ada kecenderungan eksklusifitas namun hal itu tidak diterapkan begitu saja dalam hidup berbangsa. Kita dapat melihat dalam Islam misalnya. Sekalipun ada beberapa kelompok radikal namun kebanyakan cenderung moderat. Demikianpun halnya dalam Katolik, Protestan, atau agama lain.

Beberapa indikator di atas, saya pikir dapat membantu kita demi mencari jalan keluar yang tepat. Secara singkat, tulisan ini merupakan hasil reflektif pribadi di mana dalam membangun karakter pribadi yang berkebhinekaan tidak cukup dalam taraf normatif atau hukum belaka. Meminjam ide salah-satu Filsuf termasyur, Aristoteles, keutamaan dan kebajikan tidak dapat dimiliki begitu saja.

Untuk mencapai keutamaan dan kebajikan itu, latihan dan kebiasaan adalah jalan yang mesti dilewati. Seseorang yang terbiasa jujur akan dengan mudah mengatakan jujur dalam setiap tindakannya. Demikianpun dengan sikap ber-kebhinekaan. Latihan dan kebiasaan sangat menentukan dalam terbentuknya pribadi yang ber-kebhinekaan.

Lingkup Keluarga dan Sekolah

Keluarga merupakan tempat pertama seorang pribadi bertumbuh dan berkembang. Di sini seorang pribadi setidaknya menghabiskan sebagian besar waktunya dan mendapat banyak pengaruh bagi kepribadiaannya. Latihan dalam konteks keluarga berarti orang tua mesti menanamkan semangat toleran pada anak-anaknya dan bukan sebaliknya.

Tanpa harus lebih dalam mengkajinya, saya akan memberi kesaksian bahwa betapa lingkup keluarga sangat menentukan karakter kita terutama dalam kebhinekaan. Semasa kecil sampai SMA, saya hidup dalam keluarga Katolik di mana lingkungan sekitarnya semuanya beragama Katolik. Beberapa kali, secara tidak sengaja, saya sering mendengar beberapa pernyataan baik itu dari orang tua, kakak, ataupun tetangga tentang suku ataupun agama lain.

Kebanyakan pernyataan-pernyataan mereka cenderung bernada negatif dan hal itu sangat berpengaruh bagi pemahaman saya tentang suku atau agama lain itu. Pada umumnya daerah pedesaan Flores, masyarakat hampir semuanya beragama Katolik sedangkan di pesisir pantai atau Kota Kabupaten, umat dari agama lain cukup banyak seperti Islam ataupun Protestan.

Setiap kali perjumpaan dengan saudara-saudara muslim misalnya, prasangka-prasangka yang diwarisi secara psikologis melalui pernyataan negatif dari keluarga sulit terhindarkan. Namun ketika memasuki jenjang SMP, prasangka itu kiranya mulai teratasi. Setiap kali lebaran, kami diminta untuk mengucapkan selamat bagi saudara-saudara muslim.

Setidaknya prasangka dan ketakutan mulai teratasi terutama ketika kita diterima dengan penuh kehangatan. Demikianpun halnya dalam pengamatan saya pada sebuah keluarga muslim di Jakarta yang merupakan tetangga saya sekarang ini. Kedekatan dan  kebiasaan kami untuk berkomunikasi satu sama lain akhirnya menghasilkan sebuah hubungan yang cukup dekat.

Menariknya, persahabatan ini secara tidak langsung berpengaruh pada anak-anaknya. Saya menyadari bahwa awalnya hubungan tidak begitu mudah. Khotbah-khotbah bernada eksklusif terdengar begitu jelas.

Sayapun bersyukur bahwa hubungan kamipun semakin intens dan tidak lagi terpengaruh berbagai wacana mayoritas-minoritas di mana hal itu cukup kuat di lingkungan kami. Berkat hubungan ini, kami setidaknya dapat menerima satu-sama lain tanpa memandang suku dan agama masing-masing. Di tengah kuatnya isu larangan mengucapkan selamat natal, keluarga muslim ini pun malah sempat bertanya: “kok kamu ngga buat pohon natal?”.

Dua kisah di atas kiranya memberikan beberapa gambaran baru bagi hubungan khususnya antar-agama. Pertama, hubungan kita dengan penganut lain tidak dapat diukur begitu saja dari ciri teologi agama kita apakah inklusif atau eksklusif. Dua kisah di atas kiranya telah membuktikan hal itu. Sebagai seorang dari keluarga Katolik, keterbukaan saya dengan saudara-saudara muslim tidak semata-mata  didorong oleh semangat teologi inklusif.

Secara historis, justru dalam keluarga dan lingkungan mewarisi sikap eksklusif sekalipun Gereja Katolik telah secara resmi melalui Konsili Vatikan II1 (1965) menegaskan sikap keterbukaan bagi agama-agama lain. Dalam prakteknya, tidak semua jemaat Katolik menerapkan semangat Konsili Vatikan II itu.

Demikianpun dengan keluarga muslim tadi. Sekalipun ada begitu banyak Fatwah yang besifat eksklusif misalnya, hal itu pun tidak menghalangi hubungan kami. Membangun kebiasaan untuk terbuka dapat menghilangkan prasangka dan kecurigaan satu-sama lain.

Kedua, keterlibatan saya dalam lembaga dialog antar-agama seperti Wahid Institute dan ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) memberikan beberapa banyak inspirasi. Lagi-lagi, ide-ide eksklusif akan dengan sendirinya “tersingkir” justru ketika kami berani bertemu dan membuka diri. Perjumpaan saja sudah sangat membantu dalam membangun rasa kebhinekaan itu.

Tanpa harus melewati diskusi-diskusi teologis atau dokrin tertentu, sebenarnya ketika kita dapat berkumpul maka rasa kecurigaan satu-sama lain semakin berkurang. Tentu sulit dibayangkan misalnya bagi seorang penganut Suni melihat beberapa penganut Suni lainnya dapat menerima saudara-saudara Ahmadiyah. Namun saya pikir hal itu tentu diawali oleh suatu rasa yang tidak enak tetapi ternyata hal itu dapat diwujudkan. Misalnya, dalam lembaga ICRP seperti yang saya alami.

Ketiga, khusus untuk sekolah.  Peran guru menjadi sentral dalam menentukan karakter kebhinekaan siswa. Jenjang SD sampai SMA merupakan masa di mana seorang pribadi sangat “rentan” dalam memahamai sesuatu. Jika mereka diajarkan ide-ide eksklusif maka hal itu akan melekat dalam pemahaman untuk kehidupan di kemudian hari.

Guru tidak boleh menilai kelompok tertentu secara sepihak atau mengajarkan paham-paham eksklusif. Misalnya, memberikan penilaian agama x atau aliran z itu adalah sesat.

Dan saya pikir, ada banyak cara dalam lingkungan sekolah dalam mengembangkan rasa kebhinekaan itu. Kebiasaan-kebiasaan sejak dini justru akan menentu karakter masa depan seseorang. Hal itu pun dapat menangkal segala bentuk provokasi yang bertentangan dengan kebhinekaan baik itu demi tujuan politik ataupun demi ideologi radikal tertentu.


Catatan Kaki

1Merupakan Dokumen Resmi Gereja Katolik di mana salah-satu isi di dalamnya memuat wacana hubungan dengan agama lain. Secara singkat, untuk pertama kali secara resmi Gereja Katolik Roma menyatakan diri terhadap pengakuanya tentang kebenaran agama-agama lain. Artinya, ajaran agama lain dapat membawa seseorang pada keselamatan kekal di mana hal itu menjadi misi dari Yesus Kristus.