Damai dalam Al Qur'an direpresentasikan dengan kata salam, yang memiliki hubungan semantik dengan kata Islam. Dalam membangun perdamaian, pemaksaan kepada pihak lain merupakan cara kurang bijaksana.

Menurut Al Faruqi, fitrah manusia merupakan pengetahuan bawaan alamiah untuk tunduk kepada Allah SWT. Sementara kedurhakaan dan kemungkaran merupakan ketundukan yang tidak alamiah.

Menurut Ibnu Taimiyah, hubungan antara fitrah manusia dengan perdamaian dan konflik yakni, fitrah merupakan kecenderungan seseorang untuk beriman dan melakukan kebaikan untuk membimbing manusia membangun perdamaian.

Seseorang dikatakan mukmin sejati apabila dia mampu membuat damai antar sesama,  saling mengasihi, dan menjadikan yang lain sebagai saudara. 

Oleh karena itu, Islam merupakan agama pendukung perdamaian dan antikekerasan.
Kekerasan atau peperangan diizinkan di dalam Al Qur'an ketika mempertahan diri  untuk memulihkan keadaan damai.

Damai tidak akan ada jika tidak ada konflik. Ketika damai tiada maka terjadilah konflik. Begitulah hubungan antara keduanya, ibarat dua sisi pada mata uang yang satu.

Faktor yang mempengaruhi perdamaian yaitu, struktur, kultur, identitas, kepentingan, dan perasaan. Rasulullah Saw. dalam membangun perdamaian menjalankan prinsip yaitu, Islam, iman, dan Ihsan.

Pertama Islam, islam merupakan jalan kedamaian yang telah Allah SWT ridhai sebagai agama, dan memberi petunjuk bagi pemeluknya. Di dalam Islam kekerasan tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan membela diri untuk perdamaian.

Kedua iman, kondisi hati dan jiwa yang timbul dari pengetahuan dan kepercayaan terhadap sesuatu. Pengetahuan tidak cukup untuk membangun keimanan, karena apa yang diketahui itu bisa jadi bertentangan dengan pengetahuannya.

Ketiga Ihsan, manusia menyadari kehadiran Allah SWT dan berperilaku dengan sebaik-baiknya. Didalam melakukan kebaikan pikiran dan sikap batiniah harus selaras dengan perbuatan lahiriah.

Tujuan dari membangun perdamaian yakni menegakkan keadilan, terciptanya ketentraman, dan terwujudnya kerukunan antar umat atau golongan yang berbeda latar belakangnya.

Strategi mewujudkan perdamaian di dalam Al Qur'an menggunakan beberapa istilah. Pertama kata ishlah, yakni upaya kaum muslim dalam memperbaiki dan mendamaikan pertentangan yang terjadi yaitu musyawarah.

Kedua kata ma'ruf, ma'ruf merupakan sesuatu yang dinilai baik , tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ma'ruf diistilahkan perbuatan baik yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, manusia itu sendiri, dan lingkungannya.

Ketiga kata 'afw, kata 'afw ini berarti memaafkan sesuatu dengan tidak membalas kejahatan dan kesalahan. Konflik akan berakhir jika kedua belah pihak yang terlibat telah menemui titik solusi dan saling memaafkan.

Keempat kata hikmah, hikmah harus dimiliki seseorang yang dipercayai sebagai wakil dalam proses arbitrase. Hikmah akan mengurangi mudharat dan mendatangkan kemaslahatan.

Catatan penting yang harus dipahami bahwa antara prinsip, tujuan, dan strategi merupakan kesatuan satu siklus. Kesinambungannya membentuk hubungan segitiga sinergis perdamaian (triangle of peach) yang terdiri dari:

Pertama mushlih, orang yang mendamaikan dengan peran membangun perdamaian. Kedua ishlah, sebagai upaya strategis untuk mencapai tujuan. Ketiga mushlah ilaih,  utama perdamaian tersebut.

Al Qur'an menegaskan pembagian dua bentuk perdamaian, yakni perdamaian abadi dan perdamaian fluktuatif. Keduanya memiliki pengertian dan strategi yang berbeda dalam mencapai perdamaian.

Pertama perdamaian abadi, yakni perdamaian kekal di surga yang tak terhingga. Strategi untuk mencapai perdamaian abadi ini dengan menerapkan tiga pilar utama yaitu Islam, iman, dan Ihsan.

Kedua perdamaian fluktuatif, yaitu perwujudan dari karakter dan strategi perdamaian secara total. Strategi untuk mencapai perdamaian ini dengan cara musyawarah, tahkim, maupun bersikap amanah kepada Allah SWT.

Perdamaian di dalam Al Qur'an juga diterapkan di lingkungan keluarga. Konflik di dalam keluarga ditimbulkan karena ketidakpatuhan dan kesalahpahaman antara suami istri disebut dengan nusyuz. 

Apabila seorang istri bernusyuz kepada suaminya maka suami tidak boleh melakukan kekerasan terhadap istrinya. Tetapi haruslah melakukan tahapan-tahapan agar tetap terciptanya tujuan dari pernikahan tersebut.

Yang pertama ialah menasehati sang istri agar tidak mengulang perbuatan tersebut. Jika masih mengulang lagi lakukan pisah ranjang. Jika masih nusyuz maka suami berhak memukul istri, tetapi dengan pukulan ringan.

Nusyuz sendiri tidak selamanya dilakukan oleh istri, suami juga bisa melakukan nusyuz. Oleh sebab itu, dalam menjalankan ibadah ini yaitu berkeluarga maka harus saling memahami antar satu dengan yang lain.

Membangun perdamaian didalam lingkungan masyarakat ternyata lebih sulit karena kita akan menemukan banyak perbedaan baik berbeda agama, golongan, maupun pandangan. 

Nabi Muhammad Saw. dalam menghadapi masalah dimasyarakat baik itu dikomunitas, beliau selalu menggunakan jalan damai dengan bersabar dan mengedepankan sikap toleran. 

Begitupun pola interaksi antarumat beragam haruslah mengedepankan toleransi, sebab kualitas beragam seseorang bisa diukur dengan seberapa bijak ia mampu berinteraksi dengan perbedaan. 

Pola interaksi yang diajarkan Al Qur'an berorientasi membangun perdamaian, bukan memicu konflik. Toleransi disini termuat dalam segala hal, kecuali tentang ibadah.