50515_90310.jpg
Budaya · 5 menit baca

Membangun Masyarakat Etika
Kajian Pemikiran Cak Nur #1

Di tengah era modern ini, banyak hal yang dinilai sudah tidak relevan dengan zaman (baca: jadul) dan layak digantikan atau bahkan dibuang. Namun lain halnya dengan buah pemikiran yang progressif atau bahkan melampaui zamannya. Salah satu contohnya ialah pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid—akrab dipanggil Cak Nur, seorang tokoh pembaru dan cendekiawan muslim Indonesia yang telah menelurkan berbagai gagasan pembaruan Islam.

Gagasan-gagasan beliau tentang Islam dan modernitas adalah gagasan yang paling diperlukan saat ini. Di tengah kejumudan yang mulai melanda masyarakat Islam modern yang ingin serbapraktis dan kurang produktif, memunculkan kembali gagasan beliau merupakan salah satu langkah solutif guna menyadarkan kembali betapa pentingnya Islam tampil sebagai aktor bukan hanya sebagai suporter.

Salah satu faktor penyebab lemahnya produktivitas umat muslim di Indonesia dalam upaya menghasilkan gagasan-gagasan kemajuan ialah karena terlalu terpusatnya perhatian mereka pada masalah-masalah hukum (fikih sentris). Maka berangkat dari realitas itulah Cak Nur menawarakan gagasan untuk memahami konsep-konsep keagamaan dari sisi yang jarang terjamah dan sekaligus menghantarkan kepada pemahaman yang komprehensif akan agama itu sendiri.

Bagian tulisan ini akan membahas pemikiran Cak Nur tentang pertingnya mengurai konsep kosmologis Islam demi mendapatkan kejelasan mengenai “peta” semesta serta kedudukan manusia di dalamnya. Sehingga diharapkan mampu membantu manusia mengenal tugas sejatinya (fitrahnya) sebagai khalifah fil ard.

Hakikat Alam

Salah satu bagian pembahasan dalam tulisan ini adalah alam semesta (kosmologi). Cak Nur menekankan bahwa penting bagi kita untuk memahami dengan baik mengenai eksistensi dari alam semesta ini. Alam semesta adalah haqq (Q.S al-Zumar: 5), tidak diciptakan dengan “main-main” (Q.S al-Anbiya’: 16) dan tidak pula dengan “kepalsuan” (Q.S al-Shad: 27).

Ismail Raji al-Faruqi berpendapat bahwa hakikat alam ini adalah teleologis, yakni penuh maksud, memenuhi maksud penciptanya. Kosmos sendiri berarti kreasi yang tertib atau sebuah rancangan yang sempurna, dan bukanlah suatu chaos (kekacauan) atau kebathilan. Dengan sifatnya yang penuh maksud, maka studi tentang alam dan penelitian terhadapnya akan membawa kepada kesimpulan yang bersifat positif dan penuh apresiasi terhadapnya.

Dalam pandangan Cak Nur, kesalahpahaman tentang eksistensi alam semesta akan membawa pada pandangan yang salah pada pemaknaan hidup. Seorang yang menganggap bahwa alam ini adalah bathil, tentu secara tidak langsung dia menganggap bahwa segala pengalaman di dunia ini juga adalah palsu dan tidak mungkin memberikan kebahagiaan. Pandangan kosmologis yang pesimis ini memungkinkan seseorang terperangkap pada sikap rahbaniyah, yaitu sikap hidup para rahib yang mengarantina dirinya hanya untuk beribadah dan menyalahi fitrahnya sebagai makhluk sosial (manusia).

Pandangan pesimistis itu juga menyalahi pandangan yang dituntunkan Alquran. Karena menurut Cak Nur, sebagaimana juga yang dikatakan al-Faruqi tentang hakikat kosmos, bahwa Alquran justru mengajarkan kita agar memiliki pandangan yang positif-optimis tentang alam. Pandangan yang mengajarkan manusia untuk melibatkan diri secara aktif dan positif dalam hidup ini dengan mengingatkan fitrah manusia sebagai khalifah fil ard yang salah satu tugasnya adalah islah al-ard (memperbaiki kehidupan satu sama lain, memelihara dan meningkatkan mutu hidup bersama). 

Maka disini, kata Cak Nur, nilai seorang manusia diukur dari bagaimana dan sebarapa jauh ia melibatkan diri secara aktif dan konstruktif dalam kehidupan nyata ini. Layaknya yang dikatakan dalam hadis khairunnas anfa’uhum lin nas.

Takdir dan Ilmu Pengetahuan

Salah satu doktrin dalam ajaran Islam adalah taqdir. Kata takdir merupakan bentuk mashdar dari kata qaddara yang bermakna ketetapan, ketentuan, kepastian, dan secara semantis memiliki keterkaitan dengan kata qadiir (sifat Allah yang Maha Mampu). Maka secara sederhana takdir bisa dikatakan sebagai sebuah kepastian hukum Allah atas alam ciptaan-Nya. 

Karena itu, salah satu makna beriman kepada takdir atau qadar Tuhan, dalam penglihatan kosmologis ini, adalah beriman kepada adanya hukum-hukum kepastian yang menguasai alam semesta, baik makro maupun mikro, sebagai ketetapan dan keputusan Allah yang tidak bisa dilawan, sebab manusia adalah makhluk yang terbatas kemampuannya.

Maka bisa dikatakan bahwa takdir merupakan pembatas dan sekaligus bukti keterbatasan manusia. Namun, menurut Cak Nur, di situlah letak kesempatan bagi manusia untuk meraih keberhasilan dalam usahanya menjelaskan ketetapan Tuhan itu—secara rasional. Maka di sinilah peran ilmu pengetahuan sebagai usaha manusia untuk memahami hukum Allah yang pasti bagi alam ini. Oleh karena itu, ia memiliki nilai kebenaran, selama ia mampu secara tepat merepresentasikan hukum kepastian Tuhan. Kebenaran dari usaha manusia yang berwujud ilmu pengetahuan itulah yang dengan sendirinya akan bermanfaat bagi manusia.

Dalam kaitannya dengan ilmu agama, Cak Nur menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang signifkan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Pertama, dari sisi epistemologi. 

Sejatinya sumber kedua ilmu ini adalah satu, tetapi yang membedakan adalah proses transmisinya. Ilmu pengetahuan diberikan setelah adanya usaha manusia untuk mendapatkannya, sedangkan ilmu agama diberikan secara langsung melalui wahyu.

Kedua, objeknya. Apa yang harus dipahami manusia melalui ilmu pengetahuan adalah hal-hal lahiriah dengan segala variasinya, seperti yang terkesan tidak nampak, misalnya medan magnet dan teori-teori fisika lainnya. Sedangkan apa yang harus dipahami manusia melalui ilmu agama adalah hal-hal yang tidak empiris, tidak dapat disaksikan secara langsung, sehingga manusia tidak mungkin mengetahuinya kecuali melalui sikap percaya dan menerima (iman dan Islam) risalah wahyu para Nabi.

Upaya manusia untuk membaca fenomena alam yang terjadi atas kepastian Tuhan itu tidak akan pernah terwujud tanpa dikerahkannya dan dicurahkannya akal. Dalam salah satu ayat Alquran, dikatakan bahwa manusia yang bisa mengambil pelajaran hanyalah manusia yang berpikir atau yang menggunakan akalnya. Namun satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwasanya akal bukanlah alat untuk menciptakan kebenaran, tapi melalui akallah kita dapat memahami dan menemukan kebenaran.

Hal menarik atas pembacaan penulis terhadap pemikiran Cak Nur tentang pembahasan ini adalah salah satu kutipan (maqalah) yang beliau sajikan berasal dari seorang tokoh yang diklaim sebagai seorang fundamentalis yakni Ibn Taimiyah. Cak Nur mengutip penjelasan Ibn Taimiyah tentang pengertian akal. 

Bagi Ibn Taimiyah, akal, jika ditarik ke dalam bentuk kata kerjanya (‘aqala-ya’qilu), memiliki makna kegiatan memahami atau mempelajari dan mengambil pelajaran. Bahkan dalam salah satu adagiumnya, Ibn Taimiyah menunjukkan pandangan scientific-nya, misalnya, al-haqiqah fi al-a’yan la fi al-adzhan

Adagium itu, dalam pandangan penulis sendiri, menunjukkan bahwa terdapat spirit mengkaji secara objektif yang diisyaratkan oleh Ibn Taimiyah. Tentunya ini terkesan berbeda tatkala kita melihat pengikutnya yang terkesan menginterpretasikan pemikiran Ibn Taimiyah dengan menunjukkan kejumudan mereka dalam mengembangkan ilmu-ilmu keIslaman, dan bahkan terlihat sangat kaku dan gemar mengklaim kebenaran sepihak.

Doktrin Taskhir dan Masyarakat Modern

Doktrin taskhir adalah salah satu bagian ajaran Islam yang menerangkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, sehingga alam yang memiliki derajat yang lebih rendah pun tunduk kepada manusia atas kehendak-Nya. 

Secara scientific, Cak Nur menjelaskan bahwa alam haruslah mampu dimanfaatkan oleh manusia dan dijadikan objek kajiannya. Maka tindakan yang dianggap menyalahi fitrah manusia adalah menempatkan alam lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Sehingga tentulah menyalahi fitrah apabila manusia mengklaim bahwa ilmu pengetahuan yang merupakan hasil upayanya adalah representasi kebenaran yang paripurna.

Bagi Cak Nur, manusia haruslah memanfaatkan alam dengan tidak hanya bersifat eksploitatif. Akan tetapi, juga harus mempertimbangkan hubungan serasi antarsesama makhluk dan menunjukkan sifat apresiatif terhadap lingkungannya. 

Karena sebagai sebagai masyarakat modern, nilai etika-religiusitas harus tetap ditekankan. Sebab alam bukanlah hanya sebatas sumber daya akan memenuhi kebutuhan lahir manusia saja, tetapi juga sumber meraih pelajaran yang akan membawa manusia terus berinovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan ke arah yang positif. 

Pemikiran eksploitatif hanya membuat manusia lupa akan fitrahnya sebagai khalifah dan cenderung berbuat fasad. Sebaliknya, pemikiran yang menitikberatkan pada pandangan inovatif akan membuat manusia benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai khalifah yakni islah al-ard.