Ketika membaca di media sosial atau media online ada masjid yang berutang, rasa ingin tahu kondisi masjid sekitar muncul. Jangan-jangan masjid sekitar yang dikelola masyarakat juga utang. Padahal jamaah yang hadir tak semegah bangunan masjid. Kadang hanya dua shaf, jamaah hanya ramai ketika salat magrib. 

Dalam perjalanan singkat, saya menemukan sebuah masjid yang unik. Bukan karena bangunan atau kemegahannya, akan tetapi cara pengurus masjid mencari sumber dana yang halal. Menurut saya patut diteladani bahkan oleh pengurus masjid kampus yang masih berutang. 

Menurut Pak Saidiudin, imam masjid Al-manar, kampung Ateuk Pahlawan, Banda Aceh, sejak 2012 masjid dibantu Bank Sampah Gema Bersatu. Pak Saidiudin yang langsung mengomandoi bank sampah tersebut. 

Melalui bank sampah itu masyarakat jadi lebih peduli dengan lingkungan. Sampah yang dapat ditukar dengan rupiah bukan hanya membuat lingkungan kampung bersih, akan tetapi secara ekonomi dapat membantu pembangunan masjid.

Hingga kini bank sampah masih membantu operasional masjid. Mulai pembayaran iuran listrik hingga kebutuhan masjid lainnya. Rencananya akan pula membeli mesin daur ulang kertas. 

Bank sampah Gema Bersatu sejatinya pertama kali ada di Banda Aceh. Wajar bila beberapa kali mendapat kunjungan dari luar Aceh sebagai bahan komparasi model bank sampah.

Sore itu saya saksikan antusias masyarakat yang menukarkan sampah. Sebagaimana dilansir serambinews, setiap harinya Banda Aceh menghasilkan 200-300 ton sampah. Dan sampah tersebut potensial menjadi bahan bakar semen klinker. 

Kerja sama PT Semen Indonesia dan Pemko Banda Aceh dalam pengelolaan sampah perlu diapresiasi. Gema Bersatu menjadi salah satu kelompok pengumpul sampah yang kiranya akan membantu Pemko.

Belajar dari usaha yang dilakukan pengurus masjid Al-Manar, kiranya masjid lain dapat melakukan hal yang sama. Keuntungan yang didapat bukan hanya akhirat, akan tetapi juga dunia. Bila nantinya mesin daur ulang kertas terbeli, tentu akan menambah pendapatan dan bukan mustahil akan menciptakan lapangan kerja baru.

Pemberdayaan ekonomi berbasis masjid yang dipraktikan pengurus Al-Manar sangat sesuai dengan firman Allah yang artinya: 

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. 9:18).

Upaya pengembangan usaha Gema Bersatu dengan mesin daur ulang kertas merupakan cara memakmurkan masjid, selain memenuhi shaf shalat lima waktu. Selama ini, kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan masjid Al-Manar mengandalkan keuntungan bank sampah. Tidak lagi mengandalkan proposal atau bantuan dana desa. 

Banda Aceh pernah sembilan kali meraih anugerah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Namun Banda Aceh gagal mempertahankan Piala Adipura periode 2017-2018. 

Pak Saidiudin sangat menyesalkan kegagalan tersebut. Ia berpesan agar kampung-kampung di Banda Aceh lebih peduli kepada lingkungan.

Saya sepakat dengan beliau. Potensi Banda Aceh mengelola sampah sebagaimana yang dilakukannya sangat terbuka lebar. Pasalnya, masjid-masjid di Banda Aceh cukup banyak sehingga munculnya bank-bank sampah pastinya akan membantu Pemko.

Penerapan syariat Islam menjadi faktor pendukung. Para dai dan ustaz dalam ceramah dan khotbahnya dapat mengangkat tema kebersihan lingkungan. Pemanfaatan sampah dan daur ulang kertas serta aspek lain yang terkait jarang kita dengar dalam ceramah maupun khotbah. 

Padahal pengaruh ulama, terutama di Aceh, sangat besar. Jika ulama mengatakan masjid harus terhindar dari sampah, maka masjid akan bersih. Jika ulama mengampanyekan pentingnya daur ulang sampah demi menjaga lingkungan, maka jamaah akan mengikutinya.

Peran ulama terutama para pendakwah menjadikan masjid sebagai basis ekonomi sangatlah vital. Apa yang dilakukan masyarakat kampung Ateuk Pahlawan harusnya menginspirasi masjid-masjid lain. Bukan tidak boleh mengandalkan infak dan sedekah, namun alangkah baiknya bila masjid bisa mandiri.

Bank-bank sampah harusnya hadir di setiap masjid. Jangan malah sampah berserakan di halaman masjid. Sebagaimana filosofi Bank Sampah Gema Bersatu: "dulu sampah sekarang berkah". 

Ketika sampah menjadi berkah, mengapa harus dibuang sembarangan? Bukankah berkah salah satu hal yang kita harapkan dalam segala aktivitas sehari-hari?

Lingkungan bersih dambaan kita semua. Namun sayang, tak semua mau menjaganya. 

Barangkali mengganti sampah dengan rupiah menjadi solusi. Sampah dijual pada bank sampah terdekat, masyarakat tidak lagi menganggap remeh sampah. Saya kira ide kreatif pengelolaan sampah di Indonesia sudah cukup memadai, tapi pada tataran implementasi yang sering terhambat.

Doa dan harapan saya, semoga rencana mendaur ulang kertas yang akan dilakukan Gema Bersatu segera terlaksana. Masjid yang butuh kertas dapat membeli kepada mereka, pun kantor-kantor di Banda Aceh. 

Masyarakat yang selama ini menjual murah kertas bekas dapat menjualnya ke Gema Bersatu. Bila membangun masjid dapat dilakukan dengan sampah, mengapa harus berutang?