Ketika membaca buku, saya merasa tercerahkan. Bagaimana ia bisa membuat cerita yang menjadikan saya tersenyum, tertawa sendirian?

Anak-anak dikurung dalam perpustakaan selama satu jam pelajaran, misalnya. Ia tidak diharuskan membaca buku. Yang penting adalah membuat mereka merasa nyaman di sana. Setelah nyaman, mereka akan sadar dan mencari tahu buku-buku yang ada di perpustakaan.

Kita tidak harus memaksakan mereka untuk membaca buku. Karena motivasi dari dalam, berkat kesadaran diri, lebih lekang dan tahan lama.

Seperti saya yang pergi ke perpustakaan sekolah. Awalnya saya hanya melihat-lihat, lalu tidur-tiduran. Ketika saya mulai bosan, saya penasaran dengan buku-buku yang ada di sana. 

Ternyata koleksi yang ada begitu menarik perhatian saya. Ada kalimat, jangan menilai buku dari sampulnya. Saya kurang setuju dengan kalimat itu karena untuk menilai buku, yang pertama dilihat adalah sampul dan judul buku. Setelah itu, baru isinya. Harapannya, penerbit buku dapat membuat sampul yang elegan, indah, dan tentunya sesuai dengan isi buku.

Setelah saya suka membaca buku, lama-kelamaan saya jadi sering meminjam buku. Saya pinjam lima-enam buku untuk seminggu. Kadang habis dibaca, kadang tidak, kenapa? Karena saya menilai buku dari sampul , judul, dan blurb (bagian singkat belakang buku). 

Ketika saya membaca buku, belum setengah halaman, saya sudah tidak berminat. Karena awalan dari buku itu yang kurang menarik bagi saya. Meskipun semua buku yang ada di perpustakaan itu bermanfaat, tapi belum tentu mampu menarik perhatian kita. Saya lebih suka membaca buku yang ada ceritanya, seperti puisi dan novel.

Bayangkan saja jika orang yang mengelola perpustakaan, bisa tahu isi buku tersebut? Mungkin terlalu idealis. Tapi jika itu terjadi, maka orang tersebut bisa memberitahukan apa yang menarik mengenai buku tersebut. 

Sama seperti penerbit yang mempromosikan buku agar buku tersebut dapat dibeli. Perpustakaan dapat menganggap dirinya sebagai penerbit, dan membuat buku-buku itu laku, yaitu agar buku itu bisa dibaca.

Saat saya sudah senang membaca buku, entah kenapa ada dorongan tak terlihat yang mengajak saya untuk menulis. Lalu saya mulai menulis, dan menulis. 

Walaupun tulisan saya berantakan, tak jelas, melompat-lompat, tapi saya tetap menulis. Karena tidak ada tulisan yang sempurna, selalu saja ada bagian indah dan buruk. Saya tinggal melakukan peningkatan dengan membaca buku, dan perbaikan dalam menulis. 

Menulis dan membaca adalah bagian daripada literasi. Karena literasi adalah memiliki kemampuan membaca, menulis, memahami pengetahuan dan informasi. Bagaimana kemudian seseorang paham akan informasi yang diterima. Bagaimana ia tahu untuk mencukupi kebutuhan akan pengetahuan.

Literasi dasarnya adalah paham akan informasi, pengetahuan, dan mampu menilai informasi tersebut.

Seseorang yang paham tentu berbeda dengan yang tidak. Paham menjadikan seseorang lebih hati-hati dan mampu menilai informasi mana yang sesuai dengan kebutuhan. Sama seperti ibu yang memilihkan makanan untuk kita. Tidak mungkin setiap hari kita makan mi instan, karena hal itu berbahaya bagi kita, jika kita mengetahuinya.

Maka awal dari pembentukan pemikiran yang kritis, keinginan untuk mencari tahu, yaitu kegiatan membaca. Seperti yang dikatakan oleh Glenn Doman (1986):

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup, dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.

Membaca tidak bisa dianggap sepele dan tidak penting. Karena hal inilah sangat berperan sebagai awal daripada proses berpikir. Karena setelah membaca, kita tahu, paham, mengerti, dan setelah itu kita akan bertanya. Seseorang yang bertanya ini yang merupakan buah pikiran daripada hasil membaca.

Seperti kata Putu Laxman Pendit, Ph.D bahwa: “Tidak ada pengetahuan ketika tidak ada rasa ingin tahu, dan Anda tidak bisa menghasilkan pengetahuan, ketika tidak bisa bertanya.”

Jadi, bertanya adalah kegiatan penting. Sebab ia hasil dari proses membaca tadi. Dengan membaca, kita berusaha melenyapkan rasa penasaran. Tapi setelah membaca, justru kita akan merasa bodoh, seperti tidak tahu apa-apa. Karena ternyata masih banyak sekali hal yang kita tidak tahu.

Peran perpustakaan adalah menyimpan, mengelola dan menyampaikan bahan pustaka ataupun informasi. Bahan pustaka menurut Putu Laxman Pendit, Ph.D: “Pustaka bukan hanya buku, tapi pengetahuan yang terekam.”

Jadi, perpustakaan harus menumbukan rasa ingin tahu, harus bisa mengelola dengan baik koleksinya, bisa menyediakan fasilitas yang nyaman, serta mampu mengomunikasikan informasi kepada masyarakatnya.

Perpustakaan diharapkan untuk terus berinovasi, memberikan yang terbaik. Ketika saya melihat perpustakaan universitas yang begitu besar, saya jadi bingung. Sebab berbeda dengan perpustakaan sekolah waktu SMA. Buku apa yang harus saya baca? Karena saya suka pada buku sastra, jadi saya pergi ke rak buku yang ada novel dan puisinya. 

Tetapi ada begitu banyak buku di sana. Saya tidak tahu yang mana yang harus dibaca, yang mana yang menarik. Karena tidak ada yang merekomendasikan buku tersebut. Tidak ada yang bisa memberitahu saya.

Upaya membangun budaya baca bukan perkara mudah, sebab budaya hanya ada ketika orang banyak melakukannya secara kontinu. Kita bukan masyarakat Jepang yang gemar sekali membaca buku, kita lebih utamakan lisan. 

Tapi itu tidak berarti bahwa buku tidak penting. Buktinya saat ini penerbit Gramedia tidak bangkrut. Dan justru malah banyak penerbit Indie bermunculan. 

Walau banyak yang mulai tumbang, bukan berarti tak ada yang berminat sama sekali untuk membeli buku. Hanya saja memang harga buku yang setara dengan dua ekor ayam (saat ini), hal itu menjadi kendala tersendiri.

Kita membeli buku dengan uang sebagai upaya kompensasi atas usaha dan kontribusi dari penulis dan penerbit yang memproduksi buku. Tapi jangan lupa bahwa yang paling penting ialah menyampaikan informasi dan pengetahuan dari buku yang kita baca. 

Walaupun mungkin hanya kita tulis-tulis saja, tanpa disebarkan. Hal itu tidak menjadi masalah selama ada upaya menulis dan memahami dengan sebenar-benarnya isi buku yang kita baca.

Kita tidak bisa berharap terlalu tinggi pada lembaga perpustakaan. Sama halnya ketika kita berharap pada pemerintah untuk ini dan itu menanggapi keluhan kita. 

Kita juga tidak bisa terlalu berharap pada orangtua kita untuk menyediakan perpustakaan pribadi bagi kita. Yang bisa kita harapkan adalah upaya kesadaran diri dan usaha untuk peningkatan dan perbaikan diri sendiri.

Memunculkan minat baca dimulai dari diri kita sendiri. Ketika kita suka menonton film, maka apa yang membuat kita suka? Ketika menonton drama, kartun, mengapa kita suka? Lalu apakah kita kemudian tidak bisa suka membaca buku? Jawabannya adalah belum tentu. Kita bisa suka membaca buku, ketika rasa buku itu sesuai dengan minat dan pikiran kita.

Kita tinggal mencari dan menemukan buku yang rasanya sesuai dengan kesukaan kita. Lalu jalani proses kegiatan membaca. Kemudian lakukan pengulangan secara bertahap, seperti satu minggu sekali dan sebagainya. Lalu kita akan mulai memahami sesuatu hal dari apa yang kita baca. 

Setelah paham, kita mulai menulis. Tidak apa jika tulisan kita buruk, memangnya sekali coba bisa berhasil. Mungkin bisa jika kita beruntung. Tapi tentunya tidak mungkin kita mengandalkan keberuntungan kita setiap waktu.

Setelah membaca dan menulis, kita mulai memahami dan sadar akan suatu pengetahuan dan informasi. Kemudian kita berbagi dan bertanya. Itulah kegiatan literasi yang seharusnya menjadi budaya. 

Budaya bangsa Indonesia yang memilih bahasanya sendiri. Kita bangsa yang hebat, berani, dan bangsa yang tidak suka didikte bangsa lain. Ketika bangsa lain yang terjajah memilih bahasa penjajah, kita justru memilih bahasa sendiri, yaitu Bahasa Indonesia.

Perpustakaan, sekolah, keluarga, dan diri sendirilah yang akan memengaruhi dalam pembentukan budaya baca. Seluruhnya harus berjalan dan berperan secara maksimal. Dengan keterhubungan yang baik dan adanya dukungan antara satu sama lain, mungkin budaya baca akan tercipta. 

Perpustakaan dan toko buku akan makin banyak dan ramai dikunjungi. Maka budaya baca akan terlahir, bukan lagi hanya sebagai harapan. Tetapi realitas yang ada belum demikian. Harapan yang akan membungkam realitas akan bangkit. 

Bersama-sama dengan orang yang giat membangun Taman Baca dan concern pada perpustakaan. Harapan untuk memajukan bangsa ini, dengan membangun literasi dan budaya membaca. Harapan akan selalu ada, ketika masih ada orang yang tidak menyerah.