• Mengawal Penggunaan Dana BOS

Dana pemerintah yang dialokasikan untuk dunia pendidikan bukan angka yang sedikit. Sebesar 20% APBN dianggarkan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Seharusnya jika digunakan secara bijaksana akan ada banyak perkembangan berarti terutama dalam hal infrastruktur dan kesejahteraan guru. 

Namun kenyataan yang terjadi berbicara lain. Pungli dan penyelewengan masih marak terjadi, terutama oleh oknum yang mengakali aplikasi pelaporan dana bos. Anggaran belanja yang di mark up, pengadaan sarana yang berkualitas di bawah standar, dsb. Parahnya, hal ini dianggap sudah menjadi budaya dan masyarakat menjadi permisif, bahkan kadang pihak atasan melindungi dan menutupi.


  • Memangkas Birokrasi dan Administrasi

Bukan rahasia umum lagi kalau birokrasi itu sinonim dengan pepatah "kalau ada yang ruwet kenapa harus simple". 

Bagi guru, rutinitas awal semester yaitu membuat perangkat pembelajaran adalah termasuk salah satu kewajiban guru. Setelah monitoring, maka tumpukan itu akan berakhir teronggok di dalam lemari, bertahun-tahun sampai akreditasi sekolah tiba, kalau nggak keburu menjadi camilan rayap. 

Sudah waktunya kita beralih menuju digitalisasi untuk efisiensi dan optimalisasi administrasi. Kabarnya baiknya, di KM guru sudah dibebaskan dengan tetek bengek perangkat ini. Wah, bukankah hal ini sangat melegakan?

Birokrasi pendidikan yang selama ini dikeluhkan berbelit-belit, memang persoalan yang rumit yang disebabkan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah kewenangan yang tumpang tindih, kebijakan yang tidak transparan, dan banyak hal lainnya.


  • Menggiatkan Kembali Literasi

Darurat literasi saat ini terjadi karena berbagai faktor, diantaranya kurangnya buku berkualitas yang beredar, minimnya dukungan pemerintah, serta kurangnya gairah membaca masyarakat.

Buku yang diedarkan pemerintah, baik buku teks pedoman maupun buku bebas, sorry to say, sangat jauh dari bermutu. Terlalu banyak typo bahkan salah konsep. Buku picisan tersebut tak akan banyak berdampak untuk memajukan literasi kita.

Membaca buku berkualitas untuk menghidupi jiwa anak-anak sama perlunya dengan memberi makan tubuh kita. Kegiatan literasi bukan hanya sekedar membaca, tapi bernalar dan bernarasi, baik dengan lisan maupun tulisan. Jika anak-anak sudah terbiasa dengan literasi, mereka akan menjadi generasi yang kritis dengan isu sosial yang tengah terjadi.


  • Meningkatkan Kualitas SDM Guru

Guru adalah ujung tombak pendidikan. Kualitas pendidikan secara keseluruhan bisa dinilai dengan melihat kualitas guru. Saat ini upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru sudah mulai menggeliat. Adanya program guru penggerak dan berbagai macam webinar daring yang diselenggarakan oleh berbagai pihak turut berperan serta mempercepat upgrade pengetahuan bagi guru. 

Pekerjaan guru selama ini banyak dipandang sepele, terutama guru SD. Padahal pekerjaan ini tanggung jawabnya gak main-main, dunia akhirat. Para guru diembani tugas untuk membantu melukis masa depan generasi mendatang. Di pundak para gurulah, beban masa depan bangsa ini dipikul.

Mindset para guru juga harus di upgrade. Guru adalah profesi mulia, bukan profesi putus asa yang dijalani ketika ditolak bekerja dimana-mana. Passion mengajar anak itu layak tumbuh dan dihidupi dalam jiwa para guru. Karena mendidik bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tapi membentuk pribadi anak dengan hati.

Guru juga harus dibekali dengan kemampuan IT yang mumpuni. Masih banyak guru yang belum bisa memanfaatkan gadget dengan baik sehingga pekerjaan administrasinya dikerjakan oleh orang lain yang tentunya bilang wani piro.


  • Pendidikan dari Rumah adalah Fondasi

Orang tua bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak. Pendidikan di rumah adalah fondasi bagi seluruh rangkaian pendidikan, baik akademis dan non akademis bagi anak.

Pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pasrah bongkokan pada guru. Pandemi seolah mengingatkan orang tua bahwa mendidik bukan perkara sepele. Pekerjaan yang diamanahkan langsung oleh Sang Khalik harus diemban dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab. 

Pendidikan di sekolah akan berhasil jika pendidikan orang tua di rumah berjalan baik. Guru hanya bertemu anak didik selama beberapa jam di sekolah. Waktu mereka lebih banyak di rumah daripada di sekolah.

Orang tua seharusnya menyadari bahwa perannya tidak main-main. Walaupun menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, kita wajib terus belajar dan berbenah diri demi menjadi orang tua terbaik untuk putra putri kita. 

Visi misi keluarga yang dijalankan harus kompak diimani baik Ayah dan Bunda. Pendidikan orang tua yang baik menghasilkan anak bermental tangguh dan mandiri, dimanapun mereka berada.

Tidaklah mustahil mewujudkan pendidikan sekolah yang maju asal semua pihak bersinergi. Berjalan lambat tidak mengapa, asal bergerak maju. Karena semua hal tersebut membutuhkan proses yang tidak instan. Saya sangat berharap banyak pada tagline Merdeka Belajar, Setiap Orang adalah Guru, Setiap Tempat adalah Sekolah yang digaungkan oleh kementerian pendidikan beberapa waktu ini. 

Kurikulum Merdeka menjanjikan banyak perubahan signifikan yang diharapkan bisa memperbaiki kualitas dunia pendidikan Indonesia. 

Mari kita peringati Hardiknas kali ini bukan hanya dengan selebrasi, tapi dengan ngelakoni wasiat Ki Hajar Dewantara dengan segenap pengabdian dan rasa peduli. Semoga masa depan yang dititipkan pada generasi Alpha mampu bersinar lebih benderang.