Bermedia sosial tentu menjadi hal yang sudah biasa kita lakukan sehari-hari. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan di media sosial termasuk membuat sebuah akun samaran dan berbuat hal-hal iseng dengannya. Ya, tidak semua akun di media sosial menggunakan nama dan foto asli.

Kebebasan untuk tidak menggunakan nama dan foto asli pada akun media sosial dapat membuka peluang bagi tindakan yang kurang menyenangkan. Misalnya, membuat akun-akun samaran untuk menyebarkan info hoax agar sulit terdeteksi. Orang-orang merasa aman-aman saja bila menggunakan nama samaran karena ia tak dapat langsung terdeteksi. Bahkan, ada yang merasa dapat dengan mudah “cuci tangan” setelah melakukan tindakan-tindakan tadi dengan anggapan “ah, kan itu bukan akun utamaku.”

Apakah ada suatu cara untuk menyikapi fenomena ini? Apakah kita bisa membangun sebuah nilai etika di media sosial yang mampu menembus akun-akun samaran ini untuk membangun kesadaran bermedia sosial?

Acting Person Karol Wojtyla

Beberapa orang mugkin lebih mengenal Karol Wojtyla dengan gelarnya sebagai Paus Yohanes Paulus II, pemimpin umat Katolik yang telah disahkan sebagai orang suci. Namun, selain sebagai sosok pemimpin agama, Karol Wojtyla sebenarnya juga merupakan seorang pemikir. Salah satu pemikiran khasnya adalah mengenai acting person.

 

Acting person secara harafiah berarti orang (manusia) yang bertindak; pemikiran Karol Wojtyla tidak jauh dari arti harafiah tersebut namun sangat mendalam. Karol Wojtyla merenungkan siapa itu manusia berangkat dari tindakannya.

Manusia memiliki tindakan yang khas yaitu tindakan yang disadari. Manusia dapat berpikir, merasa, membuat pertimbangan, serta memutuskan dan dengan itu semua manusia akhirnya melakukan sebuah tindakan. Lewat tindakan yang disadari inilah manusia memiliki pengalaman.

Soal pengalaman, manusia adalah makhluk yang mengalami dan dialami. Pengalaman yang langsung dialami oleh seorang manusia adalah pengalaman dari tindakannya sendiri. Ia mengalami tindakannya sendiri dan dengan demikian dibentuk oleh tindakannya sendiri.

Jadi, manusia tidak hanya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya kepada orang lain lewat tindakannya tetapi juga menunjukkan siapa dirinya kepada dirinya sendiri. Kesadaran semacam ini disebut kesadaran reflektif. Termasuk, ketika seorang manusia melakukan tindakan yang buruk maka ia sendiri yang pertama kali mengalami tindakan buruknya. 

Dan ketika tindakan buruk ini membentuk karakter yang buruk, ia sendiri yang pertama kali melihat kenyataan bahwa ia adalah orang yang buruk.

Acting Account

Lalu bagaimana hubungannya dengan akun-akun samaran? Kita memang tidak akan tahu siapa yang ada di balik akun-akun samaran namun kita dapat tahu seperti apa orang yang ada di balik sebuah akun samaran melalui apa yang ia lakukan. Tindakan yang seseorang lakukan tidak hanya melekat kepada akun samarannya namun juga melekat langsung pada orang yang ada di balik akun samaran tersebut.

Dengan acting person, seseorang yang memakai akun samaran tidak dapat begitu saja “cuci tangan” dan berkilah bahwa itu hanya dilakukan di akun samaran dan bukan di akun utama atau dalam hidup di dunia nyata. Itu artinya, apa yang ia lakukan di akun samarannya sebenarnya juga mencerminkan siapa dirinya. 

Apabila ia suka menyebarkan hoax di akun samaran dan ia sebenarnya sadar bahwa itu adalah hoax, maka sebenarnya itu mencerminkan juga siapa dirinya di dunia nyata. Bahkan apabila itu hanyalah “iseng”, maka keisengannya di akun samaran juga mencerminkan pribadinya yang suka iseng di dunia nyata. Jika seseorang mau jujur, ia tidak akan dapat kabur dari kenyataan ini.

Selain itu, apa yang sering orang lakukan di media sosial dapat membentuk kepribadian seseorang di dunia nyata. Maka, jangan heran apabila orang yang di media sosial suka marah dan menghujat orang lain juga akan suka marah dan menghujat orang lain di dunia nyata. 

Oleh karena itu, apabila kita mulai tumbuh pikiran-pikiran untuk melakukan tindakan buruk di media sosial bahkan dengan akun samaran lebih baik hentikan dan jangan lakukan itu. Tumbuhkan pikiran yang positif dan lakukan hal-hal baik di media sosial agar kepribadian yang tumbuh dalam diri kita adalah kepribadian yang baik.

Maka, bentuk etika yang paling mendasar yang dapat diterapkan di media sosial adalah mengenai tanggung jawab atas tindakannya bahkan ketika ia menggunakan akun samaran. Bentuk pemahaman mendasar mengenai tanggung jawab ini adalah apapun yang kita lakukan di media sosial juga dapat berimbas pada pembangunan karakter diri sendiri di dunia nyata; kita akan menjadi apa yang biasa kita lakukan.

Di sisi yang lebih positif, pemahaman akan acting person juga dapat kita gunakan untuk membangun karakter diri yang positif. Di manapun dan kapanpun kita bermedia sosial entah dengan akun samaran atau tidak, kita selalu didorong untuk melakukan apa yang baik demi kebaikan dan integritas diri kita. 

Dengan kesadaran seperti ini, media sosial dapat kita gunakan sebagai sebuah sekolah hidup di mana kita dilatih untuk menjaga integritas diri kita dan bukannya menjadi sebuah kerumunan manusia bertopeng akun samaran yang suka “cuci tangan” dari apa yang ia lakukan.