Sependek pengalaman saya menjadi seorang pendidik di beberapa sekolah, tidak jarang saya temukan beberapa siswa yang berani menyanggah materi yang saya bawa di kelas. Saya sampai sudah sangat familiar dengan kalimat “Bapak salah!” atau “Bukan seperti itu, pak!” Namun, bagi saya sanggahan tersebut merupakan suatu tindakan resistensi positif terhadap pengetahuan yang dirasa keliru.

Alih-alih marah, saya justru tersenyum bangga, merasa puas, meski tidak secara langsung saya tunjukkan di depan kelas. Tentu keadaan akan monoton jika saya terus berdiri dengan penuh semangat menjelaskan mata pelajaran, sementara siswa hanya menyimak saja. Maka pencapaian terbaik saya sebagai pendidik saat itu, adalah menyaksikan keberanian para siswa mengkritik penjelasan saya.

Hal demikian adalah imbas dari sistem belajar mengajar yang dinamis, bukannya statis. Saya harus sesekali melawan kurikulum serta budaya belajar yang kaku. Berusaha untuk menerapkan gaya belajar learn to learn kepada siswa, menjelaskan ilmu pengetahuan dengan metode pendidikan hadap masalah, sehingga mudah dipahami. Pendidikan hadap masalah merupakan proses dialogis yang diciptakan guru di kelas, tujuannya adalah untuk memancing tanggapan dari siswa. Sederhananya, guru menyampaikan masalah kemudian siswa diminta memberi pendapat.

Berjalannya proses belajar mengajar versi saya itu, bukan tanpa halangan. Saya pernah sekali-dua berdebat dengan rekan pendidik lain terkait cara mengajar. Menurut mereka, saya telah menyimpang dari pakem yang berlaku. Betul, saya memang menyimpang jauh karena tidak sepandangan dengan metode mereka. Mereka fokus mendidik anak agar pintar, bukan agar menjadi manusia.

Beberapa sekolah hanya memacu disiplin belajar tanpa memicu daya kritis siswa. Para siswa diharuskan tepat waktu, berseragam rapi, menaati tata tertib, tidak boleh melawan kata-kata guru. Mereka sama sekali tidak peduli apakah siswa mengerti mengapa aturan-aturan seperti itu diberlakukan dan apa manfaat realistis bagi mereka. Para guru kerap tidak mengajak siswa untuk berpikir, menganalisis dampak sebab-akibat, sehingga mereka cenderung abai terhadap aturan tersebut.

Saya tidak menganggap apa yang sekolah lakukan salah dan yang saya lakukan adalah benar, namun upaya membangun kembali pemikiran siswa terhadap urgensi ilmu pengetahuan, adalah baik untuk mereka. Bagaimanapun juga, aturan di sekolah memang tetap harus dipatuhi, hanya saja diperlukan penjelasan yang logis serta komprehensif kepada siswa, yang mampu membikin mereka melaksanakannya dengan penuh kesadaran. Dan yang paling penting, semua dijelaskan dengan cara-cara yang humanis, tanpa ada pemaksaan dari guru.

Dehumanisasi Pendidikan

Guru yang baik adalah guru yang mampu membentuk karakter siswa tanpa memaksanya untuk merubah dirinya sendiri. Juga guru yang dengan tegas melawan pola pendidikan yang dominan mekanistik, materialistik, hedonistik atau pola-pola yang cenderung mengerdilkan potensi nilai luhur kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Pola mekanistik dimaksud adalah pola yang memosisikan siswa sebagai mesin yang dapat diprogram sesuai keinginan guru. Pola seperti ini tidak akan melahirkan jiwa kreatifitas serta inovasi siswa, sebab mereka terus dipaksa untuk tunduk pada doktrin. Sedangkan, pola lain yang tidak kalah membelenggu siswa adalah pola-pola pendidikan yang mengiming-imingi kesenangan duniawi, materi atau kebendaan sebagai tujuan hidup.

Misalnya saja pernyataan guru bahwa, jika seseorang belajar dengan giat, maka ia akan menjadi orang pintar, akan sukses dan kaya raya, bisa membeli semua kemewahan yang ia hendaki. Pola seperti inilah yang akan membentuk karakter siswa menjadi pribadi materialistik dan hedonistik, Pribadi yang nyatanya berhasil, akan tetapi tidak dibarengi dengan pemikiran-pemikiran kritis.

Membiarkan siswa tumbuh tanpa nalar kritis, secara tidak langsung merupakan praktik dehumanisasi. Apabila dibiarkan, hal ini dapat membawa bencana besar bagi dunia pendidikan, Jika guru tidak ingin disebut sebagai pelaku dehumanisasi, maka ia harus berusaha mengubah cara mengajarnya yang lama.

Ia harus mampu membangun kembali pola pikir siswa menjadi individu yang memiliki nalar kritis. Para pendidik yang rekonstruksionis harus mampu merangsang ketelitian siswa dengan cara membangun paradigma baru, tidak melulu  bergantung pada sistem lama yang kaku.

Melawan Budaya Diam

Perlu digaris bawahi, bahwa pendidikan merupakan upaya radikal dalam melawan penindasan, upaya melawan diskriminasi terhadap hak asasi manusia. Sebabnya itu, kita juga tidak boleh menindas siswa dengan melarang mereka untuk bersuara, mengkritik dan menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Justru kita perlu mendengar pendapat mereka tentang pandangan serta analisisnya terhadap pengetahuan yang diterima.

Ini seperti konsep yang disebut Freire sebagai Problem Posing Method yakni pendidikan yang tidak menindas dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan realitas. Konsep ini merupakan antithesis dari Banking Concept of Education atau konsep pendidikan gaya bank di mana para siswa hanya dijadikan sebagai tempat menabung pengetahuan. Dengan kata lain, konsep tersebut sama sekali tidak dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa.

Untuk melawan hal itu, saya menggunakan cara sendiri dalam melatih siswa berargumentasi, mengajak mereka untuk berani memprotes saya jika ada kesalahan. Saya kadang melontarkan pernyataan yang kontradiktif guna memancing siswa untuk berbicara. Saya ingin melihat sejauh mana wawasan mereka serta bagaimana cara mereka menyikapi masalah tersebut.

Sebagai contoh, pernah saya katakan bahwa tidak ada salahnya membuang sampah di jalanan, toh hal itu akan mendatangkan pekerjaan bagi tukang sapu dan dinas kebersihan. Respons dari siswa memang tidak banyak, hanya satu dua anak yang pro maupun kontra. Masing-masing memberikan pandangan dan solusi, tidak yang ada benar dan salah. Namun, itu sudah lebih dari cukup buat saya.

Dengan cara demikian, saya harap mereka akan terbiasa melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Sebisa mungkin saya ajak mereka untuk terus dan terus berani berbicara, berani menganalisis serta melahirkan solusi terbaik. Setidaknya, itu adalah upaya kecil dalam ikhtiar saya melawan budaya diam yang telah lama menjangkiti pendidikan kita.

AR Renhoran Pendidik, Penulis dan Pegiat Literasi Rumah Baca Komunitas (RBK)