Kita memang membutuhkan uang untuk mencari peluang agar hati menjadi lapang, namun uang tak akan bisa membeli harga diri bangsa yang sudah hampir terbuang. Negeri ini harus segera bangkit dari masa depan yang usang. Indonesia akan kuat seperti seekor beruang, akan berjuang demi menyongsong masa depan yang gemilang.

Ketika zaman sudah semakin maju, teknologi tumbuh seperti akar pohon beringin yang begitu lebat merambat di bawah tanah. Hujan teknologi yang menerpa tanah air, membuat dunia benar-benar menjadi tanpa tapal batas. Apa yang kita takutkan tentang globalisasi ternyata telah terjadi. Maju atau mundur, semua memiliki konsekuensinya masing-masing. Namun daripada mundur, lebih baik kita berperang.

Kemajuan internet telah melahirkan berbagai macam anak sosial media yang semakin membanjiri tanah air. Tak seperti negara Korea Utara yang membutakan penduduknya untuk memiliki sosial media, Indonesia justru sebaliknya. Satu orang bahkan bisa mengelola lebih dari Lima sosial media dengan berbagai nama.

Demokrasi telah membuat kita menjadi bebas dalam berekspresi. Semua orang menjadi bebas untuk unjuk diri. Hingga terkadang terperosok terlalu tinggi, hingga harus mengorbankan harga diri. Demi mempertahankan status sosial yang bernama eksistensi. Internet telah membuat hitam dan putih menjadi sulit dibedakan. Semua menjadi abu-abu.

Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Telegram, dan produk-produk canggih lainnya telah begitu mendarah daging di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya para generasi muda bangsa. Sosial media telah benar-benar menghubungkan yang jauh menjadi dekat, yang tak kenal menjadi kenal, namun sayangnya dijadikan pula sebagai ajang untuk saling mengasah mata pisau masing-masing untuk membunuh saudara sendiri.

Sosial media yang awalnya berfungsi sebagai pemersatu anak muda agar bisa menjadi satu bangsa dan negara, justru berubah menjadi senjata yang digunakan untuk mencari mangsa, untuk membunuh sesama saudara. Bukan membunuh fisik, namun saling menjatuhkan mental saudara sendiri.

Satu sama lain saling merundung dan menyumpahkan kata-kata kasar ketika terjadi perbedaan pendapat. Generasi muda yang seharusnya berfikir terbuka seolah-oleh menjadi tak bisa menerima arti dari perbedaan. Satu sama lain saling menghujat, seperti sudah bukan manusia lagi. Padahal mereka adalah sesama saudara yang harus saling mencintai dan mengasihi.

Semua merasa menjadi paling benar. Sosial media dijadikan alat untuk saling menghakimi. Terkadang sering lupa diri kalau dirinya hanyalah manusia. Namun ego yang terlalu tinggi terkadang membuat dirinya melakukan tindakan seolah-oleh menjadi Tuhan. Manusia sudah berusaha merebut kekuasaan Tuhan dalam menghakimi. Ego bercampur emosi telah merasuki diri, hingga lupa akan diri sendiri.

Ribuan berita bohong bertebaran dimana-mana. Sosial media sudah lebih dari sekadar ajang untuk saling memamerkan diri. Namun kini semakin menjelma menjadi senjata tajam yang siap menusuk sesama saudara. Berita bohong asal dimakan mentah, hingga akhirnya menimbulkan fitnah yang membuat hati menjadi terbakar.

Sosial media telah benar-benar menjadi senjata yang lebih menakutkan dari meriam Belanda masa penjajahan. Sesama saudara menjadi musuh, demi mempertahankan ego sesaat yang sesat. Agama yang seharusnya menjaga diri dari perbuatan yang cela, justru menjadi tameng untuk saling menghujat tanpa cela.

Kita seolah-olah menjadi tak siap dengan perbedaan. Janji terhadap Pancasila seolah-oleh hanya cerita semata. Undang-undang dasar hanya menjadi hafalan semata, tanpa ada aksi untuk tetap membela saudara yang berbeda. Kita lupa tentang negara, bahwa kita bersama menjadi bangsa karena kita memang berbeda.

Sebagai generasi muda bangsa, kita tak bisa terus menerus membiarkan bangsa dalam keadaan nelangsa. Jangan sampai dendam dan benci terhadap sesama menjadi terbiasa hinggap di dada. Kita kuat karena bersama, bukan karena menyerahkan bangsa kepada kedaulatan satu agama. Karena kita Indonesia.

Uang memang bisa membeli barang yang kita cinta, namun tidak dengan kedaulatan bangsa. Sudah saatnya kita melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Mungkin selama ini kita terlalu berambisi memajukan bangsa, namun sayangnya lupa diri untuk memperbaiki diri sendiri, agar tak lupa diri dalam beraksi memajukan negeri.

Jika masih belum mampu membantu negara mengatasi kemiskinan dan pengangguran, setidaknya kita bisa mengubah diri sendiri untuk menjaga diri dari keegoisan diri dalam memainkan sosial media sendiri. Lepaskan ego untuk menghakimi sesama saudara setanah air. Tahan jari untuk tak asal menyebarkan berita bohong kepada orang lain.

Berhentilah berkata-kata kasar di dunia maya yang justru tak akan pernah dilupakan oleh seluruh alam semesta. Membangun negeri itu tak selamanya harus dengan ikut membangun sekolah atau pun mengajar di daerah perbatasan. Cukup jaga diri untuk tak membuat onar di negeri sendiri sudah benar-benar membantu negeri agar tidak jatuh di lubang sendiri.

Jari kita sejatinya milik diri sendiri, namun Indonesia bisa hancur karena jari-jari dari generasi anak mudanya sendiri. Infromasi-informasi palsu yang mengadu domba bangsa justru bisa menjadi api terpanas yang akan memanggang negeri sendiri. Sudah saatnya kita berbenah diri, dan kembali mencintai bangsa sendiri.

Indonesia sudah terlalu menangis seorang diri karena tindakan anak mudanya sendiri. Kita semua tak bisa begini. Hingga kapan kita menyakiti hati negeri sendiri? Apakah menunggu air mata menjadi sungai? Atau menunggu ego dan emosi menjadi gunung yang menandingi ketinggian Gunung Semeru?

Negeri kita telah merdeka sejak tujuh puluh empat tahun yang lalu. Namun jika anak muda terus bertingkah seperti ini, mungkin tanpa tidak sadar jika kita telah kembali ke zaman kolonialisme yang lebih kejam. Negeri ini akan tenggelam di dalam lautan darah peperangan sesama saudara sendiri.

Ini semua tak boleh terjadi. Indonesia telah merdeka, dan Indonesia tak boleh kembali di perdaya. Sudah saatnya anak muda kembali berdiri. Membangun negeri dengan cara menurunkan ego dan emosi sendiri. Membangun negeri itu tak selamanya dengan uang, lepaskan ego dan menghargai perbedaan, sudah bisa menjadi lima kali lebih baik untuk membangun negeri. Indonesia akan selamanya merdeka

Negeri ini akan terasa sempit jika dilalui dengan menebar kebencian, dan akan terasa lapang dan luas jika kita bisa saling melengkapi. Jadikan yang kurang sebagai motivasi untuk bersaudara. Yang lebih sebagai kekuatan untuk membangun negeri agar semakin kuat seperti macam asia yang pernah kita impikan di masa lalu.