Akhir-akhir ini, istilah Pendidikan 4.0 sering muncul sebagai topik pembicaraan para ahli dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Berbicara masalah revolusi industri 4.0 tentu tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan. Karena untuk mengikuti arus revolusi industri ini diperlukan pendidikan yang akan mencetak dan menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang akan mengisi revolusi industri 4.0. 

Pendidikan 4.0 sendiri merupakan istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Di era ini, dunia pendidikan dituntut mampu membekali peserta didik ketrampilan abad 21 (21st Century Skills). 

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Sutrisna Wibawa mengatakan, ketrampilan abad 21 yang dimaksud adalah ketrampilan peserta didik untuk bisa berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta ketrampilan komunikasi dan kolaborasi. Selain itu ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta trampil menggunakan informasi dan teknologi (KR Jogja, 26/02/2019).

Jack Ma (CEO Alibaba Group) dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, menyatakan bahwa pendidikan adalah tantangan besar pada abad ini. Mengingat tantangan yang besar tersebut, maka guru harus terus belajar meningkatkan kompetensi sehingga mampu menghadapi siswa generasi milenial. Jangan sampai timbul istilah, siswa era industri 4.0, belajar dalam ruang industri 3.0, dan diajarkan oleh guru industri 2.0 atau bahkan 1.0.

Pendidikan di Indonesia sendiri saat ini masih bergelut dengan ragam tantangan di era generasi ketiganya (3.0). Kondisi ini ditandai dengan tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran dan meninggalkan pola kebijakan lama yang sekadar berkutat pada masalah pemerataan akses serta pemenuhan sarana prasarana pendidikan.

Kualitas guru yang cukup rendah juga menjadi perhatian tersendiri. Dilansir dari halaman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (4/1/2016) Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 yang menguji kompetensi guru untuk dua bidang yaitu pedagogik dan profesional, rata-rata nasional hasil UKG 2015 untuk kedua bidang kompetensi ituadalah 53,02. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, jika dirinci lagi untuk hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogik saja, rata-rata nasionalnya hanya 48,94, yakni berada di bawah standar kompetensi minimal (SKM), yaitu 55.

Disisi lain, peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia masih bertujuan jangka pendek yaitu lulus ujian, atau meningkatkan nilai ujian (Kompas, 27/4/2018). Indonesia dianggap masih belum memikirkan untuk meningkatkan kualitas siswanya yang mempunyai daya saing dan berkarakter. 

Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 mencatat bahwa kemampuan literasi, sains, dan matematika siswa Indonesia berada di peringkat 63 dari 72 negara, masih jauh dibawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam (Jurnas, 28/3/2018). 

Berdasarkan data Kemendikbud melalui Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2016 ditemukan bahwa secara nasional 73,61% pencapaian kompetensi siswa masih berada pada posisi kurang (Sindonews, 2/5/2018).

Mengingat berbagai kendala tersebut, menghadapi revolusi industri 4.0 tentu bukanlah hal mudah. Paling tidak, ada dua solusi yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Yang pertama adalah merekonstruksi ulang model pendidikan agar tetap pada pada arahnya sebagai produsen sumber daya manusia yang unggul dan dibutuhkan masyarakat secara luas. 

Yang kedua adalah membangun inovasi pembelajaran yang ada saat ini. Kuantitas, dalam hal ini kelulusan 100% misalnya, seharusnya bukan lagi menjadi indikator utama pendidikan dalam mencapai kesuksesan, melainkan kualitas lulusannya. 

Pendidikan 4.0 wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi. Dalam menciptakan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi.

Oleh karena itu Pendidikan 4.0 memerlukan adanya rekonstruksi kurikulum pendidikan yang responsif terhadap revolusi industri, seperti desain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital. Sebagai contoh adalah negara Taiwan. 

Prof. Chun Yen Chang dalam The First International Cenference on Natural Sciences and Mathematics Education (2018), menjelaskan bahwa salah satu penyebab Taiwan maju di bidang high technology industries semisal komputer, smartphone dan gadget lainnya adalah karena Taiwan memiliki kurikulum pendidikan yang sejak awal mampu mengarahkan dan membentuk anak didik siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Sains, Technology, Engineering and Mathematic (STEM). 

Selain itu, Pendidikan 4.0 mengisyaratkan perlunya perubahan dalam tiga sisi edukasi. Yang pertama adalah mengubah sifat dan pola pikir siswa. Selanjutnya, sekolah harus bisa mengasah dan mengembangkan bakat siswanya. 

Terakhir, guru seharusnya mampu mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman dengan fokus pada Konsep 'KKN' (komunikasi, kolaborasi, dan networking).

Yang terakhir adalah guru berkolaborasi dengan para pelaku pasar dan dunia industri yang berhasil yang dikenal dengan istilah para praktisi atau penggiat dunia usaha dan industri. Jadikan mereka guru, tanpa pernah memperdulikan latar belakang pendidikannya. 

Titel akademik tidak lagi yang menentukan spesifikasi, tapi sertifikat ahli dari figur sentral dalam keilmuan yang ditekuni. Mereka diminta menyampaikan secara gamblang apa yang mereka lakukan setiap saat sehingga siswa memiliki semangat dan motivasi untuk bisa seperti mereka. 

Pendidikan 4.0 memang masih didepan pintu. Dunia pendidikan juga mulai dituntut untuk mampu membekali peserta didik dengan ketrampilan abad 21. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk merekonstruksi ulang model pendidikan dan kurikulum pendidikan yang responsif terhadap revolusi industri agar tetap pada pada arahnyasebagai produsen sumber daya manusia yang unggul. 

Guru selaku pendidikjuga harus mulai meramu metode pendidikan baru yang mampu menyesuaikan kebutuhan serta bekerja sama dengan para praktisi dunia usaha agar siswa dapat bersiap menghadapi revolusi industri 4.0 dengan penuh keoptimisan.