Lebak Pari merupakan nama sebuah kampung yang berletak di Desa Lebak Peundeuy, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten. Tak nyangka, di kampung ini terbentuk sebuah komunitas anak kampung, yaitu Ikatan Remaja Aktif (IKRA) yang dimotori oleh Dede Ilyana, pria kelahiran 1997-an. 

Kehadiran komunitas tersebut telah mampu memberikan warna atau kontribusi positif untuk kemajuan masyarakat dan tanah kelahirannya. Di mana sebelumnya, kampung ini seperti kota mati; tak ada kegiatan apa pun, baik dalam bidang keagamaan (PHBI) maupun peringatan hari besar lainnya.

Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, para pemuda (remaja) dihadapkan dengan berbagai tantangan persoalan yang berada di tengah-tengah sosial masyarakat, di antaranya kemiskinan, pengangguran, ketertinggalan dalam pembangunan, minimnya pendapatan ekonomi masyarakat, dan rendahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Bukankah hal tersebut menjadi bagian tugas bersama?

Menyikapi berbagai persoalan itu semua, lalu muncul sosok muda yang peduli akan tanah kelahirannya. Ia merupakan seorang Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Bandar Lampung (UBL) pada tahun 2017, sebut saja Mursyid Arifin. 

Bagi dia, bukan hal mustahil tidak akan bisa mengubah kelemahan menjadi keunggulan, ketertinggalan menjadi keniscayaan, dan impian menjadi kenyataan. Jika hal itu ada kemauan, niat, tekad dan semangat yang kuat, bahkan ada lagi strategi yang jitu yakni kekompakan dan kebersamaan. Hal itulah yang menjadi senjata bagi anggota komunitas dan masyarakatnya saat ini.

Selain itu pula, perlu adanya penyelarasan antara pemikiran, pemahaman, ide dan tujuan antara penggerak dengan orang yang digerakkannya. Tentu hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan, perlu adanya edukasi dan action yang konkret. Salah satu alternatif yang diambil dalam memberikan edukasi dan menumbuhkan kesadaran bersama yakni dengan cara gerakan literasi kampung. 

Sejak Juli 2019 lalu, anggota dan pengurus IKRA mencoba menggagas dan menetapkan bahwa gerakan literasi menjadi bagian dari tulang punggungnya, karena dengan lietrasi akan bisa menyelaraskan pemikiran, pemahaman dan tujuan yang akan dicapai. Setelah itu, pengurus IKRA bersepakat untuk mendirikan sayap komunitasnya dengan diberi nama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) IKRA Lebak Pari. 

Langkah demi langkah, demi menyosialisasikan dan menggaungkan gerakan literasi di Bumi Lebak Pari ini, IKRA mengawali dengan cara meyelenggarakan kegiatan “SAKOLA UMUM” atau dengan kata lain seminar. Hal ini dalam rangka memperingati HUT RI Ke-74 dengan mengangkat tema “Menggali Potensi Lokal Berbasis Budaya dan Lingkungan”.

Dalam kesempatan itu pula, IKRA menghadirkan pembicara tokoh literasi nasional asal Kabupaten Lebak. Sebut saja Jaro Ruhandi yang saat ini sedang menjabat Kepala Desa Warungbanten.

Tak berhenti sampai di situ, gerakan-gerakan literasi lainnya pun dilakukan, seperti diskusi rutin mingguan, bercocok tanam, berdagang, dan gotong royong, hingga pada akhirnya menghasilkan sebuah ide dan gagasan baru, yaitu program “Ulin Sore”. Kata ulin diambil dari Bahasa Sunda yang artinya main (bermain).

Menengok ke belakang, dulu semasa kecil dikenalkan dengan beberapa jenis permainan, seperti bermain engkrang, kelereng, gobak, dan lainnya. Kegiatan itu biasa dilakukan pada sore hari sebelum menjelang waktu magrib.

Lebih jauh, IKRA menilai bahwa permainan itu bukan hal yang tidak positif, namun ada yang lebih positif dan bermaslahat lagi dengan cara menerapkan konsep bermain sambil belajar. Sehingga dirumuskanlah program Ulin Sore itu.

Singkat cerita, di dalam program itu juga dibentuk tim pengarah, kakak asuh (mentor) dan kelompok belajar. 

Ada hal yang menarik lagi, di mana sebelum melakukan rutinitas belajar dan bermain, para anak-anak diarahkan serta dibiasakan untuk bertadarus dan berselawat bersama. Setelah itu, lalu anak-anak rombongan belajar melanjutkan garapannya masing-masing, di antaranya ada yang belajar membaca, menulis, menggambar, menghafal dan bermain sesuai dengan hobinya masing-masing dengan menggunakan sarana prasarana yang masih terbatas.

Alhamdulillah, atas karunianya dan dukungan dari semua pihak, hingga saat ini komunitas dan TBM IKRA masih berdiri tegak, sejalan, seirama dan senada dalam menebarkan virus-virus kebaikan demi terwujudnya generasi yang cerdas, aktif, kreatif, inovatif dan mandiri dalam segala aspek pembangunan. Seperti pepatah Sunda mengatakan, manuk hiber ku jangjang na, manusa hirup ku akal na (burung terbang dengan sayapnya, manusia hidup dengan akalnya).

Perlu diketahui, bagi para pegiat literasi yang ada di Tanah Air ini, jika ingin berkunjung ke TBM IKRA Lebak Pari bisa menggunakan roda dua dan empat (via Desa Ciparahu) dengan jarak tempuh sekitar 13 kilometer lebih dari Pasar Sukahujan Kecamatan Cihara, Jalan Raya Malingping – Bayah (Jl. Nasional III) menuju kampung Bumi Literasi Lebak Pari. 

Alhasil, hingga saat ini para aktivis mahasiswa dan pemuda yang ada di lingkungan sekitar menanggapi respons yang baik. Sehingga kalangan pemuda (remaja) yang peduli akan kampungnya sendiri dan dunia pendidikan turut serta membangun Gerakan Literasi kampung.