Mengamati ragam pemberitaan di berbagai media pada akhir-akhir ini membuat kita tercengang dan mengelus dada. Ternyata ada sisi lain dari bangsa ini yang masih sangat membutuhkan perhatian dan upaya-upaya perbaikan, yaitu membangun mentalitas sebagai sebuah bangsa yang beradab.

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun (14), warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu memang bukan yang pertama dan tidak juga dapat dikatakan yang terakhir, namun tragedi itu seharusnya cukup untuk membuat kita sadar bahwa telah terjadi degradasi moral yang demikian massif di tubuh generasi bangsa saat ini.

Dengan kesadaran demikian maka sudah sepatutnya masyarakat jangan merasa aman hanya dengan mengandalkan peran pemerintah untuk mencegah atau bahkan mengendalikan suatu kondisi moral yang kepalang karut-marut itu. Kota layak anak atau segudang peraturan pemerintah pun tidak akan memberikan dampak positif jika kosong dari kepedulian masyarakatnya.

Berdasar hal tersebut, maka akan bermanfaat kiranya jika opini-opini tentang membangun kesadaran masyarakat akan pembentukan generasi yang beradab dan tercerahkan itu terus disuarakan. Karena pada dasarnya tanggung jawab menjaga kondisi moral (akhlak) suatu bangsa itu bukan hanya tugas pemerintah melainkan tugas bersama, semua elemen masyarakat.

Terlebih Islam telah memberikan suatu tuntunan bagi penganutnya (66:7): “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat tersebut secara gamblang mengingatkan penganutnya bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran tidak hanya untuk menjaga dirinya bahkan juga keluarganya dari kejatuhan kepada kemalangan, kesialan atau bahkan musibah.

Berdasar pada tuntunan tersebut maka setiap kita memiliki kewajiban untuk kemudian mengambil langkah-langkah pencegahan dan atau bahkan pemulihan atas kerusakan lingkungan yang demikian massif ini.

Dari sekian banyaknya metode perbaikan dan atau pencegahan ke arah hal tersebut di atas, penulis tertarik untuk menyajikan arahan dari Khalifah Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad Atba. terkait membangun generasi yang tercerahkan yang disampaikan pada 13 Maret 2015 di Baitul Futuh, London.

Walau terkesan lain pembahasan, namun memiliki kesamaan dalam tujuan yakni meningkatkan kualitas akhlak (moral) suatu kaum atau Bangsa. Beberapa poin penting yang dapat penulis ungkap dan perwujudannya penting untuk mendapatkan perhatian. Di antaranya adalah menciptakan lingkungan yang baik.

Beliau menasihatkan bahwa lingkungan yang baik/sehat/Islami adalah suatu hal yang penting dalam pembentukan suatu karakter. Beliau memberikan suatu perumpamaan; sebagaimana tanah yang baik itu memengaruhi kualitas tanaman. Suatu bidang kebun yang terawat dengan baik tentu memiliki kualitas hasil panen yang lebih unggul dibanding kebun yang gersang dan tak terawat.

Jadi sebagaimana tumbuhan untuk subur dan menghasilkan buah yang baik itu membutuhkan lingkungan yang baik, terawat, maka manusia pun membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk tumbuhnya nilai-nilai baik dalam diri kita, baik dari sisi perilaku maupun pemahaman.

Qaum-e Ihsaas (Kepedulian Masyarakat)

Karena untuk membentuk suatu lingkungan yang baik itu tidak cukup dilakukan oleh satu keluarga saja, bahkan setiap kita penting untuk melakukan introspeksi terhadap kondisi kita pribadi, anggota keluarga, ke tetangga dan seterusnya untuk kemudian mangambil langkah melakukan suatu perbaikan secara menyeluruh.

Beliau menyatakan: “Jika secara menyeluruh dan bersama-sama tidak mengadakan usaha penghapusan keburukan-keburukan; jika secara menyeluruh dan bersama-sama tidak melakukan usaha perbaikan dan pengobatan, maka kelemahan, penyakit dan keburukan akan timbul secara menyeluruh, dan akan datang masanya ketika itu semua menjadi penyebab kehancuran kaum tersebut.”

Jadi memang untuk membangun generasi yang baik dan beradab, tidak bisa dilakukan oleh hanya satu elemen atau individu dalam suatu masyarakat. Seumpama ada rumah dari tetangga kita yang terbakar. Lalu kemudian apakah kita akan diam saja dan tidak ikut membantu memadamkan apinya dengan berpikir bahwa itu rumah milik orang lain?

Ini tentu pikiran yang keliru karena bisa saja api itu merambat melalui instalasi listrik dan menyambar rumah kita juga.

Di sinilah pentingnya kepedulian itu. Ketika dalam lingkungan kita ada suatu kekeliruan, ada suatu keburukan maka adalah kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Karena bukan suatu hal yang tidak mungkin bahwa keburukan yang dilakukan oleh tetangga atau orang yang ada di lingkungan kita itu, suatu hari menular dan ditiru oleh keluarga kita.

Kesadaran spiritual Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi spiritual (kerohanian) yang baik akan sangat menunjang pada prilaku seseorang, dan spiritual yang baik hanya akan lahir dari hubungan yang baik dengan Tuhan, ibadah. “Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar.” (29:46)

Namun harus diingat bahwa tidak setiap salat dan tidak pula setiap orang yang salat akan bisa terhindar dari keburukan itu. Salat yang dapat menghindarkan pelakunya dari keburukan adalah salat yang dilakukan dengan penyerahan diri yang sempurna, bukan sebatas pemenuhan akan beban kewajiban.

Salat-salat yang dikerjakan dengan penuh ketaatan inilah yang menjaga manusia, melindungi manusia dari berbagai kemungkaran, dan rumah-rumah yang di dalamnya dilaksanakan salat-salat yang demikian, suasana di rumah-rumah itu akan berubah dengan corak yang istimewa daripada rumah-rumah yang lainnya.

Dorongan ke arah kesadaran spiritual ini demikian penting, sebab roh dari suatu ajaran agama tidak akan pernah tersentuh atau berbuah jika pemaknaannya hanya sebatas simbol dan seremonial.

Tiga poin guna membangun generasi yang tercerahkan ini jarang didapati pada satu tatanan masyarakat bahkan di kalangan penganut Islam terbesar sekalipun. Kondisi lingkungan yang baik, kepedulian masyarakat, kesadaran spiritual demikian penting keberadaannya dalam suatu lingkungan.

Jika ketiga kesadaran ini muncul maka dapat dipastikan bahwa segala tindak penyelewengan dapat terdeteksi lebih dini, dan jiwa-jiwa yang kering mendapat kesejukan dengan pendekatan spiritual.