Indonesia adalah negeri dengan kekayaan kuliner yang luar biasa banyak. Hampir di tiap daerah tersedia kuliner khas yang menjadi brand/merek dari daerah itu sendiri. Tidak asing di mata bahwa kuliner yang berada di restoran hingga di pinggir jalan tidak pernah luput untuk menambahkan asal-muasal kuliner tersebut. Itulah kuliner Indonesia dengan keberagamannya. 

Kekayaan dan keberagaman kuliner Indonesia adalah sebuah potensi dari sekian banyak potensi yang Indonesia miliki. Anda pastinya sudah tidak asing lagi dengan kuliner seperti Kimchi dari Korea Selatan, Pizza dari Italia, Susi dari Jepang, Tom Yum dari Thailand, dan banyak lainnya. 

Beberapa kuliner yang disebut merupakan produk globalisasi kuliner negara-negara dunia. Mau tidak mau, budaya beserta kuliner yang di dalamnya ikut terbawa dalam arus globalisasi. 

Globalisasi kuliner dunia membawa peluang kompetisi baru bagi semua negara untuk ikut perlombaan ini. Dalam konteks ini, kuliner bukan lagi tentang mengenyangkan perut, cita rasa, pengalaman, dan gaya hidup, tetapi masuk pada ranah persaingan antarnegara melalui kulinernya. 

Kuliner Indonesia punya potensi besar untuk ikut dan memenangkan perlombaan globalisasi kuliner ini. Mengapa demikian? Mari kita lihat bagaimana Indonesia dengan segala potensinya. Kuliner Indonesia memiliki jumlah beragam dan jumlahnya banyak. Data yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata tahun 2013 mencatat setidaknya Indonesia memiliki 5.300 kuliner khas daerah. 

Kemudian destinasi wisata yang dimiliki Indonesia amat memikat turis mancanegara. Indonesia punya Pulau Bali yang sudah terkenal. Kemudian ada Yogyakarta dengan budaya lokalnya yang membuat banyak turis tertarik untuk singgah dan merasakan kearifan lokalnya. Juga destinasi wisata lain yang dimiliki Indonesia.

Jika kuliner daerah ikut diusung dan disandingkan sebagai merek/brand pariwisata, tak ayal akan meningkatkan jumlah kunjungan turis mancanegara. 

Terakhir, telah ada beberapa kuliner Indonesia yang dikenal di luar negeri. Paling terkenal adalah Rendang, yang pada 2011 pernah menjadi “Kuliner terenak se-dunia” versi CNN Go. Kemudian ada Nasi Goreng, Bakso, Soto, dan Gado-Gado. Dari sekian banyak potensi yang Indonesia milliki, sudah sepantasnya kita segera memperkenalkan kuliner Indonesia ke dunia.

Upaya promosi kuliner suatu negara ke publik internasional seperti yang dijelaskan di atas dinamakan Gastrodiplomasi (diplomasi kuliner). Gastrodiplomasi menurut Paul Rockower adalah upaya diplomasi publik untuk mempromosikan budaya kuliner negaranya kepada publik asing dengan persebaran yang luas.

Sedangkan untuk tujuan dari gastrodiplomasi, menurutnya, adalah untuk meningkatkan merek bangsa (nation brand), yang itu ialah kuliner melalui diplomasi budaya dengan memperkenalkan dan mempromosikan budaya kuliner negaranya untuk diketahui publik internasional. 

Kata gastrodiplomasi pertama kali digunakan pada 2002 untuk menyebutkan sebuah upaya yang coba dibangun oleh negara Thailand. Pada tahun tersebut, Thailand membuat sebuah kampanye diplomasi publik yang dinamakan “Global Thai Programme” yang itu oleh The Economist disebut sebagai gastrodiplomasi negara Thailand. 

Ketika membahas gastrodiplomasi, pertama kita harus pisah dahulu untuk sasaran/audience yang hendak dituju. Umumnya audience yang dituju terbagi dua, yakni elite pemerintahan/bisnis dan masyarakat negara yang dituju. 

Untuk yang pertama lebih pada perjamuan elite yang dilakukan pemerintahan atau mitra bisnis. Sedangkan yang kedua merupakan tujuan utama gastrodiplomasi. Karena untuk membuat sebuah brand awareness, maka pengetahuan masyarakat negara yang dituju adalah sebuah keharusan.

Selama ini tidak banyak aktor yang terlibat dalam gastrodiplomasi Indonesia. Salah satunya adalah Kementerian Luar Negeri RI melalui Kantor Perwakilan Indonesia di 139 negara dunia. Kemudian ada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI yang ikut terlibat aktif dalam perencanaan maupun pelaksanaan kampanye promosi kuliner Indonesia.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah para diaspora Indonesia yang melakukan self promotion and campaign memperkenalkan kuliner Indonesia di mancanegara. 

Selanjutnya pada tingkat domestik nasional, juga telah ada lembaga/organisasi swadaya seperti Indonesian Gastronomy Association, Akademi Gastronomi Indonesia, Indonesian Chef Association Association of Culinary Professional, dan Center for Gastrodiplomacy Studies yang memberi fokus pada gastronomi dan gastrodiplomasi Indonesia. Lembaga/organisasi swadaya tersebut menjadi aktor katalis penting untuk segera diambil langkah komprehensif tentang gastrodiplomasi Indonesia.  

Tidak sulit bagi indonesia untuk menemukan contoh gastrodiplomasi yang berhasil. Thailand adalah negara yang paling berhasil dalam kompetisi globalisasi kuliner. Menjadi negara pertama yang memperkenalkan gastrodiplomasi tentu keberhasilannya menjadi standar bagi negara-negara lain untuk mencontohnya. 

Paling fantastis dari Thailand adalah jumlah restoran di luar negerinya yang sudah mencapai angka 15.000 lebih tersebar di seluruh dunia. Di sisi lain, kunjungan turis ke Thailand menduduki peringkat pertama tahun 2019 di negara Asia Tenggara dengan jumlah 38,3 juta turis. 

Perpaduan antara destinasi wisata dan kuliner adalah daya pikat penting dari pariwisata sebuah negara. Thailand telah membuktikan itu. Tidak dimungkiri bahwa keberhasilan tersebut didapatkan karena brand awareness mengenai kuliner Thailand yang telah dikenal luas. Sehingga membuat penasaran bagi para turis untuk mencicipi langsung di negara asalnya. Terlebih lagi, destinasi wisata Thailand membuat turis tidak pikir panjang lagi untuk segera berwisata di sana. 

Thailand saja mampu, mengapa Indonesia tidak? Dilihat dari sumber daya yang Indonesia miliki sebetulnya jauh di atas Thailand, baik dari keragaman, cita rasa dan keunikan kulinernya. Mudahnya kuliner Indonesia tidak kalah potensinya. 

Akan tetapi, yang membuat Thailand sangat jauh di atas Indonesia adalah kemampuannya membaca peluang, potensi, dan manajemen pengelolaan sumber daya untuk keuntungan bangsanya. Dalam hal ini, Indonesia memang perlu untuk melihat proses dari gastrodiplomasi Thailand sebagai contoh. 

Lantas apa yang Indonesia harus lakukan? Belajar dari gastrodiplomasi yang diperlihatkan oleh Thailand, maka Indonesia perlu menyusun konsep gastrodiplomasinya.

Pertama yang harus dilakukan Indonesia adalah merancang rencana strategis dan kebijakan gastrodiplomasi nasional. Rencana strategis ini dapat menjadi pedoman utama pelaksanaan gastrodiplomasi Indonesia. Sedangkan Kebijakan gastrodiplomasi yang dilakukan melalui kampanye, program atau promosi akan menguatkan simpul-simpul upaya gastrodiplomasi Indonesia.

Kedua, pemerintah harus mengambil peran utamanya sebagai aktor penghubung dan penyambung dari multiaktor yang terlibat. Untuk itu, integrasi dari para aktor menjadi syarat utama. 

Namun integrasi merupakan batu lompatan yang harus dilalui bila Indonesia serius mengerjakan gastrodiplomasi. Permasalahan ego sektoral menjadi sebab utamanya. Bilamana pemerintah mampu mengelola dengan baik, tentu pelaksanaan gastrodiplomasi akan berjalan lancar. 

Terakhir, keterlibatan multiaktor ini barangkali memuat sebuah misi atau tujuan pada masing-masing aktornya. Itu sah-sah saja, sejauh tujuan utama gastrodiplomasi yang dilakukan oleh semua pihak bersatu dalam satu tujuan, yakni memberi rasa pada dunia melalui kuliner Indonesia.