5 bulan lalu · 78 view · 4 menit baca · Politik 54825_17366.jpg
Creative Blog

Membangun Citra Kampanye Yang Sehat

Gambaran politik menjelang pemilu hampir selalu buruk. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh kelompok. Efek kelompok tersebut terlalu subjektif, sehingga tidak bisa melihat kebaikan dari kelompok lain. Fenomena menjelang pemilu, masyarakat bisa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok A, kelompok B, dan kelompok netral. 

Masyarakat yang sudah masuk ke beberapa kelompok mau tidak mau harus mengikuti visi dan misi dari kelompok tersebut. Efek buruknya yaitu sulit menjadi diri sendiri ketika harus mengikuti kelompok. Terkadang kekompakan memiliki dampak buruk ketika yang dijunjung keburukan dan memecah persatuan. Bukankah seharusnya memiliki jiwa persatuan untuk membawa kemajuan Repubik Indonesia?

Menjelang pilpres 2019 ini banyak sekali yang tidak menyadari teduhnya kedamaian saling menghargai. Kampanye yang tidak sehat semakin menjadi-jadi ketika melihat lawannya terlihat melakukan kesalahan. Tanpa disadari ujaran kebencian tersebar begitu mudah. Mudahnya akses komunikasi, seperti melalui aplikasi whatsapp, Instagram, facebook, dan twitter, masyarakat sangat cepat mendapat informasi yang baik maupun buruk. Berujar, berpendapat, mengkritik sangatlah mudah dengan media yang ada.

Perlu diketahui di dalam informasi yang tersebar begitu mudah terkadang terdapat dua kategori sudut pandang, yaitu hatespeech dalam kategori ajakan dan sebatas ujaran saja. Ujaran kebencian (hate speech) adalah sebuah ungkapan kebencian atau dorongan untuk melakukan tindakan (call to action), dilakukan secara berulang-ulang (diniatkan), dilakukan di muka umum, dan bermaksud sebagai ancaman.[1] Terdapat informasi yang mengandung ujaran kebencian tetapi tidak bersifat mengajak. Tingkat ancamannya tidak buruk tetapi masuk dalam kategori lampu kuning karena bisa jadi yang meyakini informasi tersebut menjadikan ajakan yang tidak terduga.

Informasi yang mengandung sudut pandang seseorang, memiliki sifat hatespeech, dan disebarkan oleh pemimpin atau pemuka suatu kelompok lebih mudah dipercaya oleh masyarakat. Kebanyakan suatu kelompok akan mudah sekali meyakini kebaikan-kebaikan yang dicontohkan oleh pemuka kelompok. Dampak buruknya yaitu seseorang yang pintar dalam bidang tertentu sekalipun tidak dapat melihat ke-rasional-an suatu informasi yang seharusnya difahami secara mendalam. Dampak tersebut dihasilkan oleh amarah yang timbul karena informasi yang mengandung ujaran kebencian.


Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan berkelompok adalah untuk memenangkan kelompok masing-masing dalam pilpres 2019 nanti. Tetapi terkadang sikap dalam berkampanye tidak menggambarkan masyarakat yang beradab. Seperti contoh berkampanye dengan menjelek-jelekkan calon yang diusung dari kelompok lain. Terkadang sampai membawa etnis, suku, ras, dan agama sang calon. Contoh tersebut sangat tidak menggambarkan pengamalan Pancasila yang menjunjung tinggi nilai persatuan dalam keberagaman. Jika semua kelompok saling menyangkut SARA dalam berkampanye, lalu masyarakat Indonesia harus memilih siapa?

Isu SARA yang paling banyak diusut yaitu mengenai masalah agama. Seperti kasus pak Prabowo yang belum pernah ter-ekspos menjadi Imam sholat. Masyarakat yang pro pak Jokowi meminta pak Prabowo melaksanakan untuk melihat bagaimana sosok Prabowo menjadi Imam sholat seperti yang pak Jokowi lakukan. 

Selain itu, banyak tuduhan bahwa pak Jokowi tidak pro Islam karena banyak informasi miring bahwa beliau PKI yang seharusnya perlu dilihat kembali fakta-fakta mengenai hal tersebut. Ketua Lembaga Survei Indonesia, Khoirul Umam mengatakan bahwa isu SARA ini diperkirakan akan mewarnai pilpres 2019. Meski kedua capres dan cawapres tersebut berkomitmen anti kampanye hitam, tetapi tidak bisa dipastikan orang-orang di mesin politik dapat menjalankan kampanye sehat tersebut.

Dalam fenomena yang membuat ujaran kebencian tersebar begitu mudah, hanya kesadaran diri lah yang dapat meredam semuanya. Tidak lain yaitu dengan cara beragama yang benar. Dalam Pancasila yang pertama dapat dipastikan masyarakat Indonesia meyakini suatu agama. Setiap agama membawa nilai perdamaian yang bertujuan mensejahterakan umat manusia. Seperti dalam Islam, perbuatan saling menghina itu tidak dibenarkan. Seperti dalam surat Al-Hujurat ayat 11, disitu dijelaskan bahwasanya boleh jadi yang dihina tersebut lebih baik dari yang menghina. Oleh karena itu sikap berkampanye yang sehat seharusnya fokus terhadap kelompok masing-masing.


Indonesia adalah negara demokrasi. Yang artinya setiap orang memiliki hak untuk berpendapat. Bapak presiden Joko Widodo menjelaskan dalam acara “30 Menit Bersama Presiden” di Net TV bahwasanya setiap rakyat boleh saja mengkritik, berpendapat, memberi saran, tetapi harus baik. Tidak diperkenankan mengkritik dengan mengujar kebencian ataupun hoax. Toleransi dalam berpendapat harus ditegakkan. Apabila tidak sependapat dengan yang lain harus tetap menghargai dan menghormati dengan tidak menghina dan menyebarkan ujaran keberncian.

Sebagai masyarakat Indonesia yang berpendidikan, kita perlu menyadari bencana disintegrasi bangsa. Pemilu diadakan untuk menyatukan bangsa. Pesta demokrasi ini harus damai yang dimulai dari diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri itu perlu untuk meredam amarah dan berfikir cerdas. Hatespeech yang tersebar dapat terkikis sedikit demi sedikit dengan menyebarkan nila-nilai positif yang menyejukkan. 

Jika dilihat dari budaya literasi di Indonesia, hanya sebagian saja yang dapat menulis. Terdata oleh UNESCO bahwa Indonesia menempati posisi ke 60 dari 61 negara dalam budaya literasinya. Oleh karena itu, penulisan yang baik inilah yang diharapkan dapat mengikis ujaran kebencian, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Akhir-akhir ini banyak pemuda yang memiliki kreatifitas dengan membuat sebuah acara kecil untuk mengajak pemuda lain turut menyebarkan nilai-nilai positif. Seperti festival Content Creator yang diisi oleh pembicara-pembicara yang hebat dan berpengalaman terjun dalam bidang tersebut. Inilah yang diharapkan para leluhur, pemuda dapat mengisi kemerdekaan dengan menebar pengaruh positif.


Seseorang yang cerdas tidak hanya dapat mengajak, tetapi memberi pengaruh yang positif terhadap yang lainnya. Sosok yang dapat meredam amarah ketika kebencian muncul dari sahabat, keluarga, dan lingkungan. Hati yang bersih dapat memberikan pengaruh positif yang dapat menangkal berbagai Informasi buruk maupun ajakan untuk membenci yang lain. Oleh karena itu, kampanye pilpres 2019 tetap fokus terhadap kreatifitas untuk menunjukkan kemampuan calon yang diusung dan memberikan pengaruh positif terhadap rakyat.


[1] https://kabarkan.org/page/apa-itu-ujaran-kebencian

Artikel Terkait