Mahasiswa
1 bulan lalu · 38 view · 9 min baca menit baca · Budaya 81426_19441.jpg
www.star2.com

Membangun Budaya Cinta Kertas

Love, love, love. All you need is love. Love is all you need. - John Lenon 

Tahukah Anda? Kertas merupakan berkah sekaligus pengundang musibah. Peran strategis kertas membuat manusia sulit hidup tanpa keberadaan kertas. Di sisi lain, produksi kertas berpotensi besar menimbulkan kerusakan lingkungan.

Budaya cinta kertas merupakan solusi untuk mengatasi dampak negatif produksi kertas. Tanpa budaya cinta kertas, kita sulit memiliki sikap bijak dalam penggunaan kertas. Karena itu, budaya cinta kertas perlu ditumbuhkan di Indonesia.      

Bagaimana cara menumbuhkan budaya cinta kertas?

Kita dan Kertas

Di Indonesia, kita cenderung menilai kertas sebatas 'fungsi' yang sesuai dengan 'tujuan produksi'. Misalnya, tissu sebagai kertas pembersih, buku tulis sebagai kertas ditulis, dan kertas HVS sebagai kertas untuk diketik. Setelah menjalankan fungsi itu, sebagian besar kertas akan dianggap ‘limbah’.

Sejauh ini, hanya segelintir yang memiliki inisiatif untuk melakukan daur ulang limbah kertas. Banyak kertas yang dibuang secara sembarangan, sehingga mencemari lingkungan. Pembuangan kertas secara sembarangan atau tanpa daur ulang, terjadi di mana-mana.  

Pada 24 Desember 2013, terjadi insiden pembuangan kertas di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Kertas tersebut berwujud ratusan arsip, termasuk skripsi mahasiswa. Tidak hanya dibuang, kertas-kertas tersebut dibakar.

Arsip dan skripsi yang dibakar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (sumberpost.com)

Wakil Dekanat I Fakultas Dakwah, Jauhari mengatakan, pembakaran skripsi ini bukan karena tidak adanya penghargaan akademi, namun karena memang sudah tidak bisa disimpan lagi. 

Selain itu, Jauhari menilai bahwa data-data yang perlu dipertahankan yaitu data keuangan dan data negara lainnya. Skripsi bukan data negara, hanya sebuah karya tulis (sumberpost.com, 2014).


Peristiwa pembuangan skripsi terulang lagi pada tahun 2016 di Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar. Pihak kampus beralasan bahwa skripsi tersebut telah dikonversi ke format digital untuk mengatasi overload koleksi (liputan6.com, 2016). 

Skripsi yang dibuang di Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar.(news.okezone.com)

Kasus tersebut memperkukuh indikasi bahwa kertas masih dinilai sebatas fungsi tujuan produksi. Peristiwa tersebut semakin memilukan karena terjadi di lingkungan institusi pendidikan setingkat universitas.

Padahal, diperlukan 1 batang pohon usia 5 tahun untuk memproduksi kertas. Satu pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen setiap hari. Maka, untuk satu batang pohon yang digunakan dalam produksi kertas, kita mengalami kerugian potensi oksigen sekitar 2.190 kg atau 2,1 ton lebih.

Produksi satu ton kertas menghasilkan gas karbondioksida sekitar 2,6 ton atau setara dengan emisi gas buangan yang dihasilkan mobil selama enam bulan. Bila limbah kertas tidak didaur ulang, kertas akan terurai secara anaerob dan menghasilkan gas metana. Gas metana 20 kali lebih berbahaya daripada gas karbon dioksida dan memicu peningkatan suhu bumi secara signifikan.

Dewasa ini, diperlukan 5,6 juta ton kayu bahan baku kertas untuk memenuhi kebutuhan kertas Nasional setiap tahun. Seiring dengan pertambahan populasi manusia, kebutuhan kertas berpotensi besar akan semakin meningkat cepat. 

Pihak industri akan terpicu meningkatkan kuantitas hasil produksi kertas, mempersingkat proses produksi kertas, dan rentan mengabaikan kelestarian pohon yang menjadi bahan baku kertas.

Bila ketersediaan baku kertas tidak bisa dipenuhi hutan tanaman industri; tidak menutup kemungkinan pelaku industri akan terpicu untuk menggunakan pohon hutan alami untuk memenuhi kekurangan bahan baku kertas.

Padahal, hutan alami memiliki fungsi penting dalam melindungi dan melestarikan lingkungan hidup. Tidak hanya menyediakan oksigen dan menjaga ketersediaan air; hutan tersebut merupakan habitat hewan dan menjadi pemukiman masyarakat adat tertentu seperti Suku Anak Dalam Jambi.

Ketika laju kebutuhan kertas jauh lebih cepat dibandingkan ketersediaan pohon bahan baku kertas; keberlangsungan industri dalam produksi kertas bisa menimbulkan proses yang cacat prosedural.

Di Indonesia, tiduk sulit untuk menemukan kasus perusahaan industri kertas yang diduga berperan dalam penebangan kayu, sehingga memicu bencana alam dan kepunahan hewan-hewan yang semestinya dilindungi. Selain itu, penebangan itu menimbulkan konflik dengan masyarakat adat penghuni hutan.

Sebelum punah, hewan yang berhabitat di hutan dan masyarakat adat yang bermukim di hutan; berpotensi besar menyerang atau menimbulkan ketidaknyamanan bagi penduduk di luar kawasan hutan.

Dalam kasus tersebut, perusahaan industri kertas cenderung menjadi ‘kambing hitam’ LSM yang akan di hujat dan digugat. Hanya segelintir yang menyadari bahwa penebangan tersebut juga dipicu upaya untuk memenuhi bahan baku kertas dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap kertas.

Tanpa tuntutan kebutuhan (permintaan) masyarakat, perusahaan indutri kertas tidak akan memproduksi kertas. Ketika tuntutan itu tidak disertai sikap bijak dalam penggunaan kertas, maka upaya pihak industri untuk pemenuhan kebutuhan tersebut rentan mengundang penyimpangan.

Selain bahaya yang ditimbulkan akibat pengadaan bahan baku yang cacat prosedur, produksi kertas yang tidak terkendali, meningkatkan emisi dan efek gas rumah kaca. Hal ini meningkatkan kerusakan lingkungan yang membahayakan semua makhluk hidup.

Dalam sejarah, Cai Lun (Ts’ai Lun) yang hidup pada 63-121 Masehi di Guinyang, merupakan salah seorang tokoh penemu kertas di masa Dinasti Han Timur. Penemuan Cai Lun merupakan salah satu pilar inovasi kertas dalam peradaban.

Patung Cai Lun sang penemu kertas (penemu.co)

Seandainya Cai Lun menyaksikan dampak negatif kertas yang mengakibatkan kerusakan lingkungan; ia tentu meratap, menyesal, merasa berdosa, dan berharap dirinya tidak pernah menciptakan kertas.

Budaya Cinta Kertas  

Kita sering terobsesi pada ilmu pengetahuan modern untuk mengatasi permasalahan di dunia, termasuk polemik kertas. Tidak sulit untuk kita temukan riset dengan data-data statistik dan analisis yang rumit untuk memecahkan masalah kertas. 


Padahal, solusi persoalan kertas sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan solusi untuk sebagian besar masalah di dalam bidang kehidupan lainnya. Solusi itu tersebut sering muncul dalam seni khususnya seni musik, seperti "All you need is love" yang ditulis John Lennon, yaitu: cinta.

Cinta adalah energi kehidupan. Tanpa cinta, banyak masalah yang tidak akan terpecahkan, termasuk permasalahan kertas. Mencintai kertas merupakan langkah penting untuk menumbuhkan sikap bijak dalam menggunakan kertas.

Ketika memiliki rasa cinta pada kertas, maka rasa hormat terhadap pohon penghasil bahan baku kertas akan tumbuh pula dalam diri kita. Selain itu, kita akan memiliki kesadaran untuk berpartisipasi aktif dalam menekan dampak negatif produksi kertas.  

Asia Pupl & Paper Sinarmas (APP) merupakan salah satu perusahaan industri kertas yang layak untuk dijadikan sebagai agen perubahan penting dalam mewujudkan budaya cinta kertas. Hal ini diperkukuh kebijakan Konversi Hutan Asia Pupl & Paper Sinarmas (APP) tahun 2013.

Pohon di Hutan Tanaman Industri (rimbawan.com)

Dalam kebijakan yang ditetapkan APP tersebut, APP berkomitmen dalam (ii) mengembangkan area yang bukan lahan hutan; (ii) mereduksi emisi dan efek gas rumah kaca; (iii) meningkatkan keterlibatan sosial dan masyarakat; serta (iv) menjalankan prinsip manajeman hutan yang lebih bertanggung jawab.

Bila APP berniat mengimplementasikan kebijakan itu dalam wujud nyata, langkah pertama harus adanya upaya untuk menjalin sinergitas dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, sinergitas tersebut bisa mewujudkan budaya cinta kertas dalam bentuk tindakan, antara lain:

Pertama, penetapan aturan penggunaan kertas sesuai jangka waktu fungsional  

Di Indonesia, belum terdapat konvensi dan kebijakan yang spesifik mengenai aturan penggunaan kertas sesuai jangka waktu fungsional. Misalnya, berbagai jenis brosur dan buku-buku paket pelajaran untuk pendidikan dasar/menengah. 

Sebagian besar brosur dibuat dari kertas bermutu tinggi. Tetapi, setelah disebarkan, brosur tersebut dengan cepat dibuang.

Di sisi lain, buku paket pelajaran sekolah pendidikan dasar/menengah diproduksi secara massal, jutaan eksemplar dalam satu kali periode cetak, menggunakan kertas bermutu tinggi, menggelontorkan miliaran uang negara untuk buku yang dicetak pemerintah, atau berharga mahal untuk buku yang dicetak secara swasta. 

Namun, ketika kurikulum berganti, buku tersebut cenderung tidak digunakan lagi, sehingga berpotensi besar ditumpuk digudang untuk kemudian dibuang dan menjadi limbah.

Karena itu, kertas untuk brosur dan buku paket adalah kertas daur ulang. Bila menggunakan kertas kertas daur ulang, pembuatan brosur dan buku paket pelajaran, tidak membutuhkan pohon baru sebagai bahan baku. Proses produksi bisa dipersingkat. Dampak negatif terhadap lingkungan bisa lebih ringan dan harga kertas juga lebih murah. 

Oleh sebab itu, pemerintah perlu menetapkan aturan atau undang-undang yang mengatur penggunaan kertas sesuai jangka waktu fungsional tersebut. Dengan demikian, kertas tidak mudah untuk disia-siakan dan bisa menekan potensi kerusakan lingkungan.

Kedua, kurasi yang selektif penerbitan buku

Bidang literasi termasuk sektor yang membutuhkan ketersediaan kertas yang paling tinggi. Setiap bulan selalu terdapat buku baru yang dicetak dan diterbitkan. Umumnya 'penerbit mayor' menetapkan standar mencetak 3000 eksemplar setiap judul buku dalam satu periode penerbitan.

Sayangnya, tidak sedikit buku-buku tersebut yang diterbitkan sekadar untuk memenuhi target penerbitan semata tanpa mempertimbangkan mutu karya. Banyak terbit karya-karya bermutu rendah, sehingga tidak laku terjual. Nasib buku-buku tersebut akan berujung di gudang untuk kemudian dimusnahkan.

Perlu adanya kurasi yang lebih selektif dalam penerbitan buku. Buku yang diizinkan untuk diterbitkan adalah buku bermutu yang dikurasi praktisi profesional atau karya yang pemenang kompetisi/penghargaan.

Selain itu, perlu adanya optimalisasi literasi digital. Penerbit bisa menerbitkan karya-karya yang menjadi pusat perhatian pembaca karya yang sudah dipublikasikan dalam format digital.


Dengan demikian, sebelum terbit dalam bentuk cetak, karya tersebut telah dikenal dan memiliki pembaca, sehingga memiliki pasar dan tidak sia-sia diterbitkan. Melalui jalan ini pula, penerbitan buku bisa menghemat penggunaan kertas.

Ketiga, kenaikan harga kertas  

Harga kertas yang relatif terjangkau memicu timbulnya penggunaan yang kurang bertanggung jawab dan sikap yang tidak menghargai kertas.

Perlu adanya ‘kenaikan harga’ kertas sesuai mutu kertas. Dengan jalan ini, kertas bermutu tinggi akan lebih dihargai dan tidak mudah dibuang. Sebab, pengorbanan yang diperlukan untuk memperoleh kertas menjadi jauh lebih besar.

Produksi kertas yang selektif akan menurunkan kuantitas hasil produksi. Tetapi, kenaikan harga tersebut akan menstabilkan profit yang diperoleh pihak industri kertas. 

Keempat, sosialisasi budaya cinta kertas

Sosialisasi budaya cinta kertas perlu digalakkan terutama di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan.

Sosialisasi bukan hanya penyampaian informasi semata, tetapi juga meliputi tindakan nyata. Misalnya, pengadaan ‘bank sampah kertas’ di lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

Selain itu, masyarakat dan pelajar diberikan keahlian dalam daur ulang kertas, baik untuk menghasilkan kertas baru atau menghasilkan benda-benda yang bermanfaat.

Dengan jalan tersebut, generasi cintai kertas akan tumbuh di Indonesia. Tumbuhnya rasa cinta pada kertas merupakan jembatan emas untuk menjaga keseimbangan produksi kertas dan permintaan kertas, serta menciptakan produksi kertas yang ramah lingkungan.

Kelima, optimalisasi penggunaan alternatif pengganti bahan baku kertas

Kita perlu memanfaatkan bahan baku kertas non kayu untuk menekan jumlah pohon yang ditebang dalam produksi kertas. Satu dekade terakhir telah banyak penemuan bahan baku kertas non kayu. Misalnya, nata de coco dari air kelapa, nata de soya dari limbah produksi tahu dari kedelai, atau nata de pina dari limbah nanas. Selulosa dari bahan tersebut bisa digunakan untuk pembuatan kertas ramah lingkungan.

Dapat kita simpulkan bahwa dibalik manfaat kertas, tersimpan musibah. Upaya untuk menambah potensi bahan baku kertas melalui penanaman pohon bahan baku kertas, bukanlah solusi yang ramah lingkungan. Sebab, produksi kertas menghasilkan limbah yang sangat besar.

Karena itu, kita harus bijak dalam menggunakan kertas. Sikap bijak menggunakan kertas ini dimulai dengan menumbuhkan cinta pada kertas dan menjadikan cinta kertas sebagai budaya. Dengan demikian, cinta kertas akan memicu gerakan sosial.   

Budaya cinta kertas bertujuan untuk menekan jumlah penebangan pohon untuk bahan baku kertas; mengurangi potensi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan proses produksi kertas dan limbah kertas; menjadikan lingkungan lebih sehat; menjadikan bumi sebagai rumah yang nyaman bagi kehidupan hewan dan manusia.    

Untuk mewujudkan budaya cinta kertas, perlu adanya sinergitas antara pemerintah, perusahaan industri kertas, dan masyarakat. APP merupakan perusahaan penghasil kertas yang tepat untuk dijadikan sebagai agen perubahan yang menjalin sinergitas dalam merintis budaya cinta kertas.

Mari jatuh cinta pada kertas!

Referensi

[1] Melawan Lupa, Kala Fakultas Bakar Skripsi Mahasiswa

[2] UIN Alaudin Akui Buang Ribuan Skripsi

Artikel Terkait