Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan bahwa dosen merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengertian serupa juga dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2009 tentang Dosen.

Secara kasat mata, tanda seorang dosen sebagai pendidik ialah adanya kewajiban mengajar yang dibebankan kepada dirinya setiap semester di perguruan tinggi tempat dirinya diangkat sebagai seorang dosen—baik dosen swasta ataupun PNS. Sementara, tanda bahwa dosen juga seorang ilmuan ialah adanya kewajiban untuk melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Seluruh kegiatan dosen tersebut dikenal dengan istilah tridharma perguruan tinggi, yang terdiri dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Berkaitan dengan beban kerja dosen, diperjelas melalui PP No. 37 Tahun 2009 tentang Dosen, Pasal 8, Dosen melaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan beban kerja paling sedikit sepadan dengan 12 (dua belas) SKS dan paling banyak 16 (enam belas) SKS pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademiknya dengan ketentuan: 

(1) beban kerja pendidikan dan penelitian paling sedikit sepadan dengan 9 (sembilan) SKS yang dilaksanakan di perguruan tinggi yang bersangkutan; dan (2) beban kerja pengabdian kepada masyarakat dapat dilaksanakan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh perguruan inggi yang bersangkutan atau melalui lembaga lain.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa dosen memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai pendidik dan peneliti. Tetapi sayangnya, banyak kalangan dosen yang belum memahami hal tersebut—baik karena adanya unsur kesengajaan ataupun karena minimnya informasi yang didapatkan oleh diri sang dosen. Sehingga dirinya hanya fokus mengajar sebagai fungsi pendidikan dan mengabaikan fungsi penelitian. 

Oleh karena itu, bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai dosen, mari kita ketahui esensi dosen sebagai pendidik dan ilmuwan.

Esensi Pendidik dan Ilmuwan bagi Dosen

Secara lugas Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa setiap dosen bukan hanya menyandang tugas sebagai pendidik, akan tetapi juga sebagai ilmuan. 

Arti pendidik dalam KBBI daring adalah orang yang mendidik. Nizar dan Hasibuan (2018: 4) memperjelas makna pendidi, yaitu setiap orang yang mengabdikan dirinya dalam penyampaian ilmu pengetahuan kepada orang lain. 

Karena harus menyampaikan ilmu pengetahuan, Al Rasyidin (133: 2008) menekankan pendidik harus sosok alimun, yaitu ilmuwan yang memiliki pengetahuan tentang al-alim, manusia, alam semesta, dan semua makhluk ciptaan-Nya.

Dari pandangan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa seorang pendidik harus berilmu pengetahuan lebih luas dari para peserta didiknya. Karena seorang pendidik akan mentransformasikan pengetahuan (transfer of knowledge) kepada para peserta didik dengan berbagai macam persepektif. Pendidik yang mampu memberikan berbagai macam persepektif dari satu topik ilmu pengetahuan akan mampu melahirkan sikap critical thinking (berpikir kritis) pada peserta didiknya.

Berkaitan dengan critical thinking, Stella Cottrell (2017: 2) menjelaskan bahwa critical thinking merupakan metode yang selalu menghadirkan keragu-raguan secara konstruktif terhadap suatu hal. Sehingga membuat seseorang memiliki jedah untuk menganalisis hal tersebut. 

Analisis akan membantu dirinya dalam membuat keputusan terbaik, yang didasarkan terhadap banyaknya informasi tentang hal tersebut. Sehingga keputusannya memungkinkan lebih benar, efektif, dan produktif.

Pandangan Stella Cottrell memberikan informasi kepada kita bahwa ada korelasi antara pendidik yang memiliki pengetahuan luas terhadap kemampuan berpikir kritis (critical thinking) yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Artinya, makin luas ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang pendidik, akan makin tinggi kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh para peserta didik yang kelak akan dihasilkannya.

Pun begitu sebaliknya, makin rendah atau sempit pengetahuan seorang pendidik, akan mampu membentuk pribadi antikritik dari setiap peserta didiknya. Antikritik terjadi karena dirinya tak pernah diperkenalkan dengan beragam pandangan dari topik atau tema ilmu pengetahuan oleh dosennya dahulu kala saat belajar. Sehingga dirinya hanya memiliki satu pandangan terhadap ilmu pengetahuan, layaknya katak dalam tempurung. 

Maka dari itu, dosen sebagai pendidik harus memiliki ilmu pengetahuan luas—yang bila ditanya oleh peserta didiknya berkaitan dengan rumpun kajian keilmuannya, sang dosen bisa menjawab dengan baik dan benar dengan berbagai macam perspektif.

Selain sebagai pendidik, dosen juga sebagai ilmuwan. Bila dilihat di KBBI daring, arti ilmuwan ialah orang yang banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu atau orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan. Karena berkecimpung dengan ilmu pengetahuan, Budiman (2006: 122) menambahkan bahwa ilmuwan merupakan seorang peragu. Dia selalu meragukan sesuatu.

Maksud meragukan sesuatu ialah dirinya tidaka akan merasa puas akan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga seorang dosen akan selalu mempertanyakan sesuatu dari rumpun keilmuan yang ditekuninya. Hal tersebut membuat dirinya selalu menghasilkan penelitian-penelitian, yang tentu manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat secara luas—baik secara langsung ataupun tak langsung.

Dengan demikian, pengertian dosen yang oleh banyak kalangan hanya diartikan sebagai seorang pendidik ternyata mengalami transformasi yang cukup signifikan, yaitu pendidik sekaligus ilmuwan. Maka dari itu, dosen mempunyai karakteristik umum sebagai pendidik dengan ciri pembeda utama (discriminant trait) sebagai ilmuwan (Ristek Dikti, 2019, 5-6).

Pendidik dengan pembeda sebagai ilmuwan, maka tugas dan kewajiban seorang dosen kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk tridharma perguruan tinggi. Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengartikan tridharma perguruan tinggi sebagai kewajiban perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiga tugas tersebut akan dijalankan oleh seorang dosen. Sehingga tugas utama dosen dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi merupakan satu kesatuan dharma atau kegiatan, karena ketiga dharma tersebut hanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, karena saling terkait dan mendukung satu sama lain (Ristek Dikti, 2019, 6).

Misalnya, dharma pendidikan, seorang dosen menjalankan dharma pendidikan untuk mengajar teori-teori kepada peserta didik secara formal di kelas. Dari teori-teori yang diajarkan, tentu akan berkaitan dengan dharma penelitian yang dijalankan oleh seorang dosen. Karena tak akan mungkin seorang dosen menjalankan dharma penelitian tanpa memiliki landasan teori yang kuat.

Sementara, dari kegiatan penelitian yang dihasilkan oleh seorang dosen, dapat diimplementasikan ke dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sehingga hasil dari penelitian seorang dosen, manfaatnya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. 

Dan dalam melaksanakan dharma pengabdian kepada masyarakat, tentunya seorang dosen akan menemukan fenomena-fenomena baru di lapangan, yang hal tersebut akan memberikan temuan baru, yang akan bermanfaat untuk pengayaan dharma pendidikan dan juga dharma penelitian untuk selanjutnya.

Maka dari itu, dari tiga dharma yang dijalankan, pada muaranya akan dibuktikan dengan adanya publikasi ilmiah yang dilakukan oleh seorang dosen, baik berupa buku, artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terakreditasi ataupun bereputasi internasional, artikel pengabdian kepada masyarakat, dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut, dapat dihipotesiskan bahwa tolok ukur kinerja dan prestasi dosen ialah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh seorang dosen.

Makin banyak publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh seorang dosen, maka dosen tersebut dapat dikatakan sebagai dosen yang memiliki kinerja yang tinggi. Pun sebaliknya, makin sedikit publikasi ilmiah yang dihasilkan, akan makin buruk kinerja sang dosen. Tentu saja, dosen yang memiliki kinerja buruk hanya akan menjadi beban berat bagi perguruan tinggi.

Menghidupkan Tradisi Membaca dan Menulis

Setelah kita—sebagai seorang dosen, mampu memahami esensi pendidik dan ilmuwan dari profesi seorang dosen, maka niatan untuk membangun atmosfer akademis di kalangan dosen bisa kita jalankan dengan mudah. 

Salah satu cara untuk membangun atmosfer akademis di kalangan dosen ialah dengan menghidupkan tradisi membaca dan menulis. Tanpa adanya tradisi membaca dan menulis yang mendarah daging, jangan berharap atmosfer akademis di kalangan dosen akan terbangun.

Menurut Roqib, Tradisi membaca dan menulis yang dalam sejarahnya telah melahirkan banyak ilmuwan, sekarang ini justru tenggelam dan terseret arus kejumudan penuh ketidakberdayaan (2009: 3). Hal tersebut bahkan juga terjadi di kalangan masyarakat perguruan tinggi, yang harus kita akui bersama saat ini. Rasa-rasanya, membaca dan menulis menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seorang dosen.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rhenald Kasali (2015: 28) bahwa dari 100% pengajar di perguruan tinggi negeri, ternyata hanya 2% di antara mereka yang meraih gelar S3; dan dari ratusan doktor atau Ph.D, ternyata hanya sekitar 2% yang aktif melakukan publikasi dan menjadi guru gesar. Lalu, lebih dari seratus guru besar yang ada, hanya 2% yang menjalankan apa yang mereka tulis dan menghasilkan impact dalam masyarakat.

Konteks dari pandangan Rhenald Kasali adalah kegiatan membaca dan menulis di kalangan dosen sangat minim. Oleh karena itu, menghidupkan tradisi membaca dan menulis di kalangan dosen menjadi kata kunci utama untuk membangun atmosfer akademis di kalangan dosen. Hanya saja, untuk menumbuhkan kesadaran dari masing-masing dosen agar mau menekuni kegiatan membaca dan menulis, rasa-rasanya sangat sulit.

Apalagi bila dikaitkan dengan kondisi kompensasi (take home pay) dosen yang tak begitu besar—terkhusus untuk dosen perguruan tinggi swasta yang kondisi keuangan yayasannya terseok-seok, tentu saja menekuni kegiatan membaca dan menulis tidak akan diutamakan. 

Dirinya akan lebih mengutamakan ngamen sana-sini untuk mencari tambahan income, seperti bergabung di partai politik, menjadi tenaga ahli di DPR atau lembaga pemerintah, menjadi pengawas lembaga perbankan, dan lain sebagainya. Sehingga sulit rasanya untuk membangun kesadaran agar seorang dosen rajin membaca dan menulis.

Hanya saja, bila kegiatan membaca dan menulis tidak segera dibangun di kalangan dosen, rasa-rasanya keinginan untuk memiliki publikasi ilmiah—baik skala lokal, nasional, ataupun international, sebagai salah satu parameter produktivitas kinerja seorang dosen akan sulit untuk dimiliki. Implikasinya ialah dosen hanya akan berkutat dalam dharma pengajaran saja dengan memfokuskan diri pada kegiatan mengaji (mengajar dan menguji).

Bila boleh menyumbang saran kepada para pimpinan di perguruan tinggi, setidaknya ada dua hal yang bisa dijadikan kebijakan perguruan tinggi berkaitan peningkatan budaya membaca dan menulis di kalangan dosen. 

Dua hal tersebut setidaknya akan mampu merangsang setiap diri dosen untuk bukan saja rajin membaca sebagai sebuah kebutuhan, akan tetapi pada titik rakus membaca. Dan juga, menulis bukan saja sebagai kebutuhan untuk peningkatan karier dosen, akan tetapi sebagai tanggung jawab morel sebagai seorang pendidik dan ilmuan. 

Pertama, memberikan reward yang menggiurkan dan punishment yang menakutkan kepada para dosen oleh perguruan tinggi. Reward menggiurkan diberikan kepada para dosen yang berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya. 

Publikasi karya ilmiah yang dimaksud bisa berupa buku, artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal nasional atau internasional, ataupun karya ilmiah yang dipresentasikan dalam konferensi nasional ataupun internasional yang dipublikasikan dalam bentuk prosiding.

Adapun mekanisme pemberian reward harus dibuat dalam regulasi berbentuk SK Rektor, SK Dekan, ataupun lainnya, yang di dalamnya mengatur bagaimana besar dan mekanisme reward yang akan diberikan kepada dosen. Keberadaan regulasi sebagai bentuk apresiasi dan dorongan nyata yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada para dosen untuk lebih produktif menghasilkan publikasi ilmiah.

Misalnya bentuk SK yang dikeluarkan: dosen yang berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal international (Q3, Q2, atau Q1) diberi penghargaan sebesar Rp 60.000.000, yang berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal tarakreditasi Sinta 1 dan 2 diberi penghargaan sebesar Rp25.000.000, yang berhasil mempublikasikan artikel di Jurnal tarakreditasi Sinta 3 dan 4 diberi penghargaan sebesar Rp10.000.000, yang berhasil mempublikasikan artikel di jurnal terakreditasi Sinta 5 dan 6 diberi penghargaan sebesar Rp5.000.000.

Sementara, untuk dosen yang lolos artikel ilmiahnya pada acara konferensi international diberi penghargaan sebesar Rp20.000.000, yang lolos artikel ilmiahnya pada seminar nasional diberi penghargaan sebesar Rp10.000.000. Sedangkan untuk dosen yang berhasil membuat buku ajar diberi penghargaan sebesar Rp15.000.000 hingga Rp30.000.000, dan besarnya penghargaan akan disesuaikan dengan bobot materi yang ditulis dalam buku tersebut.

Hal tersebut hanya berupa contoh dari isi SK yang mungkin bisa dikeluarkan oleh pimpinan perguruan tinggi, baik di tingkat rektorat ataupun fakultas. Tentu saja, reward yang diberikan juga harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan perguruan tinggi. 

Tetapi, yakinlah bila perguruan tinggi berani memberikan reward yang menggiurkan kepada para dosen, bukan saja dosen yang bersangkutan diuntungkan. Perguruan tinggi juga akan ikut menikmati keuntungan dari banyaknya jumlah karya ilmiah yang dihasilkan para dosen.

Tentu saja, pemberian reward yang menggiurkan akan membuat para dosen berlomba-lomba belajar meneliti dan menulis dengan baik. Dan bagi dosen yang telah memiliki kemampuan meneliti dan menulis, akan makin meningkatkan kapasitas kemampuannya. Sehingga dirinya bisa menghasilkan publikasi ilmiah yang bereputasi nasional atau bahkan internasional lebih baik ke depannya.

Implikasi nyata dari ketertarikan dosen untuk meneliti dan menulis karena adanya reward yang menggiurkan ialah perlahan-lahan dosen akan membuka buku untuk mulai tekun membaca. Mengumpulkan artikel jurnal ilmiah dan naskah prosiding di internet—baik terakreditasi nasional maupun international, sebagai rujukan primer dalam membuat tulisan. 

Secara tidak langsung, adanya reward untuk meneliti dan menulis akan berimplikasi terhadap peningkatan kemampuan membaca dosen terhadap sumber-sumber primer maupun skunder dari kajian keilmuan yang ditekuninya.

Sedangkan punishment juga penting diberikan kepada para dosen yang tidak memiliki komitmen kuat untuk meneliti dan menulis. Karena dosen yang tidak memiliki komitmen untuk meneliti dan menulis sangat membebani keuangan perguruan tinggi. Di mana perguruan tinggi harus mengeluarkan uang untuk take home pay sang dosen. Sementara dirinya tak mampu memberikan kontribusi berupa publikasi ilmiah untuk meningkatkan kapasitas penilaian perguruan tinggi.

Bentuk punishment juga harus diatur dalam regulasi yang jelas melalui SK Rektor, SK Dekan, ataupun lainnya yang memiliki kewenangan mengeluarkan aturan. Isi SK yang dikeluarkan, misalnya: memberikan sanksi berupa pemberhentian kepada dosen tetap yang tidak mempublikasikan karya ilmiahnya selama lima tahun, mencabut tunjangan dosen tetap bagi yang tidak mempublikasikan secara berturut-turut selama 3 tahun, dan lain sebagainya.

Intinya, reward dan punishment yang diberikan oleh perguruan tinggi, esensinya hendak mendorong para dosen agar aktif berkarya, hingga karyanya bisa dipublikasikan dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Sehingga masyarakat luas dapat menikmati manfaat atas keberadaan seorang dosen yang memiliki fungsi sebagai pendidik dan ilmuwan. 

Kedua, memberikan akses fasilitas pendukung untuk menulis. Tanpa adanya akses fasilitas pendukung untuk menulis, rasa-rasanya jangan berharap dosen akan bisa menghasilkan tulisan. 

Rumus bagi dosen sangat sederhana, biasanya dosen—khususnya dosen di perguruan tinggi swasta, akan berpikir seribu kali bila mengeluarkan uang untuk kepentingan menulis. Misalnya, untuk membeli buku, berlangganan jurnal international, hadir di pelatihan penulisan jurnal bereputasi, dan lain sebagainya. Baginya, uang yang didapatkan dari kampus sebagai take home pay lebih baik digunakan untuk keperluan di dapur agar asap bisa tetap mengepul, serta tetek-bengek kebutuhan sehari-hari lainnya.

Maka dari itu, dibutuhkan keberanian untuk investasi finansial oleh perguruan tinggi, bila ingin dosen yang dimiliki menghasilkan tulisan bereputasi—baik nasional maupun internasional. Lagi-lagi, pihak perguruan tinggi tidak usah berpikir panjang lebar dengan konsep break event point (BEP) yang super ribet, karena manfaat dari investasi tersebut pastinya akan kembali pada perguruan tinggi itu sendiri. 

Rumus matematika ekonominya sangat sederhana, esensi dari peningkatan produktivitas dosen menulis, akan meningkatkan penilaian dan kualitas perguruan tinggi itu sendiri di kemudian hari.

Bentuk akses fasilitas yang akan diberikan oleh perguruan tinggi, misalnya koleksi buku di perpustakaan yang lengkap—baik perpustakaan fakultas ataupun universitas, berlangganan jurnal dan buku dari publisher yang memiliki reputasi international, ruang riset dan menulis yang nyaman bagi dosen, mengadakan pelatihan atau klinik penulisan akademik (academic writing) secara berkala, mengikutsertakan dosen-dosen secara bergiliran pada pelatihan penulisan akademik (academic writing) di luar kampus, bekerja sama penelitian lintas kampus di dalam negeri mapun luar negeri dengan sistem kloning, dan lain sebagainya.

Penulis yakin dengan taraf hakulyakin, adanya fasilitas seperti hal tersebut perlahan-lahan akan mampu meningkatkan kinerja dosen yang dibuktikan dengan meningkatnya publikasi ilmiah oleh para dosen. Tentu saja, maraknya publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh dosen di suatu perguruan tinggi menjadi salah satu bukti hidupnya budaya membaca dan menulis di perguruan tinggi tersebut.

Penutup

Kita yang saat ini telah memilih dan memutuskan diri untuk menekuni profesi dosen—baik yang hanya fokus mengajar di perguruan tinggi ataupun sembari memiliki aktivitas lain sebagai side job, harus mulai sadar bahwa profesi dosen bukan hanya sebagai pendidik semata, akan tetapi juga sebagai peneliti. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa akumulasi dari pendidik dan peneliti terimplementasi melalui tugas tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengajaran.

Membangun atmosfer akademis di kalangan dosen menjadi salah satu parameter bahwa tridharma perguruan tinggi telah dijalankan dengan baik oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Sehingga, dengan dijalankannya tridharma perguruan tinggi, perguruan tinggi tidak hanya semata-mata menjadi pabrik pencetak lembaran ijazah—sebagai bukti bahwa seseorang pernah kuliah. 

Akan tetapi, perguruan tinggi mampu menghasilkan karya babon—sebagai bukti bahwa masyarakat kampus yang terdiri dari dosen dan mahasiswa pernah berpikir, untuk menghasilkan mahakarya yang bermanfaat besar terhadap kehidupan umat manusia.