Disinilah kita memulai suatu langkah dimana tiada penghalang untuk berpikir melampaui dari yang sebelumnya, masuk dan terjun langsung ke dalam rimba pengetahuan yang dalam. Berjalan menelusuri hal-hal baru dengan semangat tak ingin terkungkung pada satu rutinitas yang monoton. Sadar akan arti betapa indahnya hidup bila dibarengi dengan bacaan serta buku-buku progresif. 

Maka dari itu kita sadar bahwa bukan kecantikan fisik yang diutamakan dalam hidup ini melainkan kebijaksanaan akal dalam menuntun perjalanan. Tak lelah terus mencari walau pedih tak kunjung sirna adalah spirit mencari ilmu. Seseorang bisa belajar dimanapun ia berada. Ketika internet telah membekali seseorang dalam belajar apapun yang ia mau maka takkan ada halangan dalam bergerak terus mencari.

Pengetahuan bersifat mencari tanpa henti, sementara keyakinan menetap pada kepastian yang tak bisa digugat keberadaannya. Maka filsafat menuntun kedua hal tersebut. Walau galau tak terelakkan namun seorang pejuang takkan berhenti, dan ia takkan menunjukkan kelemahan yang ia miliki.

Sunyi akan berarti bila ia dipergunakan dengan membaca buku, berteman pada jutaan kata lebih baik daripada berteman dengan ribuan akun yang tak jelas asal kebenarannya dari mana. Maka bila seseorang berupaya meluangkan waktu pada buku berarti ia menyelamatkan dunia dari berita hoax. Tak ingin sembarang berbagi berita karena lebih baik berbagi rekomendasi buku apa yang layak dibaca setiap Minggu dan bulanannya.

Berfilsafat dalam kesunyian artinya berani berpikir dengan pertanyaan yang tak pernah kita duga sebelumnya, yaitu suatu ketekunan untuk bertahan diantara banyaknya kebingungan yang anti mainstream. Tak ada defenisi yang selesai, artinya satu definisi akan melahirkan definisi baru dan pemahaman akan semakin luas dengan semakin banyak belajar filsafat.

Buku adalah harga diri terakhir yang dimiliki oleh akal, manusia tak bisa sembarangan menghabiskan waktunya di media sosial. Harus ada kedisiplinan dan kesadaran diri yang menggerakkan niat untuk membaca buku secara lebih melampaui penggunaan media sosial. 

Selama buku ada maka kebebasan berpikir akan terjaga, dirawat dengan kesungguhan prinsip hati nurani. Maka jangan tanyakan seberapa banyak follower yang mengikutimu di Instagram atau Twitter, tapi tanyakanlah seberapa banyak buku yang telah kau selesaikan untuk dibaca. Bila jutaan rakyat kita terhipnotis dengan kehadiran aplikasi Tik-Tok dan Mobile Legenda maka kecerdasan publik takkan bertumbuh, tumpul terhadap kesenangan serta hiburan cari sensasi. 

Mungkin pertanyaan yang tepat dalam mengilhami hidup ini adalah kenapa lebih banyak artis alay ketimbang penulis? Jawabannya adalah pada kesadaran dari suatu perenungan.

Yang menjajah kita saat ini bukanlah penjajahan berbasis senjata melainkan kebodohan massal melalui hiburan yang tak jelas arah maknanya. Maka kembalilah ke jalan yang lurus yaitu dimana akal ditempatkan paling utama dari kesenangan agar manusia mampu menuntun dirinya Tidak tergesa-gesa dalam menikmati hiburan.

Dengan menginjak usia baru maka pikiran manusia akan semakin meluas. Kecepatan waktu akan semakin gencar berlari tanpa perduli dimana kita berdiri dengan suatu keyakinan. 

Raihlah hari ini dengan gairah filsafat. Karena seseorang yang mencintai senja sama dengan ia mencintai filsafat, karena dalam senja seseorang berada pada batas waktu antara terang sore hari menuju malam penuh kegelapan. Dalam senja manusia tak ingin tertinggal perenungan yaitu cahaya matahari sebab itulah penerang di kegelapan malam yang akan ia lalui.

Ini adalah sebuah upaya untuk saling mengingatkan tanpa bermaksud menggurui, karena apabila kemerdekaan kebebasan berpikir telah menunjukkan Taji Intelektual melalui tulisan yang mencadaskan pemikiran pembaca, maka dengan sendirinya seseorang mampu berjalan digurui oleh pikirannya sendiri, dan tak menutup diri dalam diskusi terbuka secara bersama.

Ada satu kejadian yang aneh kini menimpa generasi milleneal Indonesia, bila beberapa tahun yang lalu jika seseorang ingin menjadi terkenal maka yang ditunjukkan ke publik adalah bakat yang ia miliki, tapi kalau zaman now tidak perlu ribet-ribet untuk terkenal, cukup goyangkan dua jari main Tik Tok maka dengan sendirinya terkenal. Fenomena ini menunjukkan bahwa Generasi kita seakan telah mati langkah karena tak ada cita-cita yang ingin dikejar.

Salah satu murid yang tengah saya ajar di dalam kelas sering sekali kehilangan gairah belajar dikarenakan gadget yang entah apa ia lihat disitu, hape android yang ia punya bukan sebagai penyemangat belajar melainkan membuat siswa saya bertambah galau karena yang ia baca adalah status-status puisi patah hati, boleh patah hati tapi terlalu cepat bagi usia seperti dia. 

Hal itulah yang membuat saya sakit perut tiap hari memikirkan suatu upaya mencari solusi bagaimana agar pelajar bisa terlepas dari hapenya dan fokus kepada dunia real yang tengah ia jalani.

Kita berharap kedepannya ada satu lembaga yang didirikan untuk menyusun komisi pemberantasan hiburan alay, walaupun harapan semoga bisa dapat dipertimbangkan bersama. Sebab yang ingin kita tumbuhkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mengalaykan bangsa. Tentu kita prihatin takkala guru honorer di pedalaman banting tulang menguras banyak pikiran untuk mendidik, sementara banyak artis alay yang menunjukkan banyak hiburan sensasi yang sekedar tak berkelas.

Dasar pemikiran manusia adalah sebab-akibat. Mempasrahkan kreativitas dengan keyakinan berarti menghentikan kinerja berpikir. Artinya pengetahuan takkan tercipta, artinya manusia akan kembali kepada ilmu takhayul. Dan Tan Malaka dalam buku Madilog menulis perjuangan untuk keluar dari keyakinan takhayul baik jimat maupun jampi-jampi.

Toleransi dalam pengetahuan artinya terbuka terhadap segala ilmu dan segala kebebasan berpikir tanpa merasa benar dengan apa yang telah kita pelajari sebelumnya. Sebagaimana kebenaran bersifat abstrak bahkan tabu bila keyakinan merasa nyaman dengan kesolehan pahala itu telah diperkuat tanpa meragukan hal-hal yang bisa dipertanyakan. 

Sebab keraguan menuntun manusia kepada ilmu pengetahuan yang baru, sementara keyakinan memasrahkan potensi yang dimiliki manusia kepada pemujaan yang tak berarti. Kenyamanan dalam pemujaan sering sekali membawa manusia untuk berhenti mempertanyakan kembali apa-apa yang belum diuraikan. Itu makanya "iqra" tidak hanya kepada satu bacaan saja, melainkan membaca secara luas yang tak mampu dibaca oleh iman.

Kekalahan adalah kemenangan bagi mereka yang tetap bertahan memperjuangkan impiannya. Dalam pemikiran seseorang tak boleh lelah dengan cita-cita yang telah lama ia inginkan. Sudah terlalu banyak tulisan yang menyebabkan pembaca patah hati, galau bermalam-malam, maka dari itu dibutuhkan suatu energi inspirasi. 

Bila anda perhatikan dan flashback ke Bon Jovi dengan salah satu lagu It's My Life, anda akan menemukan energi motivasi yang menggemparkan pikiran untuk bangkit dari keterpurukan.