Unjuk rasa atau demonstrasi menjadi sebuah aktivitas yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan. Itu dilakoni oleh segenap kelompok karena tidak berhasil mendapatkan suatu hal. Karenanya, dalam setiap unjuk rasa yang terjadi, dipastikan mengandung sebuah tuntutan hingga akhirnya mereka mendapatkan sesuatu yang diinginkan. 

Salah satu kelompok tersebut, yakni mahasiswa. Setidaknya, dalam satu minggu ini saja, dapat terlihat bagaimana partisipasi mahasiswa dalam menuntut berbagai hal, terutama dalam penyusunan berbagai Rancangan Undang-Undang yang dinilai bermasalah dan dapat mencederai demokrasi. 

Menjadi fakta bahwa unjuk rasa tersebut melibatkan ribuan mahasiswa dan terjadi secara masif. Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Senayan dan juga gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di berbagai daerah telah menjadi saksi bisu tersalurkannya berbagai aspirasi hingga tuntutan dari para mahasiswa yang tertuju kepada wakil rakyat di DPR dan Presiden.

Dikotomi Optimis dan Pesimis

Berbagai unjuk rasa yang merupakan bagian dari gerakan sosial setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, yakni perspektif yang bercorak optimistik. 

Mahasiswa dinilai memiliki posisi dan peran strategis sebagai aktor yang terus mengawal jalannya pemerintahan. Karenanya, identitas the future of elite bagi masyarakat tersemat kepada para mahasiswa yang berjuang dalam berbagai gerakan sosial sehingga memunculkan etos nobleness oblige.

Itu adalah sebuah etos yang memunculkan kewajiban yang ditujukan hanya kepada orang-orang yang mendapatkan keistimewaan untuk bertindak dengan murah hati dan penuh rasa hormat terhadap mereka yang tidak mendapatkan keistimewaan. Mahasiswa menjadi agen penting bagi terwujudnya perubahan sosial dan politik, bahkan mampu merumuskan ideologi bagi masyarakatnya.

Karenanya menjadi tesis Altbach dalam Politik & Mahasiswa: Perspektif & Kecenderungan Masa Kini (1988) bahwa mahasiswa merupakan tolok ukur situasi politik di sebuah negara. Tingkat responsivitas yang ditunjukkan mahasiswa dipuji oleh Altbach, terutama ketika infrastruktur dan suprastruktur politik di dalam suatu negara mengalami kemandekan.

Kompleksnya masalah yang terjadi pada akhirnya menuntut mahasiswa untuk bertindak lebih. Gerakan sosial mahasiswa yang semula hanya bersifat politis, yakni merespons berbagai isu politik yang terjadi, telah berkembang dalam ruang lingkup yang lebih luas. 

Perubahan jalur gerakan mahasiswa saat ini tidak hanya mempersoalkan masalah politik, namun juga menyangkut ranah sosial, ekonomi, dan lain sebagainya, yang langsung terjadi di masyarakat, terutama kalangan bawah.

Sebaliknya, unjuk rasa sebagai salah satu bentuk gerakan sosial mahasiswa juga bisa lahir dari sikap pesimis. Mahasiswa yang juga merupakan bagian dari masyarakat sipil sadar bahwa tidak memiliki akses dan kemampuan lebih untuk berperan secara langsung dalam membenahi sistem politik yang dinilai rusak dan cacat. 

Namun, di sisi lain, mahasiswa tetap berbeban untuk membenahi permasalahan tersebut. Karenanya, partisipasi politik berupa unjuk rasa menjadi wadah yang efektif untuk kesenjangan tersebut. 

Unjuk rasa, sebagaimana disebutkan Mac Andrews dalam Perbandingan Sistem Politik (1986), dipandang sebagai 'jalan terakhir' yang ditempuh apabila aktivitas lainnya tidak dapat dijalankan atau tidak dapat berjalan secara efektif.

Konteks Saat Ini

Sebagaimana diberitakan oleh media, Presiden Jokowi memastikan tetap tidak akan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk mencabut Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK). Padahal salah satu tuntutan yang disuarakan mahasiswa dari berbagai unjuk rasa yang terjadi, yakni penolakan revisi UU KPK. 

Menanggapi itu, unjuk rasa diperkirakan akan terus terjadi dan bahkan meluas. Perjuangan ini tentu bukan perjuangan yang mudah sehingga sikap dan perspektif optimis, sebagaimana diuraikan pada pembahasan di atas, harus tetap digaungkan dalam berbagai unjuk rasa yang akan terus berlangsung.

Sikap optimisme itu dibangun pertama-tama dengan memandang bahwa berbagai unjuk rasa yang terjadi merupakan suatu gerakan sosial yang berdampak. 

Gerakan mahasiswa dapat dikategorikan sebagai gerakan sosial (social movement) karena aksi unjuk rasa yang merupakan inisiatif dari mahasiswa digerakkan oleh kesamaan keyakinan, doktrin, fanatisme, dan kepemimpinan, serta melibatkan diri secara sadar untuk berkorban atas nama perubahan. 

Semangat solidaritas atas dasar kesamaan itulah yang terus tetap dijaga. 

Namun memang tidak dapat dimungkiri bahwa kekhwatiran akan adanya ‘penumpang gelap’ dalam gerakan sosial tersebut tetaplah ada. Karenanya, mahasiswa harus dapat menjaga keluhuran gerakannya dengan memahami betul apa yang menjadi tuntutannya dan bersifat kritis serta substansial.

Berbagai tindakan lainnya yang dapat mereduksi keluhuran gerakan mahasiswa seharusnya juga dapat dihindari. Misalnya saja kekecewaan mahasiswa terhadap gagalnya negara dalam mewujudkan kesejahteraan bagi semua (instrumental aggression) yang acap kali mengalami pembiasan secara liar sehingga menjadi keinginan yang bertujuan untuk menyakiti, menghancurkan, bahkan membunuh lawan (hostile aggression). 

Biasanya ini ditandai dengan penyerangan kepada pihak keamanan (kepolisian) sehingga menelan korban jiwa ataupun berbagai fasilitas umum yang menjadi sasaran vandalisme. Hal yang semacam ini tentunya harus dihindari sehingga pembelaan dan keberpihakan yang diusahakan mahasiswa kepada masyarakat tidak berubah menjadi kritik hingga cibiran dari apa yang selama ini ia bela.

Terakhir, penting untuk memahami bahwa berbagai unjuk rasa yang berlangsung sebaiknya tidak justru melahirkan permasalahan baru, yakni terciptanya banalitas intelektual. Besar harapan agar para mahasiswa juga tidak lengah pada kewajibannya yang hakiki.

Penghayatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terwujud dalam eksplorasi aktivitas pelayanan pengajaran (ministry of teaching), riset (ministry of research), dan pengabdian masyarakat (ministry of community service) diharapkan berjalan seimbang dengan berbagai gerakan mahasiswa yang dijalani. Karena melalui itu semua, mahasiswa akan menemukan serta mengalami perjuangan yang sesungguhnya.