Selama krisis pandemi Covid-19, banyak perusahaan, kecuali sebagian perusahaan-perusahaan teknologi, yang merosot tajam kinerjanya termasuk perusahaan barang konsumsi. Namun Nike, perusahaan sepatu, pakaian dan peralatan olahraga, telah membalikkan kinerja periode kuartal yang berakhir 31 Agustus 2020 mejadi positif setelah mengalami kerugian berarti pada kuartal-kuartal sebelumnya.

Di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, laporan keuangan Nike global kuartalan sampai 31 Agustus 2020 telah meraih kenaikan keuntungan bersih (net profit) 11.78% dibanding periode sama tahun sebelumnya. 

Yang dilakukan Nike selain merestrategi segmentasi juga telah dengan cepat melakukan transformasi digital. Bukan sekadar mengonlinekan cara penjualan, tetapi juga mendigitalisasi prosesnya sehingga menghasilkan efisiensi waktu dan memangkas biaya.

Meskipun pendapatan periode kuartal yang berakhir 31 Agustus 2020 masih lebih kecil 0,6% dibanding kuartal sama tahun sebelumnya, terbukti secara keuntungan bersih mengalami kenaikan signifikan dan serta-merta menaikkan harga sahamnya. Nike berhasil mengatasi krisis dampak pandemi menggunakan ekosistem digital.

Ketika awal tahun pandemi terjadi di China, Nike telah menutup sebagian besar gerai yang tersebar di China. Begitu pula Ketika pandemi merambah ke semua negara termasuk ke Amerika Serikat, serta-merta terjadi penurunan tajam pendapatan. 

Menyikapi masyarakat yang lebih banyak menghabiskan kehidupoan di rumah, Nike berusaha tetap membangun koneksi dan keterikatan (engagement) dengan konsumen dengan digital dengan Nike Running Club (NRC) app, Nike Training Club (NTC) app, social channels, nike.com. Bahkan membebaskan biaya untuk NTC premium.

Kebutuhan masyarakat ingin tetap sehat selama di rumah disajikan dengan aplikasi berisi At-Home Work out (panduan berolahraga di rumah). Kuatnya keterkaitan dengan konsumen ini mampu diterjemahkan menjadi penjualan. Penggunan aktif aplikasi tersebut mingguan naik 80% di China dalam kuartal pertama.

Dengan makin banyak membangun komunitas dalam aplikasinya, maka Nike mampu mendulang data untuk dianalisis dalam memetakan selera dan gaya hidup masyarakat. Langkah penting Nike adalah membentuk sebuah organisasi yang mendasarkan keputusan berdasar data yang diperoleh dengan cepat dengan akurasi lebih tinggi karena banyaknya data yang terkumpul. Inilah yang disebut Data Driven Company.  

Setelah di awal tahun 2020 hampir semua sektor didera kerugian akibat serangan pandemi covid-19, beberapa perusahaan mulai membalikkan kinerjanya menjadi positif dan menuai keuntungan. Banyak lembaga yang mencoba bertahan dalam hantaman krisis dengan melakukan langkah cepat perubahan strategi. 

Perubahan lingkungan yang bergerak sangat cepat memang perlu direspons dengan langkah tepat dengan penyesuaian yang cepat pula. Salah satu andalan dalam banyak organisasi untuk menghadapi situasi krisis kali ini adalah dengan cepat melakukan transformasi digital.

Di Indonesia juga ada beberapa perusahaan yang melakukan terobosan menangani masalah selama krisis dengan transformasi digital. Dengan dibantu oleh Cybertrend, perusahaan lokal di bidang Data Science dan Artificial Intelligence (AI), beberapa perusahaan bidang barang konsumen (consumer goods dan fast moving consumer goods) dan retail, asuransi, perbankan, bahkan pertambangan dalam melakukan transformasi digital terutama dalam membentuk perusahaan berdasar data (Data-driven company).

Mengingat konsumen telah mengalami perubahan dalam selera dan gaya hidup, antara lain berpindah ke digital selama pandemi ini, maka perusahan-perusahaan consumer goods, FMCG, dan retail perlu terus bisa memantau perubahan agar bisa terus melayani konsumen dengan tepat. Perilaku konsumen bukan saja berpindah ke online tetapi juga sensitif terhadap harga dan makin kurang loyal terhadap suatu brand.

Mengingat potensi melimpahnya data yang dihasilkan perusahaan barang konsumen dan retail berkenaan dengan interaksi dengan konsumen, Cybertrend menggunakan teknologi business Intelligence untuk membuat visualisasi guna mengungkap lebih dalam perilaku konsumen, profile produk laku, dan loyalitas konsumen. Dengan penggambaran tersebut, bisa dibangun sebuah strategi marketing yang paling tepat.  

Juga ada tantangan di sisi logistik mengingat sebaran luas wilayah, infrastuktur jalan maupun kepadatan memerlukan pengantaran yang paling optimum, baik dari segi kecepatan dan kesesuaian kebutuhan gudang sesuai permintaan konsumen.

Dengan menggunakan artificial intelligence, bisa dibangun sebuah pemodelan menggunakan tool platform CtrendMax dengan parameter secara bersamaan mulai dari pemesanan, kesesuaian kendaraan, rute kendaraan terdekat, waktu tempuh tercepat, sesuai waktu kerja supir dan jam operasional toko, sehingga menghasilkan pengantaran yang paling optimum untuk bisnis sekaligus mengurangi interaksi manusia. Otomatisasi ini menyangkut optimasi managemen Vehicle Routing & Scheduling (VRS).

Kelebihan transformasi digital bagi perusahaan barang konsumen dan retail adalah mampu mendapatkan gambaran keadaan, otomatisasi, dan optimisasi. Inilah bisnis model baru yang perlu diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan menyiapkan lebih baik hasil dalam proses bisnis.

Sehingga percepatan transformasi digital bagi perusahaan sudah menjadi kelayakan dalam menghadapi situasi yang cepat berubah dan mengatasi krisis. Hal serupa bagi layanan publik yang dihadirkan oleh pemerintah sudah selayaknya masuk ke digital secepatnya agar secara cepat melayani masyarakat.

Tentu masih banyak pekerjaaan yang perlu dilakukan, baik pemerintah, masyarakat sipil, industry dan pergutuan tinggi agar terjadi keberhasilan transformasi digital. Namun sudah selayaknya dipersiapkan sedini mungkin transformasi digital untuk lebih siap lagi Ketika kondisi ekonomi makro membaik pascapandemi.

Sumber: