Telah terlewat satu minggu aku belum membereskan kamar kos yang kutempati. Rasa-rasanya aku tidak ingin teman-temanku berkunjung kemari sementara waktu, bahkan aku sendiri merasa malas untuk pulang dan beristirahat di kamarku sendiri.

Jika aku pulang ke kamar kos, kemungkinan besar akan kuhabiskan waktu dengan bermain game online atau menonton anime. Padahal aku telah berkomitmen untuk lebih menambah usaha dalam membaca buku. Bukankah begitulah seharusnya mahasiswa yang bercita-cita mengikuti para intelektual pendahulunya?

Namun, kenyataannya ketika aku berada di kamar kos, sebagian besar waktu yang kugunakan hanya untuk bermain game, menonton anime, dan tidur. Pernah aku berkeluh kesah kepada sahabatku yang lain tentu bukan kamu, mengenai permasalahan tersebut dan katanya ia mengerti betul situasi kamarku, ia menyarankanku untuk sedikit lebih rajin membereskan rumah keduaku ini.

“Percaya sama aku, yang kamu butuhkan dari kamarmu itu adalah kebersihan dan kerapian,” begitulah sarannya setelah mendengar keluh kesahku di salah satu warung kopi tempat biasanya para mahasiswa nongkrong.

“Asal kamu tahu saja, kamarmu itu seperti kapal pecah! Padahal kalau sering dirapikan kamarmu akan terasa luas dan memang kamarmu sedikit luas dari kamar kos kebanyakan bukan? Bayangkan, begitu beruntungnya kamu mendapat kamar dengan luas enam kali lima meter hanya perlu membayar tiga juta per tahunnya!” Lanjut sahabatku waktu itu.

Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian, meskipun jika dipandang orang luar kesan yang akan mereka dapatkan adalah bahwa aku mendengarkan dengan acuh tak acuh. Karena aku saat itu mendengarkan sambil merokok dan melihat-lihat sekeliling.

“Ah, iya satu lagi yang kurang, kamu jangan menyimpan kantong plastik tempat sampah di dalam kamar!” Lanjut sahabatku lagi. Untuk menyenangkan hatinya aku pun mengiyakannya dengan mengangguk seperti anak sekolahan yang dimarahin oleh gurunya.

Satu minggu berselang setelahnya yaitu hari ini, situasi kamarku sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Tahukah kamu alasan dibalik mengapa aku tidak membereskan tumpukan kantong plastik yang kujadikan tempat sampah, padahal lubuk hatiku yang terdalam menyetujui saran sahabtku itu? Semua itu karena musim hujan, kamu paham bukan?

Kendatipun demikian, aku tetap merasa bersalah karena kedatanganmu berkunjung kemari tidak kujamu dengan sewajarnya. Jujur aku sangat gembira dengan kedatanganmu kemari, kalau boleh mengatakannya aku merindukanmu. Namun, aku sedikit jengkel karena tidak mendapat kabar kedatanganmu sebelum-sebelumnya sehingga aku tidak menyempatkan diri membersihkan kamar.

Baiklah, kutinggal sebentar membawa tumpukan sampah ini ketempat sampah dan membakarnya. Mengapa harus aku bakar tanyamu? RT tempat kosku berada ini tidak membayar orang untuk membereskan sampah warganya, jadi setiap keluarga bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.

Mengapa tidak aku tinggalkan saja sampahku di pembuangan sampah kosku tanyamu? Di kos ini satu kamar dihitung sebagai satu keluarga, jadi setiap pemilik kamar bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.

Kamu benar, alangkah lebih baik jika kami membentuk pengurus dan bekerja sama mengelola kebersihan, kenyamanan, dan keamanan kosku tercinta ini. Namun, tahukah kamu bahwa hal itu bertentangan dengan ideologi kami yang liberal sedikit anarki.

Tunggulah sebentar disini aku akan membakar sampahku terlebih dahulu. Ingin ikut akau membakar sampah katamu? Baiklah mari ikuti aku. Lihat betapa bersihnya tempat pembuangan sampah umum milik kos kami, disitulah kami membereskan sampah masing-masing, tentu dengan cara membakarnya.

Aku tahu membakar sampah bukanlah solusi yang baik, tetapi mau bagaimana lagi karena membakar sampahlah solusi paling praktis bagi kami. Kamu pasti sudah menyadari bagaimana sepinya kosku. Bahkan, disini hanya ada aku dan kamu. Padahal kamar disini terhitung banyak yaitu dua belas dan semua kamar saat ini telah penuh. Itu semua karena kami sering memiliki kesibukan di luar.

Ah, sial! Mengapa mendung harus datang sekarang, biasanya ia datang setelah dhuhur. Pikirku jika masih pagi hujan tidak akan datang. Kalau dipikir-pikir kebetulan sekali aku terbangun di pagi hari, ternyata sinyal persahabatanku masihlah segar, syukurlah kalau begitu.

Baiklah, mumpung masih mendung dan belum turun hujan mari kita bakar sampah sialan ini dan kembali ke kamar. Apakah tidak takut hujan turun sebelum sampahku terbakar habis tanyamu? Kamu benar, itu termasuk kemungkinan yang masuk akal. Namun, demi kamu aku akan mengambil resiko, hitung-hitung memastikan keberuntungan kita dalam berjudi masihlah tetap seperti dulu.

Apakah saat ini aku masih suka berjudi tanyamu? Saat ini aku tidak pernah berjudi. Bukankah kamu tahu sendiri keberuntungan berjudi hanya datang ketika kita sedang bersama saja? Bukankah kamu juga begitu? Asal tahu saja sebelum-sebelumnya aku pernah membakar sampah saat mendung dan sampah itu tidak terbakar sepenuhnya karena hujan telah turun.

Oh, aku merindukan tawamu ini. Lama kita tidak tertawa bersama saat ini. Sungguh, aku merindukanmu. Hah, Hujan telah datang, sial! Mari kembali kamar. Ayo, jangan tertawa terbahak-bahak seperti itu, kita harus segara kembali ke kamar, hujan ini terhitung deras!

Kalau begini terus aku akan seperti Sisyphus katamu? Sialan!