Baru-baru ini gempar peristiwa yang cukup menarik namun cenderung aneh untuk dibahas. Bagaimana tidak? Peristiwa tersebut terjadi di sebuah masjid dengan menggubah lafaz azan yang semestinya “hayya alash sholah” menjadi “hayya alal jihad”.

Dari sini kita semua paham bahwa peristiwa itu akan sangat menggemparkan, khususnya untuk umat Islam yang dalam hal ini merupakan seruan untuk salat berjemaah.

Dan yang membuat penulis sampai menggelengkan kepala ialah seruan “hayya alal jihad” ditanggapi dengan semangat oleh para jemaah di masjid tersebut.

Akan saya awali pembahasan kali ini mengenai definisi azan dengan sederhana dan mudah untuk dipahami. Azan merupakan seruan untuk memberitahukan awal waktu salat fardhu’ dan ajakan untuk salat berjemaah di masjid.

Azan sendiri cukup unik karena menurut para ahli tidak pernah berhenti berkumandang di belahan bumi mana pun karena secara geografis setiap daerah memiliki perbedaan waktu menunaikan salat.

Jihad sendiri menurut syariat Islam adalah berjuang/usaha/ikhtiyar dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din (atau bisa diartikan sebagai agama) Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Alquran.

Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada umat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi.

Dengan pengertian secara ringkas mengenai jihad di atas dapat disimpulkan bahwa jihad merupakan usaha untuk menegakkan agama Islam sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Lantas yang menjadi persoalan, apakah dalam suatu komunitas masyarakat (negara) yang bermayoritas beragama Islam dan pemerintah sudah menjamin peribadatan dengan khusyu’ lalu apakah perlu jihad dengan kekerasan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh suatu ormas Islam tertentu?

Bukankah Rasulullah saat berada di Madinah hidup berdampingan dengan kelompok Nasrani, Yahudi bahkan kaum kafir penyembah berhala, lalu apakah pernah Rasulullah menyerukan untuk melakukan tindakan kekerasan kepada mereka?

Padahal dalam histori sudah disebutkan bahwa Rasulullah sendiri yang berinisiatif untuk merancang piagam Madinah yang masyhur itu? Bahkan menurut para intelektual, piagam Madinah merupakan bentuk konstitusional pertama dan terlengkap yang mampu menciptakan kondisi kondusif pada masa itu.

Baca Juga: Menyoal Jihad

Dengan pancasila dan UUD 1945 sebagai bentuk dasar negara yang sudah sangat jelas menjamin kehidupan beragama di Indonesia dan apakah masih kurang sehingga beberapa golongan Islam menyerukan jihad melalui azan yang notabenenya sebagai seruan salat?

Maka dari itu sesuai judul, apakah seruan itu untuk beribadat atau untuk politik praktis saja?

Mari kita bahas bersama bahwa hal tersebut memang lumrah terjadi di setiap negara yang memiliki masyarakat beragama Islam bahwasanya tidak dimungkiri terdapat beberapa sindikat Islam ekstremis yang menginginkan negara dengan dasar negara sesuai syariat Islam.

Mereka menjelma cenderung menjadi machiavellian yang dalam dunia akademisi merupakan suatu sebutan cenderung sindiran terhadap seseorang yang meraih tujuannya dengan menghalalkan segala cara.

Hal tersebut pada ujungnya akan membentuk terorisme yang meneror orang-orang nonmuslim. Bagi Islam ekstremis, teror merupakan bagian dari jihad. Padahal efek berkepanjangan dari teror yang mengatasnamakan agama ialah stigma masyarakat umum terhadap agama tersebut.

Dan kini Islam yang sedari awal menumbuhkan kesejukan dan kedamaian dipandang negatif sebagai agama terorisme.

Padahal, penulis sebagai muslim dalam pendidikan Islam sedari kecil hingga dewasa tidak pernah mendapatkan pendidikan untuk meneror orang lain, dan Islam pun melarang hal tersebut karena Islam selalu mengutamakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan suatu masalah.

Perlu digarisbawahi bahwa Islam tidak pernah mengajarkan untuk meneror penganut agama lain karena toleransi dalam Islam di ranah sosial mengutamakan kemanusiaan.

Memang seruan jihad tersebut cukup mengganggu dan meresahkan publik. Bagi penulis, hal tersebut terjadi dan akan terus terjadi jika pemerintah sendiri takut akan seruan jihad yang menyebabkan kegaduhan dan rasa cemas yang dirasakan oleh masyarakat umum serta mengganggu stabilitas negara.

Beruntungnya Indonesia masih memliki ulama yang toleran dan berdakwah dalam kelembutan karena jika tidak ada ulama yang demikian maka Indonesia akan bernasib tragis sama halnya dengan Suriah dan beberapa negara Timur Tengah yang sedang dilanda konflik saudara atas nama agama.

Perlu diketahui juga bahwa seruan “hayya alal jihad” yang sekarang sedang viral perlu ditindaklanjuti dengan tegas jika tidak ingin merasakan kembali pemberontakan DI/TII yang terjadi saat awal kemerdekaan.

Maka dari itu penulis mengimbau kepada saudara seiman mari kita tunjukkan Islam yang benar-benar “Rahmatan Lil Alamin” sehingga Islam mampu menjadi jawaban terhadap permasalahan yang terjadi.

Dan bagian akhir, sesuai sudut pandang penulis seharusnya dalam era modernis saat ini, muslim berjihad dalam segi pengembangan diri sehingga mampu bersaing dalam segi perdagangan, teknologi bahkan sains sehingga Islam tidak lagi dipandang sebagai agama yang membawa kekerasan, namun agama yang membawa kemajuan peradaban.

Jadi, "hayya alal jihad" aeruan beribadat atau seruan politik?