Arsiparis
6 bulan lalu · 91 view · 3 min baca menit baca · Keluarga 37815_44126.jpg

Membacalah di Sekitar Anak-Anak Kita

Kebiasaan membaca memang perlu ditanamkan sejak kecil. Namun, apakah hanya perlu dengan menyuruhnya untuk belajar membaca sejak kecil maka kebiasaan membaca itu tumbuh dengan sendirinya? Tentunya pertanyaan ini masih perlu kita telisik kembali kebenarannya.

Bukankah sejak kecil kita sudah mulai rmembaca? Akan tetapi adakah di antara kita yang sudah keranjingan untuk membaca? Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang mempunyai gairah tinggi untuk membaca, padahal kita sudah mengenal baca tulis sejak kecil.

Membaca buku jenis apa pun, sastra, tips dan trik, motivasi maupun pengetahuan eksakta yang rumit perlu dibiasakan. Pertama kalinya tentu harus dipaksakan pada diri sendiri dengan membaca buku yang kita suka. Lambat laun itu akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin menjadi suatu ketagihan. Bukankah segala jenis ketagihan dimulai dari yang namanya coba-coba?

Seseorang tidak akan serta-merta keranjingan membaca bila orang tersebut tidak mempunyai kebiasaan membaca. Nah, kebiasaan inilah yang perlu dipupuk melalui bacaan-bacaan yang menarik untuk kita. Unsur menarik-tidaknya sebuah bacaan, tergantung dari di mana passion Anda, tentunya masing-masing orang berbeda-beda.


Kembali ke persoalan menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak kita. Kebiasaan itu tidak-serta merta ditumbuhkan hanya karena sejak usia pra-sekolah mereka sudah diajarkan untuk membaca. Ada yang lebih penting dan mengena daripada sekadar mengajarinya membaca, yaitu lingkungan tempat ia tumbuh harus selalu beraroma bacaan, bacaan, dan bacaan.

Lingkungan mempunyai peran yang tidak kecil untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak. Bisa kita baca pada biografi penulis-penulis terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri, bahwa kebanyakan mereka dibesarkan di lingkungan yang menstimulasi mereka untuk mencintai bacaan.

Pada saat masih dalam tahap usia dini, mereka selalu diliputi buku-buku sehari-harinya. Mereka pun membaca tanpa ada rencana atau tujuan apa. Mereka menikmati kalimat dan kata-kata yang pada akhirnya melekat di alam bawah sadarnya.

Soekarno, Hatta, Gus Dur, dan Habibie adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang sejak kecil menggemari membaca buku. Mereka pun meninggalkan koleksinya menjadi perpustakaan-perpustakaan yang bisa dipakai hingga sekarang koleksi bukunya. Garis lurusnya adalah mereka semua tumbuh dari lingkungan keluarga pecinta ilmu.

Lingkungan itu adalah keluarga sebagai pencetus utama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada seorang anak. Tentunya sangat tidak mungkin ini bisa terjadi untuk memunculkan gairah membaca pada anak-anak kita jika di lingkungan keluarganya tak ada buku bacaan maupun teladan dari kedua orangtuanya.

Ketersediaan bahan bacaan bisa diusahakan untuk selalu menyisihkan anggaran rumah tangga untuk membeli buku-buku. Anak anak suka buku bergambar, maka dari itu sediakanlah buku yang seperti itu di sekitar mereka. Jangan menyuruhnya untuk membaca, tapi mulailah dari diri Anda sendiri.

Bacalah buku cerita bergambar itu dengan suara yang bisa ia dengar. Membacalah terus di sekitar mereka dan Anda akan terkejut ketika mereka suatu saat akan berlagak seperti Anda membaca. Itu semua adalah hasil dari apa yang ia dengan dan lihat serta rasakan setiap hari akibat berinteraksi dengan buku dan membaca.


Keteladanan orangtua menjadi lebih penting karena anak-anak lebih bisa menangkap apa yang ia dengar dan lihat daripada sekadar menerima perintah dan perintah. Kecenderungan meniru lebih mudah diaplikasikan anak anak dalam perilaku sehari harinya.

Mulailah membaca di sekitar mereka. Kalau perlu, membacalah dengan suara yang bisa didengarkan oleh anak-anak Anda. Membacalah terus dan terus di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan yang bisa Anda terapkan adalah mengaji dengan suara keras di sekitar mereka. Lambat laun mereka akan melihat kebiasaan kita dan akan mencoba menirunya dan itulah saat terbagus kita menangkap momen antusias mereka untuk belajar membaca.

Keteladan ternyata lebih manjur untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak anak kita. Beberapa contoh di atas adalah hal kecil yang penulis alami dan lakukan di rumah. Tentu akan sangat tidak etis bila kita sebagai orangtua menyuruh anak-anak kita untuk gemar membaca namun mereka tanpa pernah sekalipun melihat orang tuanya sedang menyendiri sibuk menekuni bahan bacaan.

Anak anak perlu bukti konkret agar ia mau melakukan sesuatu. Otak mereka tak mudah menangkap ide  yang tidak konkret; harus jelas dan nyata.

Nah, sekadar tips untuk kita memulai memberi teladan, bila kita tertarik bidang ekonomi, bacalah buku ekonomi. Kalau tertarik di bidang filsafat, bacalah juga buku filsafat. Semua tergantung Anda. Bidang apakah yang membuat Anda antusias, itulah passion Anda.

Membacalah di sekitar mereka. Berikan mereka pemandangan bagaimana kita memanfaatkan waktu dan menikmati saat-saat kita sedang asyik membaca. Apakah Anda mau mencoba?


Artikel Terkait