Banyak pandangan ketika mendengar kata antropologi. Ada yang berpandangan bahwa antropologi merupakan ilmu yang mempelajari proses evolusi manusia, dari manusia primitif menuju ke manusia modern saat ini. Ada yang beranggapan bahwa antropologi mempelajari keragaman manusia secara fisik. Secara etimologi, antropologi berasal dari bahasa Yunani anthropos  yang berarti manusia atau orang dan  logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi, antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang manusia.

Dalam antropologi, manusia dipandang sebagai sesuatu yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi mengkaji manusia dalam kedudukannya sebagai individu, masyarakat, suku bangsa, perilaku, dan kebudayaannya. Fokus kajian antropologi adalah manusia dan budaya yang dihasilkannya. Ruang lingkup antropologi sangatlah luas, hingga pada akhirnya melahirkan cabang-cabang keilmuan dalam antropologi. Cabang-cabang tersebut pada akhirnya dibagi menjadi 2 cabang besar yakni, Antropologi Fisik/Biologi dan Antropologi Budaya.

Kebudayaan merupakan pilar dan jati diri bangsa. Hal tersebut acapkali mendengung di telinga ketika mendengar sambutan, pidato, opini, ataupun orasi yang berbicara tentang kebudayaan atau budaya. Pada tulisan ini, penulis mencoba menghubungkan wujud-wujud kebudayaan tersebut dalam tradisi sedekah laut yang masih dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai sedari dulu hingga saat ini. Sebenarnya apa itu kebudayaan atau budaya? Apa pengertian budaya menurut antropologi? Apa saja wujud-wujud kebudayaan dalam masyarakat? Apa itu sedekah laut? Bagaimanakah hubungan wujud-wujud dari kebudayaan dengan tradisi sedekah laut? Apakah wujud-wujud budaya dan tradisi sedekah laut masih relevan untuk diterapkan di zaman modern ini?

Pengertian Budaya

Kata kebudayaan berasal dari kata Sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Maka dari itu budaya adalah penggaungan dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Istilah kebudayaan atau culture (dalam bahasa Inggris) berasal dari kata kerja bahasa Latin yakni  colere  yang berarti bercocok tanam atau cultivation. Cultivation atau kultivasi yang berarti pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius yang darinya diturunkan istilah cultus atau cult.

Pengertian kebudayaan paling awal diutarakan oleh Edward B. Tylor pada tahun 1871. Menurutnya kebudayaan ialah keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat, dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut J.W.M. Bakker istilah “budaya” berasal dari bahasa Sanskerta dari abhyudaya. Kata tersebut mengandung arti hasil baik, kemajuan, kemakmuran, yang serba lengkap sebagaimana dipakai dalam Kitab Dharmasutra dan dalam kitab-kitab agama Buddha untuk menunjukkan kemakmuran, kebahagiaan, kesejahteraan moral dan rohani, maupun material dan jasmani, sebagai kebalikan dari Nirvana atau penghapusan segala musibah untuk mencapai kebahagiaan di dunia.

Menurut ilmu antropologi, “kebudayaan” adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Menurut para ahli antropologi seperti halnya, C. Wissler, C. Kluckhohn, A. Davis, atau A. Hoebel, kebudayaan  atau tindakan kebudayaan adalah segala tindakan yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behavior). Proses belajar inilah yang mendasari perilaku dan sikap manusia bahwa bukan hidup untuk belajar, melainkan belajar untuk hidup.

Lebih jauh lagi, kebudayaan juga dapat digunakan sebagai cerminan diri dan karakter manusia dalam proses realisasi di kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan juga mewadahi keseluruhan perilaku dan karya yang dihasilkan oleh manusia. Hal inilah yang menjadi dasar bahwasanya kebudayaan bersifat dinamis, karena senantiasa berkembang mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan sejarah manusia.

Tiga Wujud Budaya

Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam proses perkembangan budaya, budaya atau kebudayaan memiliki tiga dimensi wujud, diantaranya ialah :

Pertama, kebudayaan sebagai suatu ide atau gagasan. Kebudayaan sebagai sebuah ide memiliki sifat yang abstrak. Hal ini karena kebudayaan masih dalam tahap pemikiran dan belum tertuang secara nyata (tak bisa dilihat dan diraba) dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan wujud pertama ini sering disebut sebagai adat tata kelakuan. Hal ini berarti kebudayaan berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberikan arah bagi kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan pertama ini sering dikaji dan dianalisis oleh para sarjana ilmu filologi dan ilmu kesusastraan.

Wujud kedua dari kebudayaan ialah wujud aktivitas sosial manusia. Wujud ini sering disebut sebagai sistem sosial mengenai kelakuan manusia yang berpola. Sistem ini terdiri dari aktivitas manusia dalam berinteraksi satu dengan yang lain yang hari demi hari memiliki suatu kesamaan dalam pola tertentu dan berdasarkan adat tata kelakuan. Sistem ini bersifat konkret sebab berkenaan dengan kehidupan sehari-hari yang dapat diobservasi dan didokumentasikan. Wujud kedua dari kebudayaan ini sering dikaji oleh para sosiolog, antropolog, dan psikolog.

Wujud ketiga dari kebudayaan ialah kebudayaan fisik atau menghasilkan suatu karya. Wujud ini yang paling konkret dari semua wujud kebudayaan karena merupakan hasil fisik (dapat dilihat, diraba, dan didokumentasikan) dari serangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat. Pada wujud ketiga dari kebudayaan ini sering dikaji oleh para arkeolog dan sejarawan.

Sedekah Laut

Sedekah laut berasal dari kata sedekah yang berarti memberikan sesuatu yang dilakukan di daerah pesisir laut. Sedekah laut merupakan bentuk tradisi masyarakat pesisir pantai sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasil tangkapan yang diperoleh. Tradisi ini juga merupakan bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas keselamatan para nelayan saat bekerja sepanjang tahun. Ada banyak sebutan untuk tradisi ini untuk setiap daerah, mulai dari Jolen di daerah Cilacap, Hajat Dalem Labuhan di daerah Yogyakarta, dan Sedekah Laut itu sendiri yang tersebar di seluruh pesisir pulau Jawa.

Tradisi sedekah laut telah diwariskan oleh leluhur kita. Pada zaman prasejarah masyarakat Nusantara yang beragama Kapitayan sudah menerapkan tradisi  ini. Dulunya, alasan dilakukannya tradisi sedekah laut ialah sebagai ritual bahwa telah terjadi perubahan siklus kehidupan dalam masyarakat. Mereka menggunakan aneka benda dan makanan sebagai simbol penghayatan, rasa syukur, dan pengharapan akan keselamatan kepada Tuhan. Peristiwa ini menunjukkan bahwasanya manusia prasejarah memiliki religiusitas yang kental. 

Pendapat ini senada dengan pendapat Berger bahwa manusia ialah makhluk religius yang memandang laut dan sungai sebagai pembanding antara alam yang suci dengan kehidupan di dunia yang tak selalu suci. Menurut Berger, manusia tak bisa menghindar dari alam dan kekuatan adikodrati yang tak terbatas, sebab dari sanalah tercipta dunia simbol yang biasa kita temukan pada relief candi-candi di Nusantara dan pelbagai tradisi yang masih diterapkan hingga saat ini.

Apabila kita merunut sejarah, tradisi sedekah ternyata sudah dilakukan oleh bangsa Mesir, Babilonia, Palestina, dan Syria. Masyarakat kala itu sering berkumpul dan berpawai untuk melarung sesaji dan berdoa di sungai atau laut. Semua tradisi tersebut dipersembahkan kepada para dewa. Hal ini disampaikan oleh Herodotus dari Yunani (484-425 SM) ketika melakukan pengembaraan ke daerah-daerah tersebut. Hingga kini, tradisi sedekah laut masih rutin diselenggarakan di daerah-daerah pesisir laut setiap tahunnya.

Relevansi Wujud Kebudayaan dalam Sedekah Laut

Dalam tradisi sedekah laut terdapat wujud-wujud kebudayaan di dalamnya. Wujud pertama dari tradisi sedekah laut ialah nilai penghormatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang Pencipta (nilai ketuhanan). Penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa (nilai ketuhanan) menjadi sebuah ide dan nilai yang luhur. Sejak sediakala paham ketuhanan sudah mengakar dalam budaya dan keyakinan masyarakat. Kendati demikian, kata ketuhanan belum secara eksplisit disebutkan oleh masyarakat kala itu. Masyarakat menyebut Tuhan dengan beragam penghayatan dan nama. Untuk daerah Jawa, masyarakat menyebut nama Tuhan dengan sebutan Sang Hyang atau Sang Hyang Widhi Wasa. 

Penerapan nilai ketuhanan dalam masyarakat telah dipikirkan dan digagas oleh para leluhur bangsa Indonesia dan diwariskan hingga saat ini. Tak hanya perihal penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedekah laut juga mencerminkan ucapan syukur masyarakat pesisir pantai atas segala yang telah Tuhan berikan bagi umat manusia. Nilai-nilai ketuhanan yang telah diwariskan oleh nenek moyang ini masih sangat relevan hingga saat ini.

Wujud kedua dari sedekah laut nampak dalam tata urutan tradisi sedekah laut. Tata urutan inilah yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat sedari dulu hingga saat ini. Hal ini seakan menjadi kebiasaan turun-temurun dilakukan oleh para leluhur. Pada prosesi tata cara tradisi sedekah laut terdapat banyak sekali sistem sosial yang telah diterapkan, seperti halnya kerja bakti dalam mempersiapkan acara, gotong-royong, berelasi dan berkomunikasi satu dengan yang lain, saling membantu dalam melaksanakan perarakan sesaji, ritual juga pembacaan doa yang dilakukan oleh segenap masyarakat di pesisir pantai. Pelaksanaan tradisi sedekah laut yang ada saat ini bukan semata ada begitu saja. Hal ini didasari atas warisan yang telah dilakukan oleh para leluhur sebelumnya. Berdasarkan kebiasaan tersebut terciptalah suatu sistem sosial yang masih terpelihara sampai saat ini.

Wujud kebudayaan yang ketiga dari tradisi sedekah laut ialah sesaji yang terdapat dalam tradisi sedekah laut. Sesaji dalam sedekah laut merupakan wujud yang secara konkret ada dan dapat dilihat, diraba, dan didokumentasikan. Sesaji-sesaji dalam tradisi sedekah laut ialah, replika patung ikan, jangkar, dan kapal, tumpeng, air suci, ikan-ikan hasil laut, bumbu megana, kembang setaman, telur, dan kepala kerbau atau kambing. Sesaji-sesaji inilah yang menjadi wujud konkret dari kebudayaan sedekah laut. Wujud-wujud ini menjadi warisan yang masih dilakukan dan masih sangat relevan bagi hidup masyarakat. Sebab dalam wujud konkret tersebut tersisip makna tersirat yang telah ditanamkan oleh para leluhur. Sesaji-sesaji tersebutlah yang menjadiartefak atau wujud ketiga dari tradisi sedekah laut.

Kesimpulan

Kebudayaan merupakan cerminan diri dan karakter manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan dapat mewadahi keseluruhan perilaku dan karya yang dihasilkan oleh manusia. Kebudayaan merupakan warisan turun-temurun umat manusia berdasarkan kebiasaan yang selalu dilakukan sedari dulu.

Dalam pandangan antropologi kebudayaan merupakan sistem gagasan dan tindakan yang menjadi milik manusia yang diperoleh dengan cara belajar. Hal ini tak senada dengan realita masyarakat dewasa ini. Kebudayaan akan ssenantiasa lestari apabila dipelajari, lalu bagaimana kalau masyarakat dewasa ini kurang tertarik untuk mempelajari kebudayaan lokal, baik itu dari segi nilai maupun wujud konkret berupa artefak seperti tarian dan pusparagam seni dan kebudayaan daerah lainnya. Sangatlah penting bagi pemerintah untuk menggalakkan promosi kebudayaan dan memberikan suntikan penyemangat bagi masyarakat khususnya kaum muda, untuk mau mempelajari dan mencintai kebudayaan daerahnya, bukan malah memilih untuk membumikan budaya asing.

Bagi penulis, sangat perlu untuk memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai  wujud pertama kebudayaan (ide dan nilai kebudayaan) secara lebih mendalam, bukan sekadar wujud ketiga yang kelihatan. Sebab perkembangan ilmu dan pengajaran yang sesat dan tak bertanggung jawab juga disinyalir memicu menurunnya kecintaan masyarakat akan budaya lokal. Hal ini sudah terjadi di Bantul, Yogyakarta ketika sekelompok oknum melakukan perusakan terhadap upacara sedekah laut. Para oknum perusak tersebut menilai tradisi sedekah laut sebagai perbuatan syirik dan mengandung ajaran sesat dengan paham sinkretisme.

Kebudayaan merupakan pondasi bangsa. Lewat kebudayaan sedekah laut inilah bangsa Indonesia terkhusus masyarakat di daerah pesisir pantai menanamkan paham ketuhanan yang merupakan identitas moral dan religiusitas bangsa Indonesia. Melalui sedekah laut pula masyarakat ingin terus melestarikan warisan leluhur. Seperti halnya ajaran budaya Jawa, ajining diri saka lati, ajining raga saka busana, ajining bangsa saka budaya yang berarti harga diri seseorang dari perkataannya, harga diri badan dari pakaiannya, dan harga diri bangsa dari budayanya. Maka dari itu, sangatlah penting untuk mengenalkan wujud-wujud budaya dalam setiap tradisi dan kebudayaan kepada masyarakat, serta tak jemu-jemu untuk mempromosikan dan melestarikannya kepada khalayak ramai dewasa ini dan yang akan datang.