Sepuluh Tahun yang Lalu

Kukenali kulit paling luarmu
Lewat kerut dahi
dan bibir yang meledakkan senyum
semua tampak begitu istimewa
kau jajakan obrolan hangat di meja
juga di pesan singkat
berseling kabar dan haha-hehe
semua berkesan begitu istimewa

kini, sudah sepuluh tahun
tak ada obrolan hangat
atau pesan singkat
semua sudah disikat
sejak kita sama-sama berangkat.

2021

 

Foto Kenangan

Kulihat lagi (tanpa sengaja) foto kenangan itu. Kulihat-lihat memang kau dan aku tak berjodoh. Seperti reranting dan dahan pohon. Kita koyak. Lalu berguguran seperti daun kering. Jodoh kita adalah tanah. Bersatu dan membusuk dengan bumi seperti jalan terbaik tuk dilalui. Atau berakhir di keranjang sampah dan dibakar bersama limbah rumah tangga? Apa pun dan bagaimanapun kita jadi seperti angin. Tak ada rupa. Tak ada suara. Tapi pernah menyapa (atau bahkan rindu?). Andai kau tahu sunyiku saat itu.

2021


Membaca Surat

Pagi tadi kubuka lagi surat itu
Kubaca satu demi satu pesan singkat
Pada sebuah ponsel pintar
Kau kirimkan sejumlah pesan
Aku tak bisa membacanya
Karena hari Minggu aku sibuk
Sibuk mengubur segala bentuk
Pada surat yang kau kirimkan
Bentuk itu melebur remuk
Larut dalam pekat
Dan kita telah lama bersekat.

2021


Tak Mengenal Dirimu

Sebetulnya kau seperti siut angin. Aku ingin selalu sejuk bersamamu. Tapi aku tak begitu mengenal dirimu. Dirimu yang ada di diriku. Mengapa begini dan begitu. Segala gelap kita pasangi lampu. Terang meski remang. Aku belum juga mengenali wajahmu. Wajahmu yang ada pada wajahku. Yang tampak berkilat cahayanya. Yang seperti sengaja kuredupkan. Segala sunyi kita bunyikan. Suara-suara yang redam, seperti suaramu yang dihantar angin ke telingaku. Nasib yang hening. Bersama keheningan itu kita berjalan. Menapaki setiap gelombang jalan aspal yang terjal. Aku tak tahu. Aku tak mengenal dirimu.

2021


Buku Kecil

Pada buku kecil lusuh itu, kita tuliskan angan-angan masa depan. Kau gambarkan aku sebuah perahu. Bahtera Nuh, tidak, lebih kecil dari itu. Di buku itu juga kutuliskan sajak-sajak buatmu. Sajak yang tidak pernah selesai, sebab tintaku macet. Baru kutulis judulnya saja, kau tampak gembira. Tapi segera kuhapus lagi. Kau gambarkan aku lagi, kali ini sebuah mobil van yang begitu keren. Aku tak mengerti, kau pun enggan menjelaskan maksudnya. Cari saja sendiri jawabannya, katamu. Bertahun-tahun aku mencarinya di keheningan. Setiap kesendirianku menjadi ruang paling dalam untuk menggali maksud yang kau inginkan itu. Aku memang tak pernah mengerti. Ketidakmengertianku itulah yang bikin kamu juga sunyi. Kita sama-sama menyendiri lagi.

2021


Kita dan Jendela

Ada kisah biasa-biasa saja antara aku, kau, dan jendela itu. Suatu waktu pernah kau melewatinya tanpa menghiraukanku. Aku memandangi langkah kakimu. Waktu pelan-pelan rasanya ingin kuhentikan saja. Tapi, ini bukan dongeng sihir atau film fiksi yang menggelikan. Jendela yang menyekat kita begitu jauh. Rasanya, dinding-dinding yang berjajar rapi di antaranya tampak biasa saja. Tak membuatku risau. Berbeda dengan jendela itu. Jendela yang saban pagi membawa bayanganmu melintas di pikiranku. Jendela yang saban waktu menyuguhkanku senyum dan tawa yang tak bisa kubawa pulang. Esok hari, sebelum kau lewat lagi, akan kugelar kain tebal untuk menutup jendela itu. Warnanya hitam pekat. Bahkan, bayanganmu pun tak akan mampu menembusnya. Dan benar saja, aku kehilangan. Kehilangan jendela itu.

2021


Suara Bunga yang Tak Kaudengar

Pernahkah kau dengar suara menguar dari sekuntum bunga?
Bunyinya begitu harum, seperti baunya
Tapi kau tak akan bisa mendengarnya
Kau hanya akan bisa merasakannya
Mendengarnya saat kau bersendiri, saat kau berdua dengannya
Siram ia dengan air yang segar dari bak atau keran
Ia akan memberikan senyumnya yang hangat
Kepadamu, orang yang bakal penasaran dengan suaranya
Sekarang cobalah dengar, ia bernyanyi
Tapi percuma, bahkan lambai tangannya pun
Tak akan kaulihat dengan jelas
Ia hanya akan muncul saat kau bersendiri
Berdua dengannya, dengan repih-repih
Masa lalumu yang kandas di antara bunga tawa
Lalu menguar wangi duka.

2021

 

Tujuh Ratus Detik

Media sosialmu seperti membawaku pulang ke masa dulu. Beragam kenangan yang tak bisa dibilang indah itu, memanggil-manggil lagi namaku. Nama yang mungkin tak harusnya ada di hidupmu yang sebelumnya damai-damai saja. Tujuh ratus detik berlalu. Kata-kata menguar tak memberi jalan keluar. Labirin itu membawa kita berputar. Alih-alih menyimpannya dalam buku album kenangan, sepertinya lebih baik ditanam di pekarangan. Siapa tahu bakal tumbuh jadi bunga yang bermekaran. Atau biarkan saja mati dipapar terik matahari dan kemarau musim yang panjang. Tujuh ratus detik menjadi tujuh ratus tahun yang membawa kita kembali ke dunia tanpa kata.

2021